Jejak Kelam Aliansi Rezim Penentang Republik Islam Iran
https://parstoday.ir/id/news/iran-i184894-jejak_kelam_aliansi_rezim_penentang_republik_islam_iran
Kaum monarkis (pendukung sistem kerajaan) bersama sayap media mereka, Iran International, demi menggulingkan Republik Islam Iran, bersedia bersekutu dengan para pelaku genosida dan mengibarkan bendera rezim Zionis pendudukan.
(last modified 2026-02-02T04:17:55+00:00 )
Feb 02, 2026 11:02 Asia/Jakarta
  • Jejak Kelam Aliansi Rezim Penentang Republik Islam Iran

Kaum monarkis (pendukung sistem kerajaan) bersama sayap media mereka, Iran International, demi menggulingkan Republik Islam Iran, bersedia bersekutu dengan para pelaku genosida dan mengibarkan bendera rezim Zionis pendudukan.

Ketika hati nurani dunia bangkit menyaksikan genosida di Gaza, jaringan televisi Iran International dan kelompok monarkis—yang dikenal sebagai penentang keras Republik Islam Iran—tidak hanya memilih diam, tetapi justru berdiri di sisi para penjahat, bahkan mengundang mereka untuk menyerang tanah air mereka sendiri.

Menurut laporan Pars Today, persekutuan jahat ini berakar pada satu permusuhan mendasar: “Tujuan mereka adalah menggulingkan Republik Islam, dan salah satu alasan utama permusuhan ini adalah identitas Islam dari sistem ini serta dukungan tanpa syarat Iran terhadap rakyat Palestina dan perlawanan terhadap rezim Zionis.

Kesalahan Iran: Mendukung Gaza

Kelompok monarkis dan media sejalan seperti Iran International menempatkan diri mereka dalam konfrontasi total dengan ideologi dan kebijakan luar negeri Republik Islam. Dalam pandangan mereka, dukungan Iran terhadap Palestina dan poros perlawanan bukan sekadar kebijakan luar negeri, tetapi merupakan salah satu pilar identitas sistem ini yang harus dihancurkan. Argumen mereka adalah bahwa kebijakan ini menempatkan Iran dalam konfrontasi langsung dengan Barat dan sekutu strategis regional mereka, yaitu Israel. Menurut kelompok oposisi ini, meninggalkan sepenuhnya cita-cita Palestina dan menormalisasi hubungan dengan Israel merupakan “prasyarat mutlak” untuk “mengembalikan Iran ke pangkuan dunia Barat.”

Peliputan tebang pilih; HAM sebagai senjata

Iran International, yang sendiri merupakan faktor terbesar dalam pembajakan demonstrasi di Iran serta dalam seruan terhadap kekerasan dan kejahatan dalam aksi-aksi tersebut, kini menyiarkan penindakan terhadap teroris bersenjata di Iran sebagai “pembantaian rakyat Iran” melalui rekayasa berita palsu.

Dalam hal ini mereka tidak segan berbohong dan bahkan meningkatkan angka korban tewas di Iran hingga lebih dari 13 kali lipat demi memancing reaksi komunitas internasional. Padahal, sebagian besar korban tersebut gugur akibat tindakan pihak-pihak yang—atas hasutan Iran International dan kaum monarkis—bersama agen Mossad dan FBI melakukan pembunuhan terhadap rakyat dan aparat keamanan di jalanan Iran.

Setelah semua kejahatan teroris bersenjata di Iran itu pun, Iran International tidak menghentikan misi propagandanya; sebagaimana perannya sebagai alat propaganda bagi rezim Zionis dalam pembantaian dan genosida di Gaza. Di sini juga, dengan liputan yang dilebih-lebihkan dan sering kali tanpa sumber yang sahih mengenai peristiwa internal Iran, mereka mengibarkan bendera “tuntutan keadilan.” Namun, tuntutan keadilan ini pada hakikatnya adalah sebuah “misi propaganda untuk mendiskreditkan sepenuhnya sistem Republik Islam Iran di tingkat global dan memberikan pembenaran moral bagi intervensi.”

Fokus pada statistik palsu dan proyek “rekayasa kematian” di Iran terjadi pada saat yang sama ketika, terhadap “pembunuhan sistematis puluhan ribu warga Palestina, pengepungan pangan, dan penghancuran total infrastruktur sebuah bangsa” oleh kaum Zionis, jaringan ini bukan hanya bungkam, tetapi justru secara terbuka mendukung Israel. Mengapa? Karena mengutuk kejahatan ini secara tegas berarti mengutuk sekutu vital dalam proyek utama mereka, yaitu “penggulingan Republik Islam Iran.”

Perjalanan pengkhianatan; penandatanganan perjanjian di tanah pendudukan

Logika ini menjelaskan makna lebih dalam dari perjalanan Reza Pahlavi, putra mantan Shah Iran yang terguling, ke wilayah pendudukan pada November 2023 (Aban 1402). Menurut surat kabar Israel The Times of Israel, pada 26 November 2023 Reza Pahlavi hadir di Yerusalem yang diduduki dan bertemu serta berfoto dengan tokoh-tokoh seperti Yair Lapid, mantan Perdana Menteri Israel. Perjalanan ini merupakan sebuah “perjanjian simbolik dan praktis” dengan pesan:“Kami bersatu dengan kalian untuk menjatuhkan sistem yang mendukung Palestina. Dalam Iran masa depan di bawah kepemimpinan kami, permusuhan terhadap Israel tidak akan memiliki tempat.”

Dari persekutuan ke provokasi; normalisasi serangan Israel sebagai sebuah “opsi”

Hubungan ini telah melampaui level simbolik. Para analis yang berafiliasi dengan mereka dalam program-program Iran International dan di akun media sosial berpengaruh kelompok ini, menggambarkan aksi militer Israel untuk menyerang fasilitas nuklir Iran bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai “opsi strategis yang efektif” dan “pukulan mematikan terhadap sistem Iran.”Dalam aksi-aksi jalanan mereka di kota-kota seperti Los Angeles, terdapat dokumentasi visual yang menunjukkan bendera rezim Zionis dikibarkan berdampingan dengan bendera era Pahlavi di tangan para demonstran.

Simbol-simbol dan analisis ini, jika digabungkan, menunjukkan sebuah keselarasan yang berbahaya dan penuh pengkhianatan dengan musuh lama:“Mengundang secara langsung atau tidak langsung sebuah rezim yang dituduh melakukan genosida untuk menyerang tanah dan kedaulatan nasional sendiri, hanya dengan harapan bahwa serangan militer itu akan membuka jalan bagi kembalinya mereka ke kekuasaan.”

Proyek penggulingan dengan harga penyangkalan cita-cita nasional

Kontradiksi yang nyata ini mengungkap satu kenyataan pahit. Bagi kelompok monarkis dan media pendukungnya seperti Iran International, “tujuan menggulingkan Republik Islam telah menjadi begitu sakral dan menjadi poros segalanya, sehingga segala cara—bahkan kerja sama dengan rezim rasis dan pelaku genosida, bahkan penyangkalan dan pengkhianatan terhadap salah satu cita-cita paling sensitif dan historis rakyat Iran, yaitu pembelaan terhadap penderitaan rakyat Gaza dan penentangan terhadap Zionisme—menjadi dapat dibenarkan.”

Mereka siap mengorbankan “keutuhan wilayah, kedaulatan nasional, dan sebuah cita-cita rakyat yang telah lama hidup,” membela rezim pendudukan alih-alih kaum tertindas Gaza, serta menempatkan negara di ambang agresi langsung dari musuh yang selalu dianggap rakyat Iran sebagai perampas dan penindas. Sikap ini bukan sekadar persaingan politik biasa, melainkan definisi praktis dari “pengkhianatan” dalam skala nasional, dan dukungan terhadap penjahat dalam skala global bahkan historis.

Standar ganda mereka dalam isu hak asasi manusia menunjukkan bahwa pada hakikatnya tidak ada kepedulian terhadap HAM; tujuan awal dan akhir mereka hanyalah menggulingkan sebuah sistem, meskipun harus dengan mengorbankan seluruh nilai-nilai dan berdiri di bawah bendera para penjajah dan pelaku genosida.

Hari ini, ketika rakyat Iran dengan jiwa dan harta mereka berdiri membela kaum tertindas Gaza dan dalam dua tahun terakhir telah membayar harga besar untuk cita-cita ini, di sisi lain oposisi Iran di luar negeri justru mempertontonkan skenario pahit pengkhianatan terhadap tanah air di hadapan dunia.(PH)