Dari Perlawanan Tehran hingga Aksi Konyol AS yang Menyerang Iran
https://parstoday.ir/id/news/iran-i184292-dari_perlawanan_tehran_hingga_aksi_konyol_as_yang_menyerang_iran
Pars Today – Seorang penulis dan analis terkemuka dunia Arab dalam sebuah catatan menyatakan bahwa mundurnya Amerika Serikat dari serangan militer terhadap Iran merupakan indikasi kemunduran kekuatan Washington dan kegagalan perhitungan Tel Aviv.
(last modified 2026-01-18T14:16:05+00:00 )
Jan 18, 2026 21:10 Asia/Jakarta
  • Presiden AS, Donald Trump
    Presiden AS, Donald Trump

Pars Today – Seorang penulis dan analis terkemuka dunia Arab dalam sebuah catatan menyatakan bahwa mundurnya Amerika Serikat dari serangan militer terhadap Iran merupakan indikasi kemunduran kekuatan Washington dan kegagalan perhitungan Tel Aviv.

Abdel Bari Atwan, analis terkenal dunia Arab, dalam sebuah artikel analitis yang menyinggung janji‑janji kampanye Donald Trump untuk “mengembalikan kejayaan Amerika”, menegaskan bahwa Presiden Amerika Serikat tidak hanya gagal memenuhi janji tersebut, tetapi dengan mundur dari serangan militer yang telah direncanakan terhadap Iran, ia telah mengubah wibawa dan kredibilitas Amerika Serikat menjadi “sebuah tontonan yang menggelikan”.

 

Menurut laporan Pars Today, Atwan menulis bahwa serangan tersebut awalnya dirancang sebagai pukulan menentukan untuk mengubah sistem politik Iran, namun dibatalkan pada saat-saat terakhir.

 

Ia menambahkan bahwa perintah untuk memanggil kembali pesawat‑pesawat pembom Amerika dikeluarkan ketika mereka sudah berada di dekat perbatasan Iran. Keputusan ini, menurutnya, diambil setelah panggilan darurat dari Benjamin Netanyahu kepada Trump. Alasan panggilan tersebut adalah kekhawatiran Tel Aviv terhadap kemungkinan respons keras Iran dan peluncuran ribuan rudal ke wilayah pendudukan—serangan yang dapat menghancurkan infrastruktur dan pusat‑pusat vital rezim tersebut secara luas, sekaligus menempatkan pangkalan‑pangkalan Amerika di kawasan dalam bahaya.

 

Analis Arab itu menganggap klaim Trump bahwa serangan dihentikan karena berkurangnya eksekusi terhadap para demonstran di Iran sebagai “alasan yang lemah dan tidak dapat dipercaya”. Ia meyakini bahwa alasan utama mundurnya serangan tersebut adalah ketakutan terhadap konsekuensi militer dan politik yang mungkin timbul akibat respons Iran.

 

Ia menegaskan bahwa untuk pertama kalinya sebuah negara Islam, dengan bertumpu pada kekuatan militernya dan dukungan rakyatnya, secara terbuka berdiri menghadapi Amerika Serikat dan tanpa rasa takut terhadap ancaman, memasuki arena konfrontasi.

 

Atwan juga menyinggung perang dua belas hari dan menyebutnya sebagai contoh jelas dari kemampuan deterensi Iran; di mana, menurutnya, rudal‑rudal balistik Iran berhasil melewati sistem pertahanan udara dan menghantam target‑target penting di Tel Aviv.

 

Ia menilai bahwa peristiwa ini merupakan faktor utama kekhawatiran mendalam para pemimpin rezim Zionis dan alasan mereka meminta secara mendesak agar setiap serangan baru dihentikan.

 

Selanjutnya, Atwan menyebutkan empat alasan utama ketakutan Tel Aviv terhadap eskalasi konflik: kegagalan serangan dalam mengubah sistem politik Iran, ketidakmampuan sistem pertahanan rezim Zionis menghadapi rudal‑rudal Iran, potensi korban besar di antara para pemukim, dan pada akhirnya kemungkinan Iran melampaui ambang nuklir jika perang berlanjut.

 

Penulis ini kemudian, dengan merujuk pada pernyataan Pemimpin Revolusi Islam Iran, menekankan bahwa persatuan rakyat Iran memainkan peran menentukan dalam menggagalkan “fitnah” dan tekanan asing.

 

Di akhir tulisannya, Atwan memperingatkan Reza Pahlavi agar tidak menggantungkan harapan pada dukungan Amerika Serikat dan rezim Zionis, karena sejarah menunjukkan bahwa Washington dan Tel Aviv pada saat‑saat kritis bahkan meninggalkan sekutu terdekat mereka, dan kembali berkuasa dengan mengandalkan dukungan semacam itu hanyalah sebuah ilusi. (MF)