Rahbar Tunjukkan Cara Melawan Makar Instabilitas dan Terorisme
-
Sayyid Ali Khamenei
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, menilai sumber utama perang, instabilitas dan terorisme di kawasan dan dunia Islam adalah kekuatan imperialisme dan Amerika Serikat pada puncaknya.
Hal itu disampaikan Rahbar pada pertemuan Rabu siang (6/7) dengan para pejabat negara dan masyarakat. Seraya menekankan bahwa tujuan kekuatan imperialis adalah menciptakan ruang bernafas untuk rezim Zionis dan terlupakannya masalah inti Palestina, Ayatullah Khamenei mengatakan, "Satu-satunya cara melawan makar tersebut adalah mengidentifikasi musuh utama dan perlawanan."
Seraya menyampaikan selamat atas hari Idul Fitri, Rahbar menyinggung kondisi terkini dunia Islam serta pembantaian, instabilitas dan aksi peledakan di kawasan, seraya mengatakan, "Salah satu masalah pentingnya adalah mengidentifikasi sumber keji dan durjana berbagai masalah umat Islam dewasa ini dan tangan-tangan terselubung yang memperluas terorisme."
Menyinggung sandiwara lepas tangan semua negara dan juga sejumlah kekuatan dari terorisme serta pembentukan koalisi bohong anti-terorisme, Ayatullah Khamenei menegaskan, berbeda dengan klaim-klaim sandiwara kekuatan [dunia], pada hakikatnya mereka sendiri yang mendukung dan menyebarluaskan terorisme."
Lebih lanjut Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menyinggung kehadiran Duta Besar Amerika Serikat di antara para demonstran pada hari-hari pertama demonstrasi di Suriah serta upaya mengubah perselisihan politik negara itu menjadi perang saudara dan mengatakan, "Mereka telah mengubah friksi politik menjadi perang saudara dan kemudian dengan memberikan dukungan finansial dan persenjataan, serta dengan pendapatan haram [hasil penjualan] minyak, mereka merekrut banyak anasir dari berbagai wilayah menuju Suriah dan Irak untuk menebar instabilitas."
Pada bagian lain, Ayatullah Khamenei menegaskan pula bahwa tidak seperti yang marak diklaim, Iran tidak mencampuri urusan Bahrain dan tidak akan mencampurinya, akan tetapi jika ada kecerdasan politik di negara itu, maka jangan sampai friksi politik berubah menjadi perang saudara."(MZ)