Drone Shahed‑136; Alat Penghancur Iran terhadap AS dan Rezim Zionis
https://parstoday.ir/id/news/iran-i186880-drone_shahed_136_alat_penghancur_iran_terhadap_as_dan_rezim_zionis
Pars Today – Setelah serangan terbaru Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai tindakan balasan telah memulai Operasi “Janji Sejati 4” (Operation True Promise 4) dengan peluncuran berbagai jenis rudal balistik terhadap posisi-posisi musuh.
(last modified 2026-03-21T17:31:19+00:00 )
Mar 15, 2026 12:30 Asia/Jakarta
  • Drone Shahed-136
    Drone Shahed-136

Pars Today – Setelah serangan terbaru Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai tindakan balasan telah memulai Operasi “Janji Sejati 4” (Operation True Promise 4) dengan peluncuran berbagai jenis rudal balistik terhadap posisi-posisi musuh.

Menurut laporan Pars Today, menyusul serangan Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran sejak 28 Februari 2026, Pasukan Dirgantara IRGC dalam langkah balasan memulai operasi “Janji Sejati 4”, yang hingga kini telah memasuki 49 tahap, dengan menggunakan berbagai jenis rudal balistik dan drone, khususnya drone Shahed‑136.

 

Signifikansi

 

Kemampuan drone Iran dalam beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan yang signifikan dengan menitikberatkan pada dua unsur utama, yaitu kuantitas dan kualitas kendaraan udara tak berawak. Saat ini Iran telah menjadi kekuatan drone di kawasan dan memiliki posisi khusus di antara negara‑negara yang memiliki teknologi pembuatan drone.

 

Drone pada umumnya dapat diklasifikasikan menjadi drone pengintai, drone tempur, dan drone penghancur (loitering munition). Drone penghancur termasuk jenis baru kendaraan udara tak berawak yang jumlah contohnya sangat terbatas bahkan di antara negara-negara yang memiliki teknologi desain dan produksi drone.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, khususnya selama Perang Nagorno‑Karabakh tahun 2020 dan Perang Ukraina tahun 2022, berbagai jenis drone penghancur telah digunakan secara luas dan menunjukkan kinerja yang efektif. Republik Islam Iran juga, dalam rangka pengembangan berbagai jenis drone dengan ukuran dan misi yang berbeda, telah mencapai teknologi drone penghancur selama beberapa tahun terakhir. Drone Shahed‑136 merupakan salah satu pencapaian penting Iran di bidang ini.

 

Tinjauan umum

 

Drone Shahed‑136 merupakan hasil upaya Iran sejak dekade 2000‑an (sekitar tahun 1390 kalender Persia). Setelah melakukan perencanaan dan investasi dalam pengembangan drone taktis dan pengintai, Pasukan Dirgantara IRGC kemudian beralih pada pengembangan drone penghancur atau yang dikenal sebagai loitering munition.

 

Strategi ini dipandang sebagai solusi yang lebih murah dan andal dibandingkan rudal presisi untuk menghancurkan sistem pertahanan udara serta target tetap. Strategi tersebut terbukti efektif, menciptakan daya tangkal, dan kini menjadi salah satu opsi militer tetap bagi Iran.

 

Shahed‑136 adalah drone penghancur yang dirancang oleh Industri Penerbangan Shahed milik Pasukan Dirgantara IRGC. Drone ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2021 (1400 kalender Persia) dalam Latihan Militer “Payambar‑e Azam 15”. Produksi drone ini dilakukan oleh Iran Aircraft Manufacturing Industries Company (HESA). Proyek ini bersifat rahasia, sehingga rincian spesifikasi teknis dan tampilannya tidak dipublikasikan secara lengkap.

 

Drone Shahed‑136 memiliki berat sekitar 200 kilogram dengan panjang badan sekitar 3,5 meter. Pada bagian hidungnya terdapat muatan bahan peledak, dan drone ini juga dilengkapi sistem optik canggih untuk melakukan serangan yang presisi. Rentang sayapnya sekitar 2,5 meter.

 

Drone Shahed yang biasanya diluncurkan secara berkelompok (swarm) dapat diluncurkan dari kendaraan truk dan bergerak menuju target yang telah ditentukan dengan kecepatan lebih dari 185 km/jam.

 

Misi utamanya adalah menghancurkan sistem pertahanan udara serta peralatan dan persenjataan tetap milik musuh. Drone ini menggunakan mesin piston empat silinder MD‑550 dengan daya sekitar 50 tenaga kuda, memiliki jangkauan lebih dari 1.500 kilometer, mampu terbang hingga ketinggian sekitar 16.000 kaki (sekitar 5 kilometer), dan dapat terus terbang hingga bahan bakarnya habis.

 

Shahed‑136 mampu membawa hulu ledak peledak sekitar 50 kilogram. Karena pada drone penghancur seperti Shahed‑136 biasanya durasi ketahanan terbang tidak diumumkan, maka data resmi mengenai hal tersebut tidak dipublikasikan. Namun diperkirakan, berdasarkan karakteristik desainnya, durasi terbangnya kemungkinan kurang dari 10 jam. Kecepatan drone ini sekitar 185 km/jam (115 mil per jam).

 

Menurut para pakar, desain badan Shahed‑136 memiliki kemiripan dengan drone bunuh diri Harpy, yang merupakan versi lebih kecil dari drone penghancur Harop. Pendekatan ini dilakukan untuk mengurangi biaya sekaligus mempertahankan desain yang telah terbukti andal.

 

Badan Shahed‑136 dirancang sedemikian rupa sehingga memiliki pantulan radar yang sangat rendah. Sayapnya berbentuk delta, yang secara aerodinamis memungkinkan penerbangan lebih stabil serta peningkatan kecepatan. Pada kedua ujung sayap terdapat sirip vertikal untuk meningkatkan kendali penerbangan. Mesin ditempatkan di bagian belakang, sementara hulu ledak peledak berada di bagian hidung drone.

 

Karakteristik

 

Shahed‑136 merupakan drone siluman yang sepenuhnya sulit dideteksi radar. Disebutkan bahwa pada badan pesawat digunakan material penyerap gelombang radar, sehingga dapat mengurangi pantulan radar. Sayap berbentuk delta juga berkontribusi dalam mengurangi luas penampang radar (radar cross section).

 

Menurut sumber-sumber Barat, luas penampang radar Shahed‑136 sekitar 0,05 meter persegi pada jarak 5 kilometer, yang secara analogi dapat dibandingkan dengan objek seukuran nyamuk pada jarak sekitar 5 meter.

 

Meskipun karena menggunakan mesin dua langkah suara mesin Shahed‑136 relatif keras, sistem pertahanan udara maupun rudal panggul (MANPADS) sering kali tidak mampu menembaknya atau hanya dapat melakukannya dengan kesulitan besar. Di sisi lain, suara tersebut juga dapat menimbulkan rasa takut dan tekanan psikologis bagi pihak musuh, meskipun dengan beberapa langkah teknis suara tersebut dapat dikurangi atau diredam, meskipun pada jarak kurang dari 1 kilometer masih dapat terdengar.

 

Selain itu, disebutkan bahwa Shahed‑136 juga dilengkapi dengan sistem peperangan elektronik (electronic warfare) atau jamming.

 

Sistem pemandu Shahed‑136 bekerja secara otomatis. Drone ini dapat bergerak menuju target dengan mengambil koordinat sasaran sebelum peluncuran, tanpa memerlukan campur tangan pilot maupun stasiun kendali darat, hingga akhirnya mengenai target. Diperkirakan bahwa Industri Shahed milik IRGC kemungkinan telah memanfaatkan kecerdasan buatan dalam sistem pemandu drone penghancur ini.

 

Belum diketahui secara pasti apakah Shahed‑136 memiliki kemampuan kembali ke pangkalan asal jika operasi dibatalkan atau tidak selesai. Beberapa sumber menyatakan bahwa drone ini tidak menggunakan sistem navigasi satelit, melainkan mengunci target menggunakan sensor inframerah atau sistem optik khusus, yang dipadukan dengan sistem navigasi otomatis menuju sasaran.

 

Sementara itu, sejumlah sumber lain melaporkan bahwa drone ini menggunakan sistem navigasi satelit GLONASS. Situs web Amerika Defense Express menulis bahwa drone bunuh diri Shahed‑136 Iran memiliki karakteristik yang membuat penggunaan radar untuk melacaknya menjadi sulit. Drone ini memiliki kemampuan siluman radar yang tinggi, dan mengingat Iran berada di bawah sanksi internasional, kemampuan untuk memproduksi drone seperti ini di dalam negeri dianggap cukup mengejutkan.

 

Drone-drone Iran hingga kini belum diteliti secara rinci oleh para pakar, namun apabila kemampuan siluman radar mereka benar-benar setinggi yang dilaporkan, maka kemungkinan untuk dapat ditembak oleh sistem pertahanan udara menjadi relatif kecil.

 

Formasi Tempur

 

Formasi tempur dan strategi utama penggunaan drone Shahed‑136 adalah serangan berkelompok atau swarm attack. Hal ini terlihat dalam Latihan Militer “Payambar‑e Azam 17”. Dalam latihan tersebut, truk komersial yang dilengkapi kontainer berkapasitas lima unit digunakan untuk menempatkan drone Shahed‑136 dalam kondisi siap diluncurkan.

 

Taktik penggunaan truk komersial untuk meluncurkan Shahed‑136 ini disebut “strike and escape” (pukul dan pergi).

 

Taktik serangan berkelompok praktis tidak memberi peluang bagi sistem pertahanan udara dan dapat melumpuhkan kemampuan intersepsi mereka. Sebagai contoh, jika dalam satu waktu 20 unit drone bunuh diri Shahed‑136 terbang dengan kecepatan maksimum pada ketinggian rendah menuju sistem pertahanan udara, maka sistem tersebut tidak akan mampu melacak dan mencegat seluruh drone tersebut. Dengan kata lain, sistem pertahanan udara hampir tidak memiliki peluang untuk menembak jatuh drone-drone tersebut pada ketinggian rendah, sehingga kemungkinan mengenai target dan menghancurkannya menjadi sangat tinggi.

 

Namun demikian, tidak semua drone penghancur ditugaskan untuk menghancurkan sistem pertahanan udara. Biasanya hanya beberapa drone yang digunakan untuk menonaktifkan sistem pertahanan udara, sementara drone lainnya diarahkan untuk menyerang target-target lain, yang sebenarnya merupakan misi utama. Meskipun demikian, setiap drone Shahed‑136 juga dapat ditetapkan satu target tertentu dan dikunci langsung pada sasaran tersebut.

 

Walaupun taktik utama Shahed‑136 adalah serangan berkelompok, drone ini juga dapat digunakan secara tunggal untuk menyerang target tertentu.

 

Salah satu skenario yang juga dibahas mengenai taktik serangan Shahed adalah kemungkinan bahwa satu unit Shahed‑136 berperan sebagai “pemimpin”, sementara drone-drone lainnya mengikuti perintahnya. Pola serangan seperti ini dikenal sebagai serangan berbasis jaringan (network‑centric attack) dengan memanfaatkan kecerdasan buatan, yang dianggap sebagai langkah penting dalam perkembangan peperangan modern. (MF)