Karena Intervensi, Kemlu Iran Panggil Dubes Inggris untuk Ketiga Kalinya
https://parstoday.ir/id/news/iran-i131124-karena_intervensi_kemlu_iran_panggil_dubes_inggris_untuk_ketiga_kalinya
Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran memanggil Duta Besar Inggris untuk Tehran Simon Shercliff pada hari Senin (10/10/2022).
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Okt 11, 2022 20:50 Asia/Jakarta
  • Menlu RII Hossein Amir Abdollahian dan Dubes Inggris untuk Tehran Simon Shercliff.
    Menlu RII Hossein Amir Abdollahian dan Dubes Inggris untuk Tehran Simon Shercliff.

Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran memanggil Duta Besar Inggris untuk Tehran Simon Shercliff pada hari Senin (10/10/2022).

Pemanggilan untuk ketiga kalinya dalam tiga minggu terakhir ini dilakukan setelah pemberlakukan sanksi sewenang-wenang Inggris terhadap Iran dan intervensi para pejabat London terhadap urusan internal negara ini. Kemlu Iran menyampaikan bahwa Republik Islam berhak untuk mengambil tindakan balasan.

Pemerintah Inggris melakukan campur tangan atas urusan dalam negeri Iran terkait kerusuhan baru-baru ini di negara tersebut. London memasukkan polisi keamanan moral dan beberapa pejabat senior keamanan dan politik Iran ke dalam daftar sanksi.

Atas tindakan tersebut, Kemlu Iran memanggil Simon untuk menyampaikan bahwa Republik Islam mengecam keras langkah-langkah campur tangan Inggris.

Sebelumnya, Kemlu Iran telah memanggil Dubes Inggris pada 24 September 2022 untuk menyampaikan protes resmi atas tindakan dan upaya merusak serta provokatif terhadap Iran yang dilakukan oleh media-media berbahasa Persia yang berbasis di London.

Setelah itu, Kemlu Iran juga memanggil Simon pada 5 Oktober 2022 untuk menyampaikan protes resmi dan keras atas intervensi sejumlah pejabat Inggris terhadap kerusuhan dan perkembangan di dalam Iran.

Setelah terjadi beberapa kerusuhan di kota-kota Iran, yang sebagian besar berlanjut karena hasutan para pejabat dan media Barat serta orang-orang yang tertipu di dalam negeri, negara-negara Barat, termasuk Inggris dan Amerika Serikat (AS) sekali lagi berusaha untuk memicu kerusuhan di Iran dengan mengintensifkan sanksi dan mencampuri urusan dalam negeri negara ini. Mereka menemukan kesempatan untuk meningkatkan tekanan politik dan mengambil poin dari pemerintah Iran.

Kerusuhan di Iran

Inggris memiliki sejarah panjang intervensi dan segala macam konspirasi terhadap Iran. Salah satu contoh nyata adalah terkait dengan pemilu presiden Iran periode ke-10 pada tahun 1388 HS (2009). Sebelum pemilu ini, Inggris mencoba memainkan peran dalam pemilu dengan mengirimkan Duta Besar barunya bernama Simon Gass ke Tehran.

Setelah penyelenggaraan pemilu presiden dan hasutan setelahnya, orang-orang yang berafiliasi dengan Kedutaan Besar Inggris di Tehran, atas perintah London, melakukan intervensi signifikan dalam masalah yang benar-benar murni internal, dan untuk pertama kalinya, beberapa karyawan lokal Kedubes Inggris ditangkap oleh pasukan keamanan Iran, dan dua diplomat Inggris juga ditangkap dan diusir dari Iran karena perilaku intervensionis mereka.

Dalam beberapa minggu terakhir, pemerintah Inggris telah mengadopsi pendekatan yang bersifat campur tangan untuk mendukung perusuh yang melakukan kekacauan dan ketidakamanan di Iran. Inggris telah menggunakan sanksi dan alat politik serta medianya, padahal selama ini Inggris bahkan belum memenuhi tugas dan kewajibannya dalam menjaga keamanan tempat-tempat diplomatik Iran, bahkan karena kelalaian polisi Inggris, Kedubes Iran di London telah beberapa kali diserang.

David Miller, seorang sosiolog dan pakar masalah politik di Inggris, dalam sebuah pernyataan, menyinggung posisi terbaru negara-negara Barat terhadap Iran. Dia mengatakan, poin utamanya adalah mereka berusaha untuk mengintensifkan sanksi dan karena itu mereka memulai kerusuhan di Iran. Para penentang perjanjian nuklir JCPOA, yang berusaha menyabotase proses negosiasi, juga mendapat manfaat dan keuntungan atas situasi ini dan berusaha mengisolasi Iran.

Jelas bahwa intervensi dan pengenaan sanksi oleh pemerintah Barat, termasuk Inggris terhadap Iran, dilakukan ketika Republik Islam telah berulang kali memperingatkan terhadap setiap tekanan, ancaman dan intervensi oleh mereka. Tehran telah menegaskan bahwa sanksi sewenang-wenang yang diumumkan London terhadap Iran tidak ada gunanya dan Republik Islam juga berhak untuk mengambil tindakan balasan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran Nasser Kanaani menyebut situasi saat ini di negaranya sebagai masalah internal.

Dia menegaskan penentangannya terhadap segala upaya Barat dan AS untuk menjatuhkan sanksi dan tekanan baru dengan tujuan mendapat nilai lebih dan pemerasan.

Kanaani juga menentang segala bentuk tindakan pembatasan terhadap rakyat dan pemerintah Iran. Menurutnya, Iran akan dengan secara serius dan tegas berdiri melawan dan akan meresponsnya pada waktu yang tepat. (RA)