Apakah Ibuku juga Terbakar?
https://parstoday.ir/id/news/iran-i184956-apakah_ibuku_juga_terbakar
Marzieh Nabavi-Nia, perawat yang penuh pengabdian, terbakar hidup-hidup dalam kerusuhan bulan Dey di Iran. Putri berusia lima tahunnya masih menunggu kepulangan ibunya.
(last modified 2026-02-03T04:34:10+00:00 )
Feb 03, 2026 11:08 Asia/Jakarta
  • Apakah Ibuku juga Terbakar?

Marzieh Nabavi-Nia, perawat yang penuh pengabdian, terbakar hidup-hidup dalam kerusuhan bulan Dey di Iran. Putri berusia lima tahunnya masih menunggu kepulangan ibunya.

Seorang ibu yang terbakar dalam api, kisah kehidupan seorang perawat yang dalam kerusuhan bulan Dey 1404 Iran dibakar hidup-hidup di tempat kerjanya oleh teroris bersenjata.

Menurut laporan Pars Today, para teroris ini telah menumpahkan darah banyak warga sipil dan personel militer Iran. Salah satu peristiwa paling menyakitkan ini adalah kisah Marzieh Nabavi-Nia, seorang perawat dan ibu muda yang dengan kebiadaban luar biasa dibakar hidup-hidup. Sebuah kisah yang bukan hanya cerita tentang kematian satu orang; melainkan kisah kehancuran sebuah kehidupan yang suci, hancurnya hati sebuah keluarga, dan yatimnya seorang anak berusia lima tahun.

 

Marzieh di masa remaja

Siapakah Marzieh?

Marzieh, seorang gadis asal Ahvaz, berasal dari keluarga religius yang berjumlah tujuh orang. Sejak kecil, ia dikenal sebagai pribadi yang tenang, sopan, dan sangat berbakat dalam melukis serta kaligrafi. Ia adalah seorang saudari yang sejak kecil selalu mendoakan keberhasilan orang-orang yang dicintainya, dan ketika dewasa, ia memperluas doa-doanya itu dengan perbuatannya ke dalam lingkup masyarakat; sebagai seorang perawat dan bidan, ia melayani kesehatan rakyatnya dengan komitmen dan keberanian yang luar biasa. Bahkan di puncak pandemi COVID-19 dan dalam keadaan hamil, ia tidak berhenti bekerja dan tetap hadir di garis depan rumah sakit.

Ia adalah seorang istri dan ibu yang penuh kasih. Setiap tahun pada peringatan Idul Ghadir, ia memasak makanan untuk para tetangganya dan menyumbangkan sebagian penghasilannya kepada kaum miskin. Cinta terbesar dalam hidupnya adalah putri berusia lima tahunnya, Zeinab. Hubungan mereka begitu dalam sehingga setiap kali ibunya pulang dari kerja, Zeinab berlari menyambutnya dan mencium tangan ibunya yang lelah.

 

Marzieh bersama keluarganya

Tragedi di klinik

Pada hari kejadian, Marzieh sedang bertugas di Klinik Imam Sajjad (a.s.) di kota Rasht. Kelompok-kelompok bersenjata dan perusuh, yang pada hari-hari itu juga menyerang harta benda umum dan pusat-pusat pelayanan kesehatan, membakar klinik ini. Marzieh, saat berusaha merawat pasiennya dan mengeluarkannya dengan selamat, terjebak dalam kobaran api. Api itu begitu dahsyat hingga dari tubuhnya hanya sebagian tangan kanannya yang tersisa utuh. Mungkin agar putrinya dapat mencium tangan ibunya untuk terakhir kalinya.

 

Marzieh bersama putrinya, Zeinab

Zeinab yang berusia lima tahun menyaksikan api

Bagian paling mengerikan dari kisah ini adalah kehadiran putri kecilnya, Zeinab, di dekat lokasi kejadian. Anak berusia lima tahun ini, yang pada hari itu gelisah, memaksa ayahnya untuk membawanya ke klinik. Namun ketika mereka tiba, klinik itu sedang terbakar! Kalimat pertama yang diucapkan Zeinab adalah:“Mamaku juga terbakar?”

Sejak hari itu, kehidupan Zeinab berubah untuk selamanya. Anak yang dulu setiap malam merasa tenang dalam pelukan ibunya, kini mencium pakaian-pakaian yang ditinggalkan Marzieh, mencari aroma rasa aman dan wangi pelukan ibunya. Mimpi-mimpi indah telah digantikan oleh mimpi buruk dan kegelisahan. Di usia lima tahun, ia bukan hanya kehilangan ibunya, tetapi juga menyaksikan terbakar dan runtuhnya sebuah bangunan yang dengan runtuhnya itu, dunia “hidup bersama ibu” bagi Zeinab pun runtuh.

 

Marzieh bersama putrinya, Zeinab

Keluarga yang berduka

Saudari Marzieh, Masoumeh, yang menuturkan kisah ini, berbicara tentang sebuah keluarga yang kini berkumpul di sekitar makam saudarinya di “Pemakaman Syuhada Rasht.” Sebuah keluarga yang mengenang acara empat puluh hari, doa-doa sang saudari, dan nasi zereshk-polo (nasi barberry) yang ia sedekahkan kepada para tetangga, namun kini hanya menyimpan kenangannya dalam album-album foto.

Marzieh bersama keluarganya

Pesan yang melampaui sebuah tragedi

Kisah Marzieh Nabavi-Nia bukan sekadar sebuah berita duka. Kisah ini memperlihatkan wajah nyata kekerasan ekstrem; kekerasan yang tidak mengenal batas kemanusiaan dan menyalakan api terhadap perawat, klinik pengobatan, dan bahkan anak-anak berusia lima tahun. Narasi ini mengajukan pertanyaan-pertanyaan serius kepada dunia tentang hakikat kelompok-kelompok yang demi mencapai tujuan mereka, bersedia menciptakan tragedi seperti ini.

Apakah seseorang yang membakar hidup-hidup seorang ibu perawat dapat mengklaim dirinya sebagai pejuang “kebebasan” atau “keadilan”?