Kerusuhan Januari; Protes, Kudeta Terselubung, atau Kudeta?
https://parstoday.ir/id/news/iran-i185708-kerusuhan_januari_protes_kudeta_terselubung_atau_kudeta
Ayatullah Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam dalam dua pidatonya pada tanggal 12 dan 28 Bahman (1 dan 17 Februari), dengan penjelasan bertahap, menggambarkan peristiwa bulan Januari di Iran sebagai sebuah kudeta.
(last modified 2026-02-19T05:07:45+00:00 )
Feb 19, 2026 12:00 Asia/Jakarta
  • Kerusuhan Januari; Protes, Kudeta Terselubung, atau Kudeta?

Ayatullah Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam dalam dua pidatonya pada tanggal 12 dan 28 Bahman (1 dan 17 Februari), dengan penjelasan bertahap, menggambarkan peristiwa bulan Januari di Iran sebagai sebuah kudeta.

Pemimpin Besar Revolusi Islam, dalam dua pidato pada tanggal 12 Bahman dan 28 Bahman, dengan proses bertahap dan penjelasan, menggambarkan peristiwa bulan Januari pertama-tama dengan istilah seperti "fitnah" dan "mirip kudeta", dan kemudian menyebutnya sebagai "kudeta". Perubahan dalam tingkat ekspresi ini bukan berarti perubahan dalam analisis fundamental, melainkan penyempurnaan bertahap dimensi fitnah besar ini dan menjadi lebih jelasnya hakikat peristiwa ini dalam kerangka sebuah rencana terorganisir untuk mengguncang struktur sistem. Berdasarkan kumpulan pernyataan beliau, analisis ini dapat dijelaskan dalam beberapa poros logis:

1. Menargetkan Pusat-Pusat Kekuasaan; Ciri Klasik Sebuah Kudeta

Salah satu indikator terpenting kudeta adalah serangan langsung terhadap pusat-pusat kekuasaan dan pemerintahan yang kunci. Pemimpin Republik Islam dalam pidato 12 Bahman, merujuk pada ciri ini, menegaskan, "Target penghancuran adalah pusat-pusat sensitif dan efektif dalam administrasi negara. Mereka menyerang polisi, menyerang pusat-pusat Sepah, menyerang beberapa pusat pemerintahan, menyerang bank-bank." Beliau juga menambahkan bahwa serangan ini tidak hanya bersifat material, tetapi "mereka menyerang masjid-masjid, menyerang Alquran; ini juga dari sisi spiritual."

Deskripsi ini menunjukkan bahwa tujuannya bukan sekadar menyatakan protes atau ketidakpuasan, melainkan fokus pada pelemahan pilar-pilar utama administrasi negara. Dalam pidato kedua, tujuan ini dijelaskan dengan lebih jelas: "Tujuannya adalah untuk melonggarkan fondasi sistem, mengguncangnya, merebut pusat-pusat sensitif, merebut TVRI." Tingkat penetapan tujuan ini, dari perspektif analisis politik, sesuai dengan pola kudeta, karena kudeta pada dasarnya adalah upaya untuk menguasai pusat-pusat kekuasaan kunci guna mengubah atau melemahkan struktur pemerintahan.

2. Rancangan dan Arahan Asing; Elemen Penentu dalam Hakikat Kudeta

Pemimpin Tertinggi dalam kedua pidato menekankan bahwa peristiwa ini bukan sekadar gerakan internal dan spontan, melainkan memiliki rancangan asing. Beliau dalam pidato 12 Bahman menegaskan, "Rencana dan rancangan fitnah ini terjadi di luar negeri, tidak terkait dengan dalam negeri... Rencana digambar dari luar, dikelola dari luar, dan diperintahkan dari luar."

Dalam pidato 28 Bahman, masalah ini dijelaskan dengan lebih rinci: "Badan-badan intelijen dan spionase dua negara, Amerika dan Palestina yang diduduki, yaitu rezim Zionis yang batil ini, dengan bantuan badan intelijen beberapa negara lain — beberapa negara itu pun kami kenal — telah mencari selama ini sejumlah individu jahat atau memiliki kecenderungan kejahatan di negara kita, mereka telah membawa orang-orang ini, memberi mereka uang, memberi mereka senjata, melatih mereka untuk melakukan sabotase, melatih mereka untuk memasuki pusat-pusat militer atau pusat-pusat pemerintahan, dan mengirim mereka ke Iran, menunggu saat yang tepat, sehingga kapan pun ada kesempatan, mereka memulai pekerjaan mereka."

Deskripsi ini menunjukkan adanya proses terorganisir yang mencakup identifikasi personel, pelatihan, perlengkapan, dan arahan, yang merupakan elemen fundamental dari operasi kudeta. Kudeta biasanya bukan reaksi mendadak, melainkan hasil perencanaan dan dukungan sebelumnya.

3. Penggunaan Kekerasan Terorganisir untuk Menciptakan Ketidakstabilan

Ciri penting lain dari kudeta adalah penggunaan kekerasan untuk menciptakan krisis keamanan. Pemimpin Republik Islam dalam pidato 12 Bahman merujuk pada masalah ini dan mengatakan, "Para pemimpin terlatih ini bertugas membuat korban, menciptakan kematian."

Tujuan dari tindakan ini, menurut beliau, adalah untuk meningkatkan jumlah korban dan memperparah krisis guna mendorong kondisi negara menuju ketidakstabilan. Beliau juga menekankan bahwa tujuan utamanya adalah "mengganggu keamanan negara", karena "ketika tidak ada keamanan, tidak ada apa-apa."

Dalam pidato kedua, kekerasan ini digambarkan sebagai bagian dari sebuah strategi: "Kebijakan mereka adalah bahwa gerakan harus kasar dan tanpa pertimbangan; seperti gerakan ISIS." Perbandingan ini menunjukkan bahwa kekerasan bukanlah konsekuensi kebetulan, melainkan bagian dari strategi untuk menciptakan keruntuhan ketertiban umum.

4. Penggunaan Agen Domestik sebagai Alat Eksekusi

Salah satu metode umum dalam kudeta modern adalah penggunaan agen domestik untuk melaksanakan program yang dirancang di luar negeri. Ayatollah Khamenei dalam hal ini menjelaskan bahwa para aktor utama berusaha "mempengaruhi sejumlah audiens yang polos — baik muda maupun tidak muda — membuat mereka marah dan memaksa mereka untuk memasuki medan-medan sulit. Kesempatan ini muncul bagi mereka; sekitar satu setengah bulan lalu mereka memasuki medan dan mendorong para pemuda polos dan tidak berpengalaman ini ke depan."

Beliau juga menekankan bahwa beberapa individu yang berpartisipasi "tertipu, bertindak naif, tidak berpengalaman." Ini menunjukkan bahwa dalam analisis beliau, basis sosial berbeda dari para perancang utama, dan para perancang menggunakan individu-individu ini sebagai alat eksekusi.

5. Transisi dari Istilah "Mirip Kudeta" ke "Kudeta"

Dalam pidato 12 Bahman, Pemimpin Tertinggi dengan nada yang lebih analitis menggunakan istilah "mirip kudeta" dan menjelaskan mengapa beberapa pihak menyebut peristiwa ini sebagai kudeta. Namun dalam pidato 28 Bahman, dengan merangkum berbagai dimensi, analisis ini diungkapkan sebagai berikut: "Apa yang terjadi adalah sebuah 'kudeta' yang gagal."

Pernyataan ini menunjukkan bahwa dari sudut pandang beliau, kumpulan karakteristik peristiwa ini — termasuk rancangan asing, penargetan pusat-pusat pemerintahan, penggunaan kekerasan terorganisir, dan upaya destabilisasi sistem — semuanya sesuai dengan definisi kudeta. Oleh karena itu, beliau menyatakan, "Kudeta ini hancur di bawah kaki bangsa Iran." Kalimat ini, selain menekankan sifat kudeta dari peristiwa tersebut, juga menekankan kegagalannya dalam menghadapi reaksi struktur sistem dan masyarakat.

Kesimpulannya, dari perspektif analisis ini, penggunaan kata "kudeta" untuk menggambarkan peristiwa bulan Januari didasarkan pada serangkaian indikator keamanan, politik, dan organisasi yang dijelaskan secara bertahap dalam pernyataan beliau.(PH)