Berlian yang Dipotong dengan Air Mata Rakyat Afrika
https://parstoday.ir/id/news/world-i186004-berlian_yang_dipotong_dengan_air_mata_rakyat_afrika
Pars Today - Penjajahan abad ke-19 bukan sekadar perebutan wilayah, melainkan mekanisme terorganisir untuk mentransfer kekayaan Afrika ke Eropa. Pada periode "Perebutan Afrika", Britania Raya, dengan mengandalkan kekuatan ekonomi dan perusahaan swasta, memaksakan dominasi struktural dan berkelanjutan atas sumber daya benua tersebut.
(last modified 2026-02-23T13:10:33+00:00 )
Feb 23, 2026 20:03 Asia/Jakarta
  • Berlian yang Dipotong dengan Air Mata Rakyat Afrika
    Berlian yang Dipotong dengan Air Mata Rakyat Afrika

Pars Today - Penjajahan abad ke-19 bukan sekadar perebutan wilayah, melainkan mekanisme terorganisir untuk mentransfer kekayaan Afrika ke Eropa. Pada periode "Perebutan Afrika", Britania Raya, dengan mengandalkan kekuatan ekonomi dan perusahaan swasta, memaksakan dominasi struktural dan berkelanjutan atas sumber daya benua tersebut.

Penjajahan di abad ke-19 bukan hanya pendudukan militer atas wilayah-wilayah; ia adalah jaringan kekuasaan politik, modal finansial, dan hukum diskriminatif yang menempatkan sumber daya negeri-negeri jauh dalam pelayanan pembangunan industri Eropa. Pada masa "Perebutan Afrika", benua ini dibagi-bagi di antara kekuatan-kekuatan Eropa, dan Imperium Britania Raya adalah salah satu pemain utamanya; sebuah imperium yang memantapkan dominasinya melalui perusahaan-perusahaan swasta dan mekanisme ekonomi.

 

Penemuan berlian di Afrika Selatan pada dekade 1860-an menjadi titik balik dalam proses ini. Pada tahun 1867, penemuan sebongkah berlian di tepi Sungai Oranye menciptakan gelombang demam kekayaan, dan Kimberley menjadi pusat penambangan. Lubang raksasa "Big Hole" menjadi simbol era ini; era yang mengubah struktur sosial kawasan. Seiring meningkatnya nilai tambang, pemerintah kolonial melakukan intervensi dalam kepemilikan tanah dan hukum pertambangan. Ribuan pencari kekayaan memasuki kawasan, tanah-tanah penduduk asli dibatasi dan disita, dan struktur sosial tradisional melemah.

 

Pada tahun 1888, dengan menggabungkan perusahaan-perusahaan kecil, perusahaan "De Beers" didirikan dan mengambil alih kendali atas sebagian besar produksi berlian dunia. Proses ini dipimpin oleh Cecil Rhodes; seseorang yang merupakan kombinasi dari kapitalis tambang dan politisi terkemuka Imperium Britania, yang mengimpikan cita-cita "Imperium dari Tanjung hingga Kairo". Ia kemudian menjadi Perdana Menteri Koloni Tanjung dan menggunakan pendapatan dari tambang untuk memperluas wilayah Britania di utara. Wilayah-wilayah yang kemudian dinamai "Rhodesia" diambil dari namanya, dan merupakan tanda jelas dari hubungan antara modal pertambangan dan ekspansi teritorial Imperium Britania.

 

"Berlian" pada tahap ini berubah menjadi alat geopolitik. Kekayaan Kimberley menjadi penopang perluasan pengaruh Britania di Afrika bagian selatan, dan penambangannya ditempatkan dalam pelayanan pemantapan dominasi politik dan ekonomi imperium. Namun, biaya dari perluasan ini ditanggung oleh penduduk pribumi. Pada dekade-dekade akhir abad ke-19, industri pertambangan menciptakan mekanisme-mekanisme yang kemudian membentuk fondasi sistem Apartheid; sebuah sistem untuk mengontrol tenaga kerja, memantapkan ketidaksetaraan, dan memusatkan modal.

 

Salah satu tindakan pertama yang diambil oleh para pemilik tambang untuk mencegah pencurian berlian adalah pembuatan asrama tertutup atau "kampung" (compound). Para pekerja kulit hitam, yang sebagian besar tertarik dari daerah pedesaan dan wilayah kesukuan dengan harapan mendapatkan upah tunai, setelah tiba di tambang ditempatkan di area-area berpagar. Area-area ini dikontrol dengan pagar-pagar tinggi dan penjaga bersenjata, dan para pekerja tidak memiliki hak untuk keluar dengan bebas hingga kontrak mereka berakhir. Pemeriksaan badan secara teratur, pencatatan ketat keluar-masuk, dan bahkan kontrol kesehatan dan nutrisi adalah bagian dari tatanan ketat ini. Apa yang diperkenalkan sebagai tindakan pengamanan, pada praktiknya merupakan bentuk penjara industrial yang meminimalkan kehidupan pribadi dan kebebasan individu para pekerja.

 

Sistem ini tidak hanya terbatas pada tempat tinggal. Struktur kerja di tambang juga dibentuk berdasarkan pemisahan rasial. Pekerjaan teknis, pengawasan, dan manajerial diperuntukkan bagi pekerja kulit putih, sementara pekerja kulit hitam ditugaskan pada pekerjaan kasar dan berbahaya. Upah secara sistemik tidak setara, dan hampir tidak ada kesempatan promosi bagi orang kulit hitam. Dengan demikian, industri pertambangan adalah arena pertama di mana pembagian kerja rasial dilaksanakan secara terorganisir, dan kemudian menyebar ke sektor-sektor ekonomi lainnya. Pola pemisahan dan ketidaksetaraan ini secara bertahap melembaga dalam undang-undang perburuhan resmi dan menjadi salah satu pilar struktur diskriminatif Afrika Selatan; sebuah struktur yang tahun-tahun kemudian dimantapkan dalam bentuk sistem resmi Apartheid.

 

Hukum "Pas" atau "Pass Laws" membatasi pergerakan orang kulit hitam. Tidak memiliki buku izin tinggal berujung pada penahanan. Sistem administratif ini kemudian dimantapkan dalam bentuk formal Apartheid.

 

Untuk menyediakan tenaga kerja murah, pemerintah kolonial memberlakukan pajak per kapala dan membatasi kepemilikan tanah penduduk asli. Para pemuda pria, untuk membayar pajak dan menafkahi hidup, terpaksa bermigrasi ke tambang-tambang, dan terbentuklah sistem "pekerja migran"; sebuah sistem yang memisahkan keluarga-keluarga dan menciptakan ketergantungan ekonomi.

 

Pada waktu yang sama, pemusatan modal di tangan minoritas kulit putih semakin intensif. De Beers, dengan mengendalikan produksi dan pasokan global, menciptakan kartel kuat dan mengelola harga berlian. Keuntungan sebagian besar ditransfer ke London, sementara biaya kemanusiaan tetap berada di Afrika Selatan. Inilah pola ekonomi ekstraktif kolonialisme: sumber daya diekstraksi di pinggiran, dan nilai terakumulasi di pusat.

 

Kerja sama antara pemerintah kolonial dan perusahaan pertambangan memantapkan siklus ini. Undang-undang yang membatasi kepemilikan tanah dan kebijakan pemisahan pekerjaan menjamin profitabilitas industri pertambangan.

 

Ketika Apartheid resmi diberlakukan pada tahun 1948, banyak dari mekanismenya telah teruji sebelumnya di industri pertambangan. Industri berlian tidak hanya menghasilkan kekayaan, tetapi juga sebuah model kontrol rasial.

 

Pada abad ke-20, De Beers memegang monopoli perdagangan berlian mentah dan, dengan kampanye iklan "A Diamond is Forever" pada tahun 1947, mengubah batu ini menjadi simbol cinta dan pernikahan di dunia Barat. Di saat para pekerja Afrika bekerja dalam kondisi yang keras, konsumen Eropa dan Amerika menganggap berlian sebagai simbol romantisme. Keuntungan ditransfer ke pusat-pusat keuangan Barat, sementara komunitas pribumi menghadapi kemiskinan dan kehilangan tanah. Inilah logika ekonomi kolonial: penderitaan di pinggiran, kemewahan di pusat.

 

Jika saat ini kita melihat struktur ketimpangan distribusi tanah dan kekayaan di Afrika Selatan, kita akan menemukan jejak sistem yang sama yang terbentuk pada abad ke-19 di bawah naungan bendera Britania. Penambangan berlian tidak hanya menciptakan kekayaan, tetapi juga membangun tatanan dominasi dan ketidaksetaraan yang berlangsung selama beberapa generasi. Kilauan berlian Kimberley memantulkan sejarah kelam yang terbentuk di dalam penjajahan dan penderitaan penduduk pribumi Afrika.

 

Apa yang saat ini bersinar sebagai berlian di etalase-etalase dunia bukanlah sekadar batu berharga; ia adalah bagian dari sejarah ketimpangan yang masih bernafas dalam struktur tanah dan kekayaan Afrika Selatan. Mungkin pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah berapa nilai sebuah berlian, melainkan siapa yang telah membayar harganya dan masih terus membayarnya hingga kini. (MF)