Pezeshkian: Terwujudnya Perdamaian Sejati Dapat Dicapai dengan Menghindari Unilateralisme
https://parstoday.ir/id/news/iran-i182084-pezeshkian_terwujudnya_perdamaian_sejati_dapat_dicapai_dengan_menghindari_unilateralisme
Presiden Republik Islam Iran dalam Konferensi Internasional Perdamaian dan Kepercayaan di Turkmenistan menegaskan bahwa terwujudnya perdamaian sejati bergantung pada penghindaran unilateralisme
(last modified 2025-12-13T04:53:44+00:00 )
Des 12, 2025 21:56 Asia/Jakarta
  • Pezeshkian: Terwujudnya Perdamaian Sejati Dapat Dicapai dengan Menghindari Unilateralisme

Presiden Republik Islam Iran dalam Konferensi Internasional Perdamaian dan Kepercayaan di Turkmenistan menegaskan bahwa terwujudnya perdamaian sejati bergantung pada penghindaran unilateralisme

Tehran, Parstoday- Konferensi Internasional “Perdamaian dan Kepercayaan” saat ini tengah berlangsung di Ashgabat, ibu kota Turkmenistan, dengan dihadiri oleh Presiden Iran dan para pemimpin negara-negara kawasan.

Masoud Pezeshkian, Presiden Republik Islam Iran, pada hari Jumat dalam konferensi tersebut menyatakan bahwa setiap bangsa yang berupaya mewujudkan perdamaian layak mendapatkan penghargaan. Ia menegaskan bahwa Republik Islam Iran, sebagai anggota yang bertanggung jawab dalam komunitas internasional, memiliki keyakinan kuat bahwa perdamaian dan pembangunan hanya dapat dicapai melalui dialog yang setara, kerja sama kolektif, penghormatan terhadap hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta dengan menghindari pendekatan sepihak.

Pezeshkian menekankan bahwa dunia saat ini lebih dari sebelumnya membutuhkan peninjauan kembali terhadap konsep perdamaian. Ia menyatakan bahwa perdamaian tidak akan terwujud melalui peningkatan anggaran militer, tidak pula melalui aliansi keras berbasis kekuatan militer, dan bukan pula lewat diplomasi simbolik, melainkan melalui penanganan akar-akar nyata ketidakstabilan, yakni ketimpangan, monopoli, dan diskriminasi.

Presiden Republik Islam Iran juga menyoroti bahwa dalam konteks diskriminasi dan ketimpangan yang ada, kebijakan kekuatan-kekuatan besar di kawasan Asia Barat selama ini secara praktis telah menciptakan semacam hak istimewa bagi rezim Zionis, yang menjadi sumber banyak peperangan dan ketidakadilan di kawasan tersebut. Menurutnya, hak istimewa ini merupakan hasil dari kombinasi kompleks antara perhitungan geopolitik, aliansi historis, kepentingan keamanan Barat, serta kurangnya komitmen lembaga-lembaga internasional dalam menegakkan keadilan.

Ia menegaskan bahwa dalam kondisi semacam ini, rezim tersebut mampu melanjutkan kebijakan agresifnya, mulai dari kejahatan berulang di Gaza dan perluasan ilegal permukiman di Tepi Barat, hingga serangan-serangan berulang terhadap Suriah, Lebanon, serta Iran dan Qatar.

Pezeshkian menambahkan bahwa situasi ini secara langsung merupakan produk dari monopoli kekuasaan di tingkat global dan standar ganda yang dipelihara oleh kekuatan-kekuatan besar, yang pada akhirnya membentuk semacam pengecualian keamanan bagi rezim Israel.(PH)