"Munafik ala Tartuffe": Jubir Kemenlu Iran Sindir Menteri Prancis dengan Sandiwara Molière
-
Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran
Pars Today - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, dalam sebuah pesan menanggapi klaim simpati Menteri Luar Negeri Prancis terhadap rakyat Iran, menulis bahwa pernyataan tersebut adalah puncak kemunafikan dan kepura-puraan (riyakarī).
Melansir IRNA, 20 Juni 2026, ParsToday melaporkan bahwa Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, dalam sebuah pesan di media sosial yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri Prancis, menulis:
"Tuan Menteri, tampaknya kemunafikan dan kepura-puraan hingga hari ini tetap menjadi ciri khas budaya politik Prancis, keburukan yang sama yang digambarkan dengan tepat oleh Molière dalam lakon Tartuffe atau Si Munafik (1664): 'Kemunafikan telah menjadi mode'."
Jubir Kementerian Luar Negeri Iran melanjutkan, "Anda diam ketika kota-kota Iran dibom dengan kejam dan warga Iran yang tak bersalah di Minab, Tehran, Lamerd, Isfahan, dan tempat-tempat lainnya dibantai secara biadab. Anda ikut bersekongkol dengan para agresor. Dan hari ini, untuk kepentingan politik rezim Anda, tiba-tiba hati nurani Anda bangkit secara selektif, dan Anda dengan lancang berkhotbah tentang hak asasi manusia rakyat Iran!"
Baghaei menegaskan di akhir pesannya: "Sungguh kemunafikan dan kepura-puraan yang luar biasa!"
Pernyataan Baqaei ini menggunakan dua senjata tajam sekaligus: budaya dan sejarah. Dengan merujuk pada Tartuffe, lakon klasik Prancis tentang seorang munafik yang berpura-pura saleh, ia tidak hanya mengecam, tetapi juga membalikkan narasi dengan menggunakan simbol budaya Prancis sendiri untuk menyerang Prancis.
Ada beberapa lapisan pesan yang disampaikan:
"Kamu Munafik karena Diam Saat Kami Dibunuh": Ini adalah tuduhan paling berat. Baghaei menuduh Prancis berpura-pura peduli pada hak asasi manusia hanya setelah perang usai, padahal saat pemboman terjadi, mereka diam. Baginya, ini adalah "simpati selektif" yang hanya muncul ketika menguntungkan secara politis.
"Kamu Menggunakan HAM untuk Kepentingan Politik": Tuduhan bahwa Prancis tidak benar-benar peduli pada rakyat Iran, tetapi hanya menggunakan isu hak asasi manusia sebagai alat untuk menekan pemerintah Iran.
"Kamu Adalah Tartuffe": Dengan merujuk pada tokoh munafik dalam drama Prancis, Baghaei menuduh Prancis memainkan sandiwara moralitas, bertindak seolah-olah mereka berada di pihak yang benar, padahal tindakan mereka menunjukkan sebaliknya.
Mengapa ini menarik?
Karena ini adalah contoh diplomasi yang menggunakan budaya sebagai senjata. Baghaei tidak sekadar menuduh; ia mengutip salah satu karya sastra terbesar Prancis untuk membungkam kritik Prancis. Ini adalah serangan yang sulit dibantah, karena ia menggunakan "senjata" Prancis sendiri untuk melawan Prancis. Dalam bahasa diplomatik, ini adalah serangan yang sangat cerdas dan pedas, sebuah tamparan yang diberikan dengan sarung tangan sutra.(Sail)