Guru Masa Depan Wajib Melek Algoritma di Era AI
-
Sayid Hossein Mousavi, Wakil Bidang Riset Universitas Tarbiat Moallem Iran
ParsToday – Wakil Bidang Riset Universitas Tarbiat Moallem Iran menegaskan pendidikan guru di era kecerdasan buatan memerlukan perhatian khusus pada literasi algoritmik untuk mempersiapkan kehidupan berkewargaan di dunia teknologi cerdas.
Melaporkan dari IRNA, ParsToday pada Rabu, 18 Februari 2026, Sayid Hossein Mousavi, Wakil Bidang Riset Universitas Tarbiat Moallem Iran, Selasa dalam Konferensi Nasional ke-7 dan Konferensi Internasional ke-2 tentang Pendidikan Guru dengan tema "Memikirkan Ulang Pendidikan Guru di Era Kecerdasan Buatan" yang berlangsung di Pusat Konferensi Amir Kabir, Arak, Provinsi Markazi, Iran, menekankan perlunya peninjauan kembali konseptual dalam pendidikan guru dan perhatian pada literasi algoritmik.
Mousavi dalam menjelaskan konsep literasi algoritmik mengatakan, "Kata algoritma diambil dari nama ilmuwan Muslim, Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi, yang dengan menulis kitab Al-Jabr, memperkenalkan konsep pemecahan masalah bertahap dan dapat diprediksi ke dalam literatur ilmiah."
Wakil Bidang Riset Universitas Tarbiat Moallem Iran menambahkan bahwa literasi algoritmik adalah kemampuan memahami mekanisme internal perangkat lunak dan memahami cara mesin memproses, memprioritaskan, dan menyembunyikan data.
Perubahan Peran Guru di Era AI
Wakil Bidang Riset Universitas Tarbiat Moallem dengan menekankan perbedaan antara literasi komputer dan literasi algoritmik menambahkan, "Jika literasi komputer adalah kemampuan bekerja dengan perangkat lunak, maka literasi algoritmik adalah memahami cara kerja perangkat lunak itu sendiri dan mekanisme pengambilan keputusan mesin di dunia di mana masa depan dengan cepat berubah menjadi masa kini, lalu menjadi masa lalu."
Ia menegaskan bahwa mengabaikan keterampilan ini akan meningkatkan kesenjangan Iran dengan perkembangan global.
Mousavi merujuk pada peran pendidikan dan mengatakan, "Sistem pendidikan guru harus mengambil langkah-langkah agar para guru dapat memanfaatkan kecerdasan buatan secara optimal dan bertanggung jawab. Syarat kehidupan berkewargaan di era kecerdasan buatan adalah memiliki literasi algoritmik, dan hal ini harus diperhatikan dalam kebijakan makro pendidikan."
Ia menambahkan, "Mulai dari personalisasi pembelajaran hingga otomatisasi manajemen pendidikan, semua menunjukkan bahwa peran guru harus berubah dari mahatahu menjadi fasilitator cerdas pembelajaran. Guru masa kini harus memiliki kemampuan memanfaatkan kecerdasan buatan secara bijaksana."
Wakil Bidang Riset Universitas Tarbiat Moallem di akhir menegaskan, "Anak masa kini adalah manusia yang memiliki martabat, kebebasan, dan kehendak. Jangan biarkan mesin menggantikan kehendak dan tanggung jawabnya. Algoritma adalah alat dan harus melayani pendidikan, bukan mencabut kehendak dari manusia."(sl)