Mengapa Menjelang Perundingan Nuklir, Perang Kognitif dan Media terhadap Iran Meningkat?
https://parstoday.ir/id/news/iran-i185088-mengapa_menjelang_perundingan_nuklir_perang_kognitif_dan_media_terhadap_iran_meningkat
Pars Today – Rabu (4/2/2026) malam dan dua hari sebelum penyelenggaraan perundingan baru nuklir antara Iran dan Amerika Serikat di Oman, sejumlah media Amerika mengklaim pembalatan perundingan.
(last modified 2026-02-06T04:28:33+00:00 )
Feb 06, 2026 11:26 Asia/Jakarta
  • Iran-Amerika Serikat
    Iran-Amerika Serikat

Pars Today – Rabu (4/2/2026) malam dan dua hari sebelum penyelenggaraan perundingan baru nuklir antara Iran dan Amerika Serikat di Oman, sejumlah media Amerika mengklaim pembalatan perundingan.

Kemudian, sejumlah media juga mengklaim bahwa Amerika Serikat, dengan perantaraan beberapa negara Arab, siap melakukan perundingan dengan Iran. Berita dan pernyataan tersebut dibantah oleh Sayid Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, yang menegaskan bahwa perundingan akan tetap diselenggarakan pada hari Jumat (6/2/2026) di Oman.

 

Setelah terjadinya peningkatan ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara Iran dan Amerika Serikat serta meningkatnya kemungkinan pecahnya perang baru di kawasan Asia Barat, dengan mediasi sejumlah negara di kawasan, disepakati bahwa Teheran dan Washington akan memulai putaran baru perundingan. Muskat, ibu kota Oman, akan menjadi tuan rumah putaran baru perundingan Iran–Amerika yang dijadwalkan berlangsung, Jumat, 6 Februari.

 

Namun kemarin, tanpa adanya pengumuman resmi dari pejabat politik pemerintah Amerika Serikat mengenai pembatalan perundingan, media-media yang berafiliasi dengan mereka secara luas memberitakan pembatalan tersebut. Meskipun perbedaan pendapat antara Iran dan Amerika Serikat berada pada tingkat yang tinggi, tampaknya berita pembatalan perundingan yang disiarkan oleh media Amerika Axios memiliki tujuan kognitif dan merupakan bentuk perang kognitif serta media terhadap Iran.

 

Pertanyaannya adalah, mengapa perang kognitif terhadap Republik Islam Iran menjadi penting menjelang perundingan? Tampaknya tujuan terpentingnya adalah melanjutkan pendekatan menekan Iran untuk memperoleh konsesi maksimal. Amerika Serikat dan Zionis sangat menyadari bahwa Republik Islam Iran tidak bersedia berdialog atau bernegosiasi mengenai garis-garis merahnya, khususnya terkait kemampuan rudal.

 

Di sisi lain, mereka juga terus mengulangi kesalahan perhitungan bahwa Republik Islam Iran berada dalam posisi lemah dan tidak mampu mempertahankan diri dalam perang berikutnya.

 

Dengan asumsi keliru ini, mereka melanjutkan perang kognitif hingga detik-detik terakhir agar dapat meraih konsesi maksimal dari Iran di meja perundingan. Namun demikian, stabilitas dan ketegasan para pejabat politik di Iran membuktikan bahwa Iran tidak berada dalam posisi lemah dan tidak akan tunduk pada tuntutan berlebihan dari pihak Amerika.

 

Tujuan lainnya adalah bahwa menjelang putaran baru perundingan Iran–Amerika Serikat di Muskat, Washington dengan menciptakan ambiguitas mengenai pelaksanaan perundingan serta bersikeras memperluas cakupan isu, berupaya menguji tekad dan garis-garis merah Iran.

 

Cuitan Araghchi dan penekanannya bahwa perundingan semata-mata bersifat nuklir menunjukkan bahwa Republik Islam Iran menyadari jenis “operasi psikologis yang direncanakan” ini untuk menerapkan tekanan maksimal dan tidak akan terpengaruh olehnya. Para pejabat Republik Islam Iran dengan tegas menekankan tidak akan menyimpang dari kerangka sebelumnya dan menilai perilaku tersebut sebagai tanda “ketidakseriusan” Amerika Serikat.

 

Tujuan ketiga adalah menyampaikan pesan yang keliru dan menyesatkan kepada opini publik global. Amerika Serikat, yang gagal dalam skenario pengerahan kekuatan militer terhadap Iran dan bahkan tidak mampu menampilkan citra penyerahan Iran kepada opini publik dunia, kemudian beralih ke perang psikologis. Sasaran operasi ini adalah menanamkan anggapan bahwa Teheran, di bawah tekanan, menerima perundingan demi memenuhi tuntutan Washington.

 

Cuitan Araghchi membatalkan narasi perundingan dari posisi tekanan dan menunjukkan bahwa Iran memasuki dialog atas pilihan dan inisiatifnya sendiri, bukan sebagai reaksi terhadap ancaman militer atau tekanan sesaat. Cuitan ini dapat dipandang sebagai sebuah serangan balik yang tepat dalam perang narasi serta upaya menghadapi perang kognitif yang terarah. (MF)