Media Iran
Kowsari: Negosiasi Hanya Mengenai Nuklir!
Anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Majelis Syura Islam Iran menegaskan: perundingan yang mungkin terjadi antara Teheran dan Washington hanya akan berada dalam kerangka isu nuklir, dan pencabutan seluruh sanksi merupakan syarat utama Iran.
Ismail Kowsari, anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Majelis Syura Islam Iran, dalam wawancara dengan Kantor Berita Mehr, dengan menyinggung konsultasi mengenai kemungkinan perundingan Iran dan Amerika Serikat, mengatakan: negosiasi adalah sebuah komponen dua arah dan pihak lawan tidak dapat memaksakan tuntutan-tuntutan yang telah ditetapkan sebelumnya dan bersifat berlebihan kepada Iran.
Kowsari menegaskan bahwa kemampuan rudal dan isu-isu regional Iran sama sekali tidak ada kaitannya dengan Amerika Serikat dan Barat, seraya menambahkan: kerangka perundingan sudah jelas dan hanya dilakukan dalam bidang nuklir; Amerika harus mencabut seluruh sanksi, dan jika tidak, Iran tidak akan tunduk pada tuntutan mereka.
Kowsari, dengan menegaskan hak legal Iran untuk melakukan pengayaan uranium di dalam negeri, berkata: aktivitas nuklir Republik Islam Iran sepenuhnya bersifat damai dan tidak ada satu pun tindakan yang dilakukan bertentangan dengan peraturan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Anggota parlemen Iran tersebut menyebut upaya Barat untuk menuduh Iran membangun senjata nuklir sebagai “kebohongan dan penipuan”, serta mengingatkan bahwa Pemimpin Revolusi Islam secara tegas telah mengeluarkan fatwa tentang keharaman senjata nuklir.
Anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Majelis Syura Islam Iran, terkait upaya beberapa negara Eropa untuk berperan dalam perundingan, menambahkan: negara-negara Eropa berulang kali menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki kemandirian sikap dan pada praktiknya bergerak dalam kerangka kebijakan Amerika Serikat.
Dehqan: Perubahan fase Amerika dari perang ke negosiasi adalah hasil daya tangkal Iran
Sementara itu, Gholamali Dehqan, analis politik, dalam wawancara dengan Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA), dengan menyinggung mundurnya Donald Trump dari opsi serangan militer terhadap Iran, mengatakan: kemampuan internal Iran, bersama dengan variabel-variabel regional dan global, telah memaksa Amerika Serikat untuk meninjau kembali perhitungannya.Dehqan menambahkan: ancaman-ancaman berulang Iran tentang respons tegas dan menyeluruh terhadap setiap agresi, dengan jelas menunjukkan bahwa perang dapat berubah menjadi konflik regional yang luas; sesuatu yang tidak diinginkan oleh Amerika Serikat.
Analis politik tersebut, dengan merujuk pada kinerja Iran dalam perang 12 hari, menegaskan: penggunaan efektif kemampuan rudal dan drone Iran telah mengubah kalkulasi militer dan menunjukkan bahwa setiap petualangan militer akan membawa biaya yang sangat berat bagi Amerika Serikat dan sekutunya.
Juru bicara Front Reformasi: Rakyat Iran berkali-kali menunjukkan bahwa mereka berdiri bersama Iran
Javad Emam, juru bicara Front Reformasi Iran, dalam wawancara dengan IRNA, mengatakan: rakyat Iran berkali-kali menunjukkan bahwa mereka berdiri bersama Iran dan telah membayar harga demi menjaga negara ini.
Emam, dalam penilaiannya terhadap kerusuhan baru-baru ini di negara tersebut serta peran Amerika Serikat dan rezim Zionis dalam menciptakan kerusuhan dan kekacauan jalanan serta akar permasalahannya, mengatakan: harus disediakan ruang yang legal dan sipil untuk menyampaikan tuntutan rakyat, dan dengan respons yang tepat waktu serta sesuai terhadap tuntutan tersebut, jangan sampai terbuka peluang bagi musuh untuk melakukan penyalahgunaan.
Aktivis politik itu menegaskan: musuh-musuh asing berupaya mengubah protes sah rakyat menjadi kekacauan dan ketidakamanan, namun pada akhirnya rakyatlah yang dengan keteguhan mereka menunjukkan bahwa mereka tetap memiliki rasa tanggung jawab terhadap Iran.
Diplomat Iran: Ancaman Trump adalah bagian dari gaya negosiasinya
Mojtaba Ferdousipour, Kepala Kantor Perlindungan Kepentingan Iran di Kairo, juga mengatakan: Teheran tidak akan menerima isu baru apa pun untuk dinegosiasikan, dan negosiasi di bawah tekanan serta ancaman merupakan garis merah Iran.Menurut laporan Kantor Berita Fars, Ferdousipour dengan menyatakan bahwa perundingan tidak langsung di Oman hanya dapat menghasilkan hasil positif jika ancaman militer dihentikan dan sanksi dicabut, menambahkan: isu-isu rudal dan pertahanan Iran tidak memiliki tempat dalam agenda perundingan.
Mojtaba Ferdousipour – Kepala Kantor Perlindungan Kepentingan Iran di Kairo