Peringatan Iran kepada AS: Jangan Ulangi Pengalaman Gagal Perang 12 hari
-
Menlu Iran Sayid Abbas Araghchi
Pars Today – Tehran memperingatkan Trump untuk tidak mengulang pengalaman gagal dalam perang 12 hari rezim Zionis terhadap Republik Islam Iran.
Menurut laporan Pars Today, Sayid Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, dalam wawancara dengan jaringan Fox News Amerika Serikat, memperingatkan Presiden AS agar tidak mengulangi kesalahan yang telah ia lakukan pada bulan Juni. Menjawab pertanyaan tentang “pesan apa yang ia sampaikan kepada Trump,” Araghchi berkata: “Jangan ulangi kesalahan yang Anda lakukan pada bulan Juni; Anda tahu bahwa jika sebuah pengalaman yang gagal dicoba kembali, hasilnya akan sama. Anda menghancurkan fasilitas dan mesin (nuklir), tetapi Anda tidak dapat membombardir teknologi, tekad, dan kemauan kami.”
Araghchi menegaskan bahwa pada tanggal 8 hingga 10 Januari, Iran menghadapi sebuah operasi teroris besar, dan ia menganggap hal tersebut sebagai kelanjutan dari perang 12 hari yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan rezim Israel; artinya, 8 Januari adalah hari ke‑13 dari perang tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran, mengenai peristiwa terbaru, menjelaskan bahwa alasan para teroris menembaki rakyat adalah karena mereka ingin menyeret Trump ke dalam perang. Israel berupaya membuat Amerika Serikat memasuki perang melawan Iran atas nama rezim tersebut, dan tujuan tersembunyi Tel Aviv ini kini telah terungkap.
Ia melanjutkan: Peningkatan ketegangan akan membawa konsekuensi serius bagi semua pihak. Operasi teroris yang berlangsung selama tiga hari itu merupakan kelanjutan dari perang 12 hari yang Amerika dan Israel lakukan terhadap kami.
Araghchi kemudian menegaskan bahwa mengulangi sebuah pengalaman gagal oleh pihak Amerika tidak akan menghasilkan hasil yang berbeda, seraya menambahkan bahwa Iran telah membuktikan bahwa negara ini selalu siap untuk bernegosiasi dan berupaya melalui jalur diplomasi.
Peringatan Sayid Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, kepada Donald Trump, Presiden Amerika Serikat yang kontroversial, mengenai pentingnya menghindari pengulangan pengalaman gagal perang 12 hari Israel terhadap Iran, didasarkan pada serangkaian pertimbangan strategis, politik, dan keamanan yang tercermin jelas dalam pernyataannya.
Dalam wawancara terbarunya, Araghchi menekankan bahwa Iran saat ini berada pada tingkat kesiapan militer yang jauh lebih tinggi dibandingkan masa perang 12 hari tahun lalu, dan bahwa setiap tindakan militer oleh Amerika atau sekutunya akan dihadapi dengan respons yang tegas dan berbiaya tinggi. Peringatan ini bukanlah sikap emosional, melainkan pesan yang diperhitungkan dengan matang untuk mencegah Amerika memasuki jalur yang hasilnya telah terlihat sebelumnya.
Alasan pertama dari peringatan ini adalah kegagalan jelas operasi gabungan Amerika dan Israel dalam perang 12 hari tahun 2025; operasi yang dirancang untuk melemahkan kemampuan nuklir dan pertahanan Iran, namun menurut para pejabat Iran, bukan hanya gagal mencapai tujuannya, tetapi justru memperkuat kohesi internal dan meningkatkan kemampuan pencegahan Iran.
Araghchi menegaskan bahwa Iran kini memiliki “kesiapan yang lebih luas dan lebih mendalam” dibandingkan periode tersebut, dan setiap upaya pengujian ulang dari pihak Amerika akan dihadapi dengan respons yang lebih keras.
Faktor kedua adalah situasi domestik dan regional. Ketika Amerika sedang menghadapi ketegangan politik dan protes internal, memasuki sebuah konflik eksternal dapat membawa konsekuensi yang tidak dapat diprediksi bagi Washington.
Dengan merujuk pada kondisi ini, Araghchi memperingatkan bahwa Trump tidak boleh membayangkan bahwa sebuah tindakan militer terbatas dapat dengan mudah mengalihkan perhatian publik Amerika atau memberinya keuntungan cepat. Pengalaman perang 12 hari menunjukkan bahwa Iran memiliki kemampuan untuk memberikan respons berlapis dan berkepanjangan, dan bahwa setiap konflik dapat berubah menjadi krisis regional yang luas.
Alasan ketiga adalah pengiriman pesan pencegahan kepada Amerika dan sekutunya. Araghchi dalam pernyataannya menegaskan bahwa Iran “tidak mencari perang, tetapi siap untuk perang”, dan kesiapan ini kini lebih besar daripada sebelumnya. Pesan ini dirancang untuk mencegah salah perhitungan di Washington—salah perhitungan yang dalam perang 12 hari sebelumnya terbukti keliru. Dengan menunjukkan kemampuan rudal, drone, dan pertahanan selama perang tersebut, Iran memperlihatkan bahwa setiap serangan terbatas dapat dibalas dengan reaksi yang luas dan di luar perkiraan.
Alasan keempat adalah upaya menjaga jalur diplomasi di samping pencegahan militer. Meski memberikan peringatan tegas, Araghchi berulang kali menyatakan bahwa Iran tetap membuka pintu dialog, namun hanya jika Amerika menghentikan ancaman dan tekanan. Kombinasi antara “pencegahan keras” dan “fleksibilitas diplomatik” ini merupakan bagian dari strategi besar Iran dalam mengelola krisis dengan Amerika.
Secara keseluruhan, peringatan Araghchi kepada Trump untuk tidak mengulangi pengalaman gagal perang 12 hari didasarkan pada analisis mendalam mengenai kemampuan pertahanan Iran, kondisi internal Amerika, dampak regional dari setiap potensi konflik, serta pentingnya mencegah salah perhitungan di Washington. Pesan ini dengan jelas menyatakan bahwa jalur tekanan dan ancaman tidak akan menghasilkan apa pun bagi Amerika, bahkan dapat membawa biaya besar; sementara jalur dialog, jika disertai rasa saling menghormati, tetap terbuka. (MF)