Puisi Arbain, Puisi Terpopuler di Iran
https://parstoday.ir/id/news/iran-i175746-puisi_arbain_puisi_terpopuler_di_iran
Penyair dan penulis buku “Banu-ye Baran” (Sang Putri Hujan) menyebut puisi Arba’in sebagai puisi yang paling banyak diminati saat ini di kalangan masyarakat Iran.
(last modified 2026-01-11T09:54:06+00:00 )
Aug 16, 2025 07:22 Asia/Jakarta
  • Puisi Arbain, Puisi Terpopuler di Iran

Penyair dan penulis buku “Banu-ye Baran” (Sang Putri Hujan) menyebut puisi Arba’in sebagai puisi yang paling banyak diminati saat ini di kalangan masyarakat Iran.

Menurut laporan Pars Today, Zahra Beshari Mohahed menjelaskan bahwa puisi Arba’in merupakan bagian dari puisi Syiah atau puisi keagamaan. Ia menyatakan bahwa puisi keagamaan di Iran adalah jenis puisi yang memiliki jumlah pembaca terbanyak, karena seluruh lapisan masyarakat sejak kecil telah akrab dengannya melalui majelis-majelis dan media. Hal ini berakar pada budaya Syiah masyarakat Iran yang akrab dengan Ahlul Bait, dan sejak kecil, di lingkungan keluarga, telah menumbuhkan kecintaan kepada Ahlul Bait Nabi Muhammad SAW.

Ia mengatakan, tidak ada tema lain dalam sastra yang memiliki audiens umum sebesar ini, serta menegaskan bahwa pembaca puisi keagamaan bukanlah mereka yang mengenal puisi secara teknis, melainkan mereka yang terhubung dengan puisi karena kecintaan kepada Ahlul Bait.

Penyair dan penulis Iran ini menekankan bahwa puisi keagamaan bagaikan pedang bermata dua. Dalam kajian tentang kelemahan dan tantangan puisi Arba’in, ia menambahkan: setiap orang yang memiliki pengetahuan terbatas tentang Ahlul Bait, ketika menulis tentang Arba’in dan bagaimana peristiwa itu terjadi, biasanya akan menulis puisi dengan dorongan cinta dan kasih sayang untuk menunjukkan rasa hormatnya kepada Imam Husain (as). Namun, mungkin saja ia tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai, sehingga menghasilkan puisi yang tidak sepadan dengan kedudukan Ahlul Bait.

Zahra Beshari Mohahed menegaskan bahwa cinta dan kasih sayang harus dibarengi dengan pengetahuan. Ia juga menyebut bahwa para guru dan tokoh besar di bidang puisi membantu para penyair lain dalam menulis puisi keagamaan. Ada pertemuan dan majelis di mana para penyair membacakan puisi dan para penulis doa atau syair duka membacakan karya mereka, kemudian karya tersebut dikritisi dan dikaji baik dari segi struktur maupun isi.

Penyair dan penulis buku “Banu-ye Baran” ini menutup pembicaraannya dengan menegaskan bahwa para penyair harus memperbarui pengetahuan mereka. Menurutnya, pembaruan dan kreativitas tidak berarti melanggar norma atau melupakan dasar dan standar berpikir, teknis, dan struktural. Ia menambahkan, seni justru adalah kemampuan untuk menghasilkan karya yang baik meskipun dihadapkan pada berbagai kesulitan.(PH)