May 21, 2024 20:01 Asia/Jakarta
  • PM Rezim Zionis Benjamin Netanyahu
    PM Rezim Zionis Benjamin Netanyahu

Kabar gugurnya Presiden Iran, sejak awal telah memperkuat persatuan nasional di Iran, tapi seperti biasanya, dalam peristiwa semacam ini, lembaga-lembaga propaganda, dan perang psikologis Israel, segera melakukan upaya perpecahan.

Sebagian skenario lembaga-lembaga propaganda Israel, adalah sebagai berikut,
 
 
1. Unjuk Kekuatan Palsu
 
Sejak hari gugurnya Presiden Iran, dan rombongan yang menyertainya, Israel, tidak berani mengeluarkan statemen resmi bahkan satu kalimat pun terkait kejadian tersebut. Akan tetapi beberapa akun media sosial tanpa nama asli yang kemungkinan dikelola oleh kebijakan, dan uang lembaga-lembaga perang psikologis Zionis, berusaha menganggap Israel, terlibat dalam kecelakaan pesawat yang menimpa Presiden Iran.
 
 
2. Menciptakan Perpecahan
 
Skenario-skenario media yang dilakukan oleh sebagian akun yang mengaku orang Iran, justru tidak memperkuat persatuan nasional, tapi malah menciptakan konflik kelompok, serta mengadu domba berbagai aliran pemikiran politik berbeda. Sebagian besar akun-akun ini adalah akun-akun media sosial tanpa nama, dan identitas.
 
 
3. Bisikan Setan untuk Memusuhi Negara Tetangga
 
Peningkatan hubungan Iran, dengan negara-negara tetangga merupakan kebijakan asli mendiang Presiden Iran, Sayid Ebrahim Raisi, dan telah menghasilkan sejumlah capaian penting.
 
Peningkatan hubungan Iran, dan Republik Azerbaijan, serta dimulainya pemanfaatan Bendungan Qiz Qalasi, yang diresmikan pada hari Minggu oleh Presiden Iran, Sayid Ebrahim Raisi, dan Presiden Republik Azerbaijan, Elham Aliyev, merupakan salah satu capaian dari kebijakan ini.
 
Meskipun demikian, kebijakan media Israel, sejak gugurnya Syahid Ebrahim Raisi, berusaha menghapus hubungan baik Iran dan Republik Azerbaijan, dengan menyebarluaskan berita-berita tanpa riset, tanpa bukti, dengan klaim-klaim tanpa bukti.
 
 
4. Teror Ketenangan Batin dengan Kebohongan Berulang
 
Hari Senin pagi, sebuah akun media sosial X, yang mengaku Badan Intelijen Israel, Mossad, dalam sebuah berita yang sama sekali tidak benar menulis, Brigjen Ahmadreza Radan, Kepala Kepolisian Nasional Iran, diteror. Ini adalah sebuah taktik berulang di tengah situasi seperti sekarang ini untuk menyerang ketenangan psikologis masyarakat Iran, dengan rumor serta kebohongan-kebohongan yang dikeluarkan silih berganti.
 
 
5. Menggambarkan Iran, Kacau padahal Sangat Solid
 
Republik Islam Iran, selama 45 tahun, beberapa kali mengalami peristiwa semacam ini, bahkan lebih berat dari itu. Tahun-tahun awal kemenangan Revolusi Islam, Ayatullah Syahid Beheshti, Ketua Mahkamah Agung Iran, kala itu, dan tidak lama kemudian Syahid Rajaei, dan Bahonar, Presiden, dan Perdana Menteri Iran, gugur.
 
Saat itu Iran, mampu melewati masa-masa sulit tersebut tanpa masalah, dan ketakutan, tapi garis perang psikologis Israel, sejak awal peristiwa terus memproduksi muatan-muatan yang mengatakan bahwa Iran, menghadapai masalah besar, dan krisis yang tidak bisa diselesaikan.
 
 
6. Kerusuhan daripada Pemilihan
 
Salah satu karakteristik Undang-Undang Dasar Iran, adalah sudah memprediksikan beragam kondisi yang mungkin terjadi di kemudian hari, dan mempersiapkan semua yang diperlukan untuk menghadapi kondisi-kondisi tersebut.
 
Di masa seperti sekarang ini, konstitusi Iran, telah menetapkan tahapan demokrasi apa yang mesti ditempuh untuk memilih presiden baru, tapi skenario-skenario Israel, sangat menginginkan instabilitas, dan kerusuhan daipada solidaritas, dan proses demokratis. Israel berusaha menyebarluaskan statemen-statemen keras dari beberapa kelompok oposisi Iran. (HS)