Bisakah Eropa Bertahan Tanpa AS? Pengakuan Terbuka Jerman
https://parstoday.ir/id/news/world-i185668-bisakah_eropa_bertahan_tanpa_as_pengakuan_terbuka_jerman
ParsToday – Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, menjawab pertanyaan mengapa Ukraina tidak memiliki pertahanan udara dengan terus terang mengatakan, "Sebagian karena kami tidak lagi memiliki pertahanan udara."
(last modified 2026-02-18T08:25:34+00:00 )
Feb 18, 2026 15:24 Asia/Jakarta
  • Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul
    Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul

ParsToday – Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, menjawab pertanyaan mengapa Ukraina tidak memiliki pertahanan udara dengan terus terang mengatakan, "Sebagian karena kami tidak lagi memiliki pertahanan udara."

Menurut laporan harian The Guardian, Menteri Luar Negeri Jerman merujuk pada rudal Patriot dan mengatakan, "Apa yang masih ada adalah produksi Amerika. Sejujurnya, apa pun yang keluar dari pabrik-pabrik di sana sekarang langsung dikirim ke Ukraina. Kami telah menyediakan semua yang kami miliki."

Ia kemudian membebankan tanggung jawab pengiriman senjata ke Kyiv pada negara-negara Eropa lainnya. "Negara-negara Eropa lain dapat lebih banyak membantu Ukraina. Ada sistem pertahanan udara lain di satu atau beberapa negara Eropa."

Jerman setelah Amerika adalah negara pengirim senjata terbesar ke Ukraina. Kini tampaknya Jerman tidak lagi mampu memenuhi ekspektasi persenjataan Ukraina.

Menteri Luar Negeri Jerman juga mengucapkan kalimat yang lebih gamblang tentang ketidakmampuan melengkapi pertahanan udara Ukraina. Dengan menyatakan bahwa Eropa tanpa Amerika Serikat tidak dapat mempertahankan diri, ia menambahkan, "Kami hanya dapat mempertahankan diri bersama Amerika Serikat, tidak sendirian."

Pernyataan gamblang Johann Wadephul ini tidak hanya menggambarkan situasi keamanan darurat Eropa terkait perang Ukraina, tetapi juga merupakan refleksi mendalam dari krisis strategis berkepanjangan Benua Eropa dalam hal "kemandirian keamanan". Krisis yang selama beberapa dekade telah berulang kali diperingatkan oleh lembaga kajian dan analis Barat, tetapi tidak pernah menghasilkan transformasi struktural.

Laporan Guardian tentang habisnya cadangan pertahanan Jerman dan ketergantungan penuh sistem yang tersisa pada produksi Amerika, menyajikan gambaran nyata tentang kesenjangan antara cita-cita "kedaulatan strategis Eropa" dan realitas lapangan.

Kesenjangan ini dapat dilihat sebagai produk dari tiga proses simultan: penurunan berkelanjutan anggaran pertahanan pasca-Perang Dingin, ketergantungan struktural pada payung nuklir Amerika Serikat, dan ketidakmampuan Uni Eropa mengubah kekuatan ekonomi menjadi kapasitas militer perangkat keras.

Lembaga kajian seperti Dewan Hubungan Luar Negeri Eropa dan Institut Internasional untuk Studi Strategis selama beberapa tahun terakhir berulang kali menegaskan bahwa proyek "kemandirian strategis" tidak mungkin tercapai tanpa investasi besar-besaran di bidang pertahanan dan integrasi industri. Pernyataan Menteri Luar Negeri Jerman secara tepat mengungkap kebuntuan ini. Eropa, bahkan untuk melanjutkan dukungan persenjataan ke Ukraina, bergantung pada rantai produksi dan intelijen Amerika.

Dalam kondisi demikian, konsep kemandirian keamanan lebih menyerupai wacana politik daripada realitas operasional.

Poin penting lainnya dalam pernyataan Wadephul adalah kritik terbukanya terhadap Prancis; negara yang secara tradisional dikenal sebagai pengusung ide "Eropa mandiri".

Dari sudut pandang banyak analis, perbedaan Paris dan Berlin mengenai besaran belanja pertahanan dan cara berhubungan dengan Washington merupakan hambatan terpenting bagi pembentukan arsitektur keamanan Eropa yang mandiri. Prancis menekankan otonomi strategis, tetapi pemerintah lain, terutama negara Eropa Timur, masih mendefinisikan keamanan mereka dalam kerangka NATO dan hubungan dengan Amerika. Dualitas ini mempertahankan proyek integrasi pertahanan Eropa pada level simbolis.

Pada tataran teoretis, ketergantungan keamanan Eropa dapat dijelaskan dengan pendekatan "ketergantungan timbal balik asimetris". Konsep ini menunjukkan bahwa meskipun kedua sisi Atlantik saling membutuhkan, biaya pemutusan hubungan ini jauh lebih berat bagi Eropa.

Keunggulan intelijen, nuklir, dan teknologi Amerika, seperti diakui Menteri Luar Negeri Jerman, menyebabkan struktur penangkalan Benua Eropa praktis dibangun di atas kekuatan Washington. Bahkan upaya-upaya seperti Kebijakan Keamanan dan Pertahanan Bersama Uni Eropa atau inisiatif industri pertahanan tidak mampu mengubah ketidakseimbangan ini.

Penolakan tegas terhadap Tiongkok sebagai alternatif keamanan menunjukkan Eropa terjebak dalam dualitas geopolitik: ketidakpuasan terhadap ketergantungan pada Amerika, tetapi ketidakmampuan membayangkan tatanan berbeda. Banyak peneliti hubungan internasional meyakini situasi ini telah menjadikan Eropa sebagai "kekuatan geopolitik yang tidak utuh"; aktor besar dalam ekonomi global, tetapi terbatas dalam menentukan nasib keamanannya sendiri.

Namun, perang Ukraina dapat menjadi titik balik historis. Peningkatan anggaran pertahanan Jerman, diskusi baru tentang penangkalan nuklir Eropa, dan upaya memperkuat industri militer bersama, semuanya merupakan tanda-tanda kebangkitan bertahap. Pertanyaan kuncinya adalah apakah perkembangan ini akan mengarah pada kemandirian nyata, atau sekadar mereproduksi ketergantungan pada Amerika dalam bentuk baru.

Pernyataan Menteri Luar Negeri Jerman harus dilihat lebih dari sekadar komentar sesaat. Ini adalah pengakuan strategis atas keterbatasan kekuatan Eropa. Kemandirian keamanan tidak akan terwujud tanpa kemauan politik bersama, investasi pertahanan berkelanjutan, dan pendefinisian ulang hubungan dengan Amerika.

Selama syarat-syarat ini tidak terpenuhi, Eropa di tengah perang paling intensif di benua ini sejak Perang Dunia II akan tetap berada di bawah bayang-bayang keamanan Washington. Bayangan yang sekaligus merupakan penjamin kelangsungan hidup dan tanda ketidakmampuan strategis.(sl)