Ayatullah Khamenei: Pendukung Syariati Lebih Menzaliminya Ketimbang yang Kontra!
-
Ali Syariati
Ali Syariati meninggal dunia dini hari 29 Khordad 1356 Hs atau bertepatan dengan tanggal 19 Juni 1977 di Southampton, Inggris, kira-kira sebulan setelah ia keluar dari Iran.
Banyak hal yang dapat dibicarakan tentang pribadi Ali Syariati sebagai salah satu cendekiawan paling berpengaruh di Iran. Mereka yang pro dan kontra seringnya terlalu berlebih-lebihan saat mengulas pribadi dan cara berpikirnya.
Ayatullah Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran termasuk pribadi yang mengenal Ali Syariati selama bertahun-tahun, bahkan sebelum pergi ke Perancis. Beliau dalam wawancaranya dengan surat kabar Jomhouri Eslami pada 30 Khordad 1360 Hs yang bertepatan dengan tanggal 20 Juni 1981, berbicara panjang lebar tentang pribadi Ali Syariati. Menurut beliau, Syariati tokoh yang mazlum dan mereka yang pro dan kontra dengannya sama-sama bertanggung jawab terkait masalah ini.
Sekaitan dengan peringatan wafatnya Ali Syariati, wawancara Ayatullah Khamenei dengan koran Jomhouri Eslami dapat membuka kembali lembaran baru untuk mengenal lebih dekat Ali Syariati.
Anda punya hubungan persahabatan dengan Ali Syariati dan mengenalnya dari dekat. Sudikah Anda berbicara lebih jauh tentang kepribadiannya?
Ayatullah Khamenei: Bismillahirrahmanirrahim
Tidak masalah buat saya membicarakan pribadi Syariati dan menjelaskan sosoknya dari pelbagai dimensi yang untuk berapa lama menjadi pusat pembicaraan dan banyak kontroversi mengenainya. Perkenalan saya dengan pribadi Ali Syariati akan saya sampaikan sesuai dengan waktu yang ada.
Berbeda dengan gambaran kebanyakan orang, menurut saya, Syariati pribadi yang terzalimi dan penyebabnya adalah mereka yang mendukung dan menolaknya. Yakni, merupakan keanehan zaman dan boleh dikata keajaiban Syariati adalah kubu yang pro dan kontra bersama-sama membuat pribadi ini menjadi semakin misterius dan inilah kezaliman terhadapnya.
Mereka yang anti Syariati hanya bersandar pada kesalahan-kesalahan Ali Syariati, sehingga tidak lagi melihat hal-hal positif yang dimilikinya.
Jelas, Syariati punya kesalahan-kesalahan. Saya tidak pernah mengklaim bahwa kesalahan-kesalahan itu kecil, tapi saya ingin mengatakan bahwa di samping kita dapat menunjukkan sejumlah kesalahannya, tapi Syariati juga punya kelebihan dan keindahan tersendiri.
Dengan demikian, termasuk perbuatan zalim bila kita tidak mau melihat kelebihannya, hanya dikarenakan kesalahan-kesalahan yang dimilikinya.
Saya tidak lupa bahwa di puncak perjuangan atau dapat dikatakan periode terakhir dari kontroversi terkait Syariati, Imam Khomeini ra dalam sebuah ucapannya, tanpa menyebut nama, menyinggung kondisi Syariati dan penolakan yang terjadi di sekitarnya. Kaset pembicaraan Imam Khomeini ra waktu itu tiba di Iran dari Najaf dan sangat bermanfaat dalam meredam api perselisihan.
Waktu itu, tanpa menyebut nama Syariati, Imam menjelaskan, “(Kira-kira seperti ini ucapan beliau) Tidak benar bila hanya dikarenakan empat kesalahan yang terdapat di bukunya, kita harus menghabisinya.” Pernyataan ini tepat menunjukkan sikap yang benar terkait siapa saja, bukan hanya pada pribadi Syariati.
Mungkin saja ia salah dalam sebagian masalah Ushuluddin dan prinsip pemikiran Islam seperti Tauhid, Nubuwwah dan atau masalah yang lain, tapi hal itu tidak berarti kita hanya mengenalnya dengan kekurangan ini saja.
Pada pribadi Syariati banyak kebaikan dan pada kesempatan ini saya tidak akan menguraikannya. Karena saya telah berbicara di wawancara yang lain tentang kelebihan Ali Syariati.
Ini terkait dengan mereka yang anti Syariati.
Sementara kezaliman yang yang dilakukan para pendukung Syariati terhadapnya tidak kurang dari kezaliman yang dilakukan para penentangnya, bahkan lebih dahsyat. Alih-alih menjelaskan kelebihan-kelebihan Syariati, mereka justru berbaris menghadapi para penentangnya. Mereka berusaha mengeluarkan pernyataan tentang Syariati seakan-akan ia sebuah entitas mutlak.
Mereka berusaha untuk tidak menerima kesalahannya, bahkan yang paling kecil sekalipun. Yakni, setiap perbedaan pendapat antara Syariati dan ulama atau dengan para pemikir dan filsuf Islam tidak pernah dijelaskan dalam bentuk dukungan dan pembelaan terhadap Syariati. Pada hakikatnya, Syariati dijadikan tameng untuk menyerang ulama dan atau seluruh pemikir Islam dan filsafat Islam.
Sikap seperti ini cukup untuk mendapat reaksi lebih keras menentang Syariati. Mereka yang menolaknya semakin bersemangat untuk menentangnya.
Itulah mengapa, saya melihat orang-orang yang berbicara atas nama Syariati dan berusaha membelanya, pada intinya membantu agar Syariati semakin terisolir.
Sangat disayangkan atas nama menyampaikan pemikirannya atau dengan nama pemublikasian karya-karyanya atau dengan nama memperjuangkan garis dan jalannya, telah terjadi banyak bencana bagi negara. Saya tidak lupa bahwa para pembunuh dan teroris bernama kelompok Furqan juga mengaku termasuk garis Syariati.
Apakah Syariati benar-benar pribadi yang menginginkan teror terhadap orang seperti Syahid Muthahhari? Syariati sendiri selalu menyebut dirinya pecinta Muthahhari, bahkan memperkenalkan dirinya sebagai murid Muthahhari. Saya sendiri mendengar darinya tentang masalah ini.
Di sisi lain, saat ini ada orang-orang dengan kecenderungan politik tengah berhadap-hadapan dengan kelompok atau partai lain yang menisbatkan dirinya kepada Syariati. Sebagian dari mereka ini adalah keluarga Syariati.
Pada hakikatnya, mereka telah menyalahgunakan nama dan kehormatan Syariati untuk tujuan politik. Pendukung seperti ini, sudah barang tentu, merusak pribadi Syariati dan tidak kurang dari yang dilakukan para penentang Syariati.
Mereka yang kontra dengan pemikiran Syariati dapat dicerahkan dengan penjelasan. Dengan menjelaskan sejumlah kelebihan Syariati, mereka dapat dipuaskan. Bila di tengah-tengah mereka yang kontra ini ada yang memang memusuhinya, orang itu dapat diisolir, tapi tidak demikian dengan mereka yang mendukungnya. Tidak ada cara yang dapat dilakukan untuk menjauhkan mereka dari jiwa Syariati.
Dengan demikian, saya meyakini bahwa citra Syariati di antara mereka yang pro dan kontra dengannya telah terzalimi. Bila saya mampu untuk melenyapkan kezaliman yang telah dilakukan terhadapnya, sebagai seorang teman dan sahabat lama, saya akan melakukannya.
Sebagian orang meyakini bahwa para tokoh biasanya setelah jauh atau pasca meninggalnya ditampilkan secara berlebih-lebihan atau dianggap legenda. Apakah terkait Ali Syariati, menurut Anda juga demikian dan apakah pribadinya telah dipengaruhi kondisi yang seperti ini?
Ayatullah Khamenei: Saya mengakui bahwa sebagian dari pribadi Syariati disampaikan secara berlebih-lebihan dan tampak seperti mitos di tengah masyarakat. Sebaliknya, sebagian dari pribadi Syariati masih belum terungkap.
Boleh jadi mereka memperkenalkan Syariati sebagai seorang filsuf, pemikir besar, penggagas pemikiran progresif Islam. Sebagaimana telah Anda singgung di pertanyaan ini, semua ini terlalu berlebih-lebihan dan tampak seperti mitos. Pengungkapan seperti ini tidak tepat bagi Syariati.
Sebaliknya, Syariati sebuah pribadi yang bersikeras menindaklanjuti pemerintahan Islam. Ia termasuk tokoh yang tersiksa dengan menyaksikan Islam hanya sebuah ide dan melupakan Islam sebagai sebuah ideologi dan undang-undang sistem kemasyarakatan. Syariati berusaha keras agar Islam menjadi sebuah pemikiran yang dapat menciptakan kehidupan, sebuah sistem sosial dan sebuah ideologi solutif bagi kehidupan manusia.
Ini satu dimensi dari pribadi Syariati yang masih belum terungkap dan tidak ada yang membahas dimensi ini.
Perhatikan, bila satu dimensi dari Syariati ditampilkan oleh satu kelompok masyarakat secara berlebih-lebihan, maka sebagian lain dari dimensi kepribadiannya bahkan tidak diketahui dan gelap.
Dengan demikian, saya dapat menjawab pertanyaan Anda bahwa benar di sebagian dari pribadi Syariati telah terjangkiti penyakit ini. Tapi sekali lagi tidak secara keseluruhan. Karena sebagian dari dimensi kepribadiannya yang seharusnya diketahui masih belum terungkap.
Peran Ali Syariati sebagai penggagas apa? Apakah terkait masalah ini, Syariati dapat dibandingkan dengan Iqbal Lahore dan Sayid Jamaluddin?
Ayatullah Khamenei: Benar, Syariati seorang penggagas. Tidak ada yang meragukan hal ini. Ia penggagas Islam dengan bahasa budaya yang dikenal generasi baru.
Sebelum Syariati sudah banyak tokoh yang memahami pemikiran progresif Islam sebagaimana yang dipahami Syariati. Namun mereka tidak berhasil menjelaskan apa yang mereka pahami dalam bentuk istilah dan pentakbiran bagi generasi kita saat ini dan atau lebih tepat saya mengatakan generasi semasa Syariati adalah generasi yang terbentuk dari karisma Syariati. Tokoh-tokoh sebelumnya tidak berhasil menjelaskan hakikat Islam ini dengan bahasa generasi sezamannya. Mereka tidak mampu menjelaskan apa yang diinginkannya agar dapat dipahami generasi di masanya.
Syariati penggagas ide hal-hal terbaru yang diungkap oleh Islam progresif, sehingga dapat menjawab pertanyaan generasi waktu itu dan mencerahkan poin-poin yang masih belum jelas. Tapi Syariati tidak dapat dibandingkan dengan Sayid Jamaluddin atau Iqbal. Siapa saja yang berusaha membandingkannya berarti menunjukkan ia tidak mengenal Iqbal dan Sayid Jamal.
Kebetulan di salah satu pertemuan peringatan Ali Syariati, mungkin empat puluh harinya, seorang tokoh dari Mashad berpidato dan menyebut Syariati bahkan lebih hebat dari Sayid Jamal, Kawakibi dan Iqbal. Tidak hanya itu, ia bahkan menyebut Syariati tidak dapat dibandingkan dengan mereka.
Pada waktu itu juga muncul protes di benak mereka yang mengenal dengan benar Ali Syariati. Karena ingin memuji Ali Syariati tidak bermakna menghina para pelopor pemikiran Islam progresif.
Sayid Jamal adalah tokoh Islam pertama yang mengutarakan ide kembali kepada Islam. Tokoh yang memunculkan masalah pemerintahan Islam, kebangkitan dan pengutusan baru Islam di dunia.
Apa yang dilakukan Sayid Jamal berhasil menciptakan tiga arus pemikiran progresif Islam;
Pertama, pemikiran progresif Islam di India. Negara yang paling banyak memiliki arus pemikiran progresif Islam.
Kedua, pemikiran progresif Islam di Mesir. Arus pemikiran ini digagas sendiri oleh Sayid Jamal. Anda ketahui bahwa arus pemikiran Islam progresif di Mesir menjadi ilham bagi munculnya gerakan-gerakan besar yang menuntut kebebasan di Afrika. Tidak hanya Mesir yang diubah, tapi boleh dikata berhasil mengangkat Islam ke level Islam modern. Sayid Jamal berhasil menciptakan gerakan besar di Mesir dan Timur Tengah.
Ketiga, kelompok cendekiawan di Iran.
Sayid Jamal yang mewujudkan tiga kelompok ini di dunia Islam. Penggagas kembali ke pemerintahan Islam dan sistem Islam. Jangan menganggap enteng masalah ini dan Sayid Jamal tidak dapat dibandingkan dengan orang lain. Di dunia perjuangan politik, Sayid Jamal merupakan tokoh pertama yang memaknai dominasi kolonial bagi masyarakat muslim. Sebelum Sayid Jamal, masyarakat muslim tidak pernah mengetahui istilah dominasi kolonial. Ia pribadi yang memunculkan dominasi politik Barat di Iran, Mesir, Turki, India, Eropa, Timur Tengah, Asia dan Eropa. Sayid Jamal yang membuat orang berpikir bahwa hal yang seperti ini itu ada. Anda tentu tahu bahwa waktu itu adalah awal usia kolonial. Karena kolonial di awal penyebarannya di kawasan ini sama sekali tidak diketahui dan Sayid Jamal orang pertama yang memperkenalkannya. Ini tidak dapat dianggap enteng.
Perjuangan politik Sayid Jamal tidak dapat dibandingkan dengan siapa pun dari para pejuang politik yang bergerak dengan cara Sayid Jamal.
Namun, gerakan Imam Khomeini ra yang menurut saya merupakan kelanjutan dari gerakan Sayid Jamal merupakan loncatan yang lebih tinggi dari gerakan Sayid Jamal. Tidak ada keraguan tentang masalah ini. Sementara gerakan pemikiran, pencerahan dan politik propaganda Ali Syariati sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan gerakan Sayid Jamal.
Sementara Iqbal Lahore adalah penggagas dua gerakan; pembebasan dari budaya Barat dan kembali ke budaya Islam. Atau lebih tepat saya katakan, “Budaya Timur dan itulah yang di kemudian hari digunakan dalam istilah seperti Gharb Zadegi (yang terbaratkan) dan yang sepertinya di Iran.
Anda tahu bahwa apa yang disampaikan Ali Syariati tentang kembali ke jati diri. Ini merupakan masalah utama yang diucapkan Syariati. Masalah ini pada 1930, bahkan sebelum 1920-1925, telah disampaikan oleh Iqbal di India. Yakni, buku-buku Iqbal, syair-syair Persia Iqbal dan semua yang yang berkaitan dengan kembali pada Islam. Man Islami, Man Syarqi, ini telah dijelaskan Iqbal Lahore dalam ribuan syair Persia, sekitar 40 tahun sebelum Syariati menjelaskannya. Dengan syair-syair seperti ini, Iqbal mewujudkan sebuah bangsa bernama Pakistan. Yakni berhasil mewujudkan sebuah kawasan geografis.
Ini yang dilakukan Iqbal sebagai penggagasnya dan ini sebuah pekerjaan besar. Pekerjaan kedua Iqbal adalah mewujudkan sebuah kawasan geografis bernama Islam, sebuah bangsa bernama Islam dan terbentuknya negara Pakistan.
Iqbal adalah orang pertama yang berbicara tentang negara bernama Pakistan dan bangsa di Anak Benua sebagai bangsa muslim.
Saya tidak ingin berbicara mengenai kondisi saat ini Pakistan dan nasibnya pasca Iqbal, yakni setelah para pemimpin dan pendiri Pakistan. Saya tidak ingin berbicara mengenai Pakistan yang sudah dikooptasi kolonial dan kebergantungannya terhadap kolonial. Namun yang ingin saya tekankan di sini adalah perjuangan Iqbal, filosofi dan penjelasan Iqbal terkait masalah ini. Ini sebuah gerakan baru. Yakni, ia membuktikan umat Islam dengan makna hakikinya sebuah bangsa di Anak Benua. Masalah ini dapat disaksikan dalam penjelasan yang disampaikan Iqbal, surat-menyuratnya, dimana saya memuat sebagiannya di buku “Mosalmanan dar Nehzat-e Azadi-e Hend”.
Ketahuilah betapa sangat penting dan sangat agung. Ini tidak boleh dianggap enteng.
Sekalipun demikian, ini tidak berarti saya mengecilkan Ali Syariati. Tapi kita tidak dapat membandingkannya dengan tokoh-tokoh seperti ini. Dengan alasan ini pula Syariati menganggap dirinya “gang para pembaharu” mereka. Ia menilai dirinya murid hakiki sekalipun jauh dari Iqbal. Coba Anda perhatikan pidato-pidato Syariati tentang Iqbal yang kemudian dicetak menjadi sebuah buku dengan nama Iqbal. Perhatikan bagaimana Syariati berbicara dengan cinta dan sebagai murid tentang Iqbal. Siapa yang mendengar ucapan-ucapan tersebut dari lisan Syariati, baginya menjadi jelas betapa perbandingan yang dilakukan seperti ini tidak benar.
Tentang hubungan emosional dan pemikiran Syariati dengan ulama dan keulamaan banyak pandangan yang berbeda, bahkan sebagian tendensius. Apakah Anda sebagai seorang ulama yang bersahabat dengan Syariati dan dalam banyak kasus sepemikiran dapat menjelaskan hakikat terkait masalah ini?
Ayatullah Khamenei: Kebetulan sekali bahwa ini bagian tak terungkap dari pribadi Syariati seperti yang telah saya singgung sebelumnya. Sebagian dari pemikiran dan pribadi Syariati yang belum terungkap. Ini salah satunya. Sebelumnya, saya ingin menukil sebuah kenangan dan setelah itu menjawab pertanyaan Anda.
Pada tahun 1349 Hs di Mashad, di sebuah pertemuan yang diikuti pelajar agama dan ulama Mashad, saya mengajar tafsir. Suatu hari saya berbicara tentang keulamaan dan pandangan tentang rekonstruksinya. Yakni, ada masyarakat ulama yang kita asumsikan dan apa saja kemungkinan yang bisa dilakukan. Saya mengatakan ada empat pendapat.
Pertama, menghapus ulama secara keseluruhan. Yakni, pada prinsipnya kita tidak menginginkan ulama.
Kedua, menerima ulama dengan bentuk dan sistem yang ada serta tidak perlu ada reformasi di dalamnya.
Ketiga, mengubah secara keseluruhan. Yakni, ulama yang ada sekarang ini kita hilangkan dan menggantikanya dengan satu sistem ulama baru disertai syarat-syarat lazim yang kita terima lalu membangun sebuah lembaga ulama baru.
Empat, apa yang sudah ada. Saya membahas dan membicarakannya. Benar, saya tidak dapat menerima ketiga pendapat sebelumnya dan dengan argumentasi saya meyakini pendapat yang keempat.
Waktu itu mulai banyak yang berbisik-bisik menentang Syariati. Dikatakan bahwa Ali Syariati kurang meyakini terkait pemikiran syariat, bahkan tidak meyakini atau tidak menaruh perhatian kepada ulama dan ungkapan seperti ini. Di hari-hari itu ada pertemuan dan saya mengutip kelas tafsir kami kepada Syariati dan ia mendengarnya dengan penuh perhatian. Saya menyampaikan hal ini kepadanya. Saya katakan, benar, satu dari pendapat itu adalah menghapus ulama secara keseluruhan dan ia mengatakan ini tidak benar.
Kedua, menerima ulama yang ada ini secara keseluruhan dan tidak melakukan perubahan atasnya. Syariati mengatakan, ini juga tidak benar.
Ketiga, adalah mengubah ulama secara keseluruhan. Yakni, ulama yang ada harus dihapuskan dan meletakkan ulama lain sebagai gantinya. Ketika sampai pada penjelasan pendapat ketiga, tiba-tiba saja Syariati mengatakan, “Oh, oh. Ini lebih buruk dari semuanya.” Perhatikan, ia mengatakan ini lebih buruk dari semuanya. Ini lebih berbahaya dari semuanya. Ini lebih imperialis dari semuanya. Akhirnya kita sampai pada pendapat keempat, dimana melakukan reformasi terhadap ulama. Syariati mengatakan, “Benar. Ini pandangan yang baik.”
Berbeda dengan apa yang disampaikan tentangnya dan sampai sekarang masih ada yang berkhayal, Syariati bukan saja tidak menentang ulama, tapi secara mendalam meyakini risalah ulama. Ia berkata bahwa ulama merupakan satu keharusan. Sebuah lembaga orisinil, mengakar dan tidak dapat digoyahkan. Barang siapa yang menentang ulama, sudah barang tentu dibantu oleh imperialis. Demikianlah keyakinan Syariati dan jangan ragu tentangnya. Ini merupakan bagian dari pengetahuan pastinya. Adapun tentang ulama, gambaran Syariati demikian bahwa ulama tidak melaksanakan risalah yang disandangnya secara sempurna.
Sampai di sini, saya ingin mengutip satu kenangan lain kepada Anda dan kejadiannya pada tahun 1347 Hs, tahun terakhir dari usia Jalal Al-e Ahmad.
Jalal Al-e Ahmad datang ke Mashad. Kami sempat bertemu dan di pertemuan itu ada saya, Jalal Al-e Ahmad, Ali Syariati dan beberapa teman Mashad. Pembahasan tentang ulama. Setiap orang berbicara dan kemudian dikritisi oleh Syariati. Jalal Al-e Ahmad berkata kepada Syariati, “Mengapa Anda (yang dipakai istilah Hauzah Ilmiah, bukan ulama) begitu mengritik Hauzah Ilmiah. Mari kritik para cendikiawan (Roushanfekran) kita.” Setelah itu Jalal Al-e Ahmad mulai menyampaikan dua atau tiga kritikannya. Syariati menjawab. Dari jawaban tersebut dapat dipahami pemikiran Syariati mengenai ulama.
Ali Syariati mengatakan, “Mengapa saya mengritisi ulama dan Hauzah Ilmiah, dikarenakan kita punya harapan dari Hauzah Ilmiah. Sebaliknya, kita tidak punya penantian dari para cendikiawan yang kelahirannya dari dekapan budaya Barat. Ini bukan hal yang kita harap. Sementara ulama merupakan sebuah lembaga orisinil. Kita punya harapan besar dari ulama. Tapi karena harapan itu tidak kunjung terealisasi, makanya saya mengritisi.”
Ali Syariati berkeyakinan bahwa ulama tidak melaksanakan risalahnya secara sempurna. Keyakinannya terus berlanjut hingga tahun 1351 Hs dan mendekati tahun 1352 Hs. Sejak saat itu, akibat bersentuhan dengan ulama muda, pendapatnya berubah total. Yakni, Ali Syariati pada tahun 1354 dan 1355 Hs meyakini mayoritas ulama telah melaksanakan risalahnya. Oleh karenanya, di akhir usianya, Syariati bukan saja meyakini ulama sebagai lembaga, tapi juga ulama sebagai pribadi. Ia meyakini mayoritas ulama benar-benar melaksanakan risalah yang berada di pundaknya.
Benar, Ali Syariati tidak baik dengan ulama yang tidak melaksanakan risalahnya. Secara pribadi, Syariati juga sangat respek dengan Imam Khomeini ra.
Saat ini, kelompok kiri dan semi kiri berusaha mengenalkan Syariati sebagai pemimpinnya. Di sisi lain, kelompok politik yang kebarat-baratan dan atau sesuai istilah yang populer Liberal mengaku Syariati mutlak miliknya. Apakah Anda dapat memberi solusi dari dua klaim ini?
Ayatullah Khamenei: Kedua klaim itulah yang menyelesaikan masalah. Setiap dari keduanya menyalahkan yang lain. Dengan demikian, kita dapat mengambil kesimpulan Syariati tidak mutlak milik Liberal dan kelompok kiri. Adapun kelompok kiri secara transparan dan tegas harus saya katakan bahwa Syariati termasuk anasir paling keras dan tegas yang anti kiri dan anti Marksisme.
Hari ketika para Mujahidin Khalq mengubah ideologinya dan diterbitkannya buku Mavaze Idiology baru mereka lalu dibagikan kepada orang-orang, saya menyaksikan seorang warga Mashad membela sikap baru Mujahidin Khalq yang Marksis di sebuah pertemuan, dimana saya ada begitu juga Syariati.
Ali Syariati begitu hebat menyerangnya di pertemuan itu, sehingga saya sendiri terheran-heran, bagaimana bisa Syariati begitu anti Marksis. Bacalah karya-karya Syariati! Penentangannya terhadap pemikiran kiri, Marksis dan prinsip-prinsip Marksisme dengan jelas dapat ditemukan di sana. Dengan demikian, setiap orang dan setiap kelompok kiri, sekalipun mengatasnamakan Islam, bila hari ini menyebut Syariati berada di pihaknya, maka ketahuilah orang itu berbohong. Begitu juga seorang anggota Mujahidin Khalq yang hari ini menyebut Syariati berada di pihaknya sudah pasti berbohong.
Kelompok Mujahidin Khalq yang saat ini mendukung Ali Syariati, mereka pada tahun 1351 dan 1352 Hs termasuk penentang paling keras Syariati. Sekarang bagaimana mereka bisa menyebutnya sebagai pemimpinnya.
Sementara kelompok Liberal, sebagian dari anasir yang berafiliasi pada Nehzat Azadi atau anasir politik yang moderat bukan orang yang suka menghadapi bahaya dan tidak serius dalam perjuangan. Mereka memiliki fasilitas baik rumah, kebun di luar kota dan organisasi. Mereka mengundang Syariati dan sebagian orang lainnya.
Ketika Ali Syariati tidak punya jadwal pidato, ia mengadakan pertemuan dan berbicara di rumah mereka dan dengan menggunakan fasilitas mereka yang dipersiapkan untuk kurang lebih 50 hingga 100 orang. Ini model hubungan Syariati dengan kelompok Liberal. Tapi fasilitas yang ada lebih banyak disiapkan oleh para pedagang di pasar yang berafiliasi dengan kelompok politik yang disebut Liberal ini. Sementara yang memanfaatkan secara umum, politik dan pemikiran adalah para politikus Liberal.
Pada hakikatnya Syariati sama sekali tidak bergantung kepada mereka.
Bila Syariati masih hidup, ia tidak punya hubungan dengan mereka dan hanya memanfaatkan fasilitas yang disiapkan mereka.
Hari ini, setiap kelompok dapat saja berkata “Saya penolong Syariati”, “Saya sepemikiran dengan Syariati” atau “Syariati milikku”. Tapi harus dilihat seberapa jauh ucapan mereka dapat diterima. Marksis dan kelompok lain tidak punya hubungan dengan Syariati, bahkan sepemikiran atau kekerabatan pemikiran.
Bila Anda melihat Syariati sebagai periode baru dari pertumbuhan pemikiran Islam di Iran, lalu menurut Anda, apa periode pasca Syariati?
Ayatullah Khamenei: Saya dapat menerima Ali Syariati hanya satu periode. Maknanya seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya. Syariati pribadi yang mampu menyampaikan dan menjelaskan pemikiran di tengah masyarakat dengan bahasa yang tepat dengan penguasaan luar biasa atas budaya yang populer di generasi saat itu.
Tapi tidak berarti bahwa Syariati tidak punya ide dan inovasi. Saya tidak bisa menerima pernyataan ini. Syariati sendiri sangat kreatif dan punya banyak ide. Syariati juga memproduksi wacana baru, tapi Syariati hanya satu periode. Sementara periode selanjutnya, mari kita mempelajari dan menerapkan ide-ide Syariati yang dipahaminya dari pengenalan terhadap budaya Islam dengan prinsip-prinsip dasar filsafat Islam.
Dengan melakukan itu, menurut saya kita akan memasuki periode baru yang bermanfaat bagi generasi kita. Ungkapan yang lebih tepat adalah “Pelajarilah Syariati bersama Muthahhari”. Lakukan kajian tentang Syariati di samping Muthahhari.
Kita buat kombinasi dari keindahan Syariati dan beton kokoh pemikiran Islam Muthahhari. Itulah periode modern yang dibutuhkan generasi kita. (Saleh Lapadi)
Sumber: Fars News