Respon Rahbar terhadap Perpanjangan Sanksi
https://parstoday.ir/id/news/iran-i26581-respon_rahbar_terhadap_perpanjangan_sanksi
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran (Rahbar), Ayatullah Sayid Ali Khamenei pada Rabu (23/11/2016) bertemu dengan para komandan Basij dan ribuan anggota organisasi itu dari seluruh negeri di Tehran.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Nov 24, 2016 12:10 Asia/Jakarta
  • Respon Rahbar terhadap Perpanjangan Sanksi

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran (Rahbar), Ayatullah Sayid Ali Khamenei pada Rabu (23/11/2016) bertemu dengan para komandan Basij dan ribuan anggota organisasi itu dari seluruh negeri di Tehran.

Pada kesempatan itu, Rahbar menanggapi keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat yang memperpanjang Undang-Undang Sanksi Iran selama 10 tahun ke depan, dan mengatakan pemerintah Barack Obama sudah melakukan serangkaian pelanggaran terhadap perjanjian nuklir dan kasus terbaru adalah perpanjangan 10 tahun sanksi.

"Tentu ini melanggar Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) jika sanksi diberlakukan dan perlu diketahui bahwa Republik Islam Iran pasti akan memberikan respon," tegasnya.

Tindakan dan kebijakan AS selalu menjadi sumber munculnya ancaman dan ketidakamanan bagi Iran. Inkonsistensi Washington dalam perjanjian nuklir juga bagian dari kebijakan tersebut.

Jika kita menerima bahwa tujuan dari perjanjian nuklir dan implementasi JCPOA adalah untuk membangun kepercayaan serta menghapus tekanan dan sanksi terhadap Iran, maka harus dikatakan bahwa pihak lawan terutama AS belum melaksanakan komitmen-komitmennya.

Washington mengetahui bahwa Tehran secara penuh telah melaksanakan komitmennya dan Menteri Luar Negeri AS John Kerry berkali-kali mengkonfirmasikan masalah ini. Sejumlah laporan yang diterbitkan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pasca perjanjian nuklir juga membenarkan kepatuhan Iran. Akan tetapi, AS mencoba untuk menjadikan perjanjian nuklir sebagai instrumen untuk menekan rakyat dan pemerintah Iran.

Tindakan itu menunjukkan bahwa ancaman terhadap Iran punya bentuk yang beragam, mulai dari ancaman serangan militer sampai perang lunak. Setelah proyek propaganda AS terhadap isu nuklir Iran gagal dan lahirnya JCPOA, negara itu tetap tidak sudi menghentikan tindakan konfrontatif terhadap rakyat Iran. Oleh karena itu esensi perilaku AS sama sekali tidak berubah.

Perpanjangan sanksi dan situasi darurat terhadap Iran, memperlihatkan bahwa Washington dengan alasan-alasan tak berdasar ingin mempertahankan tekanan terhadap Tehran.

Pasca pelaksanaan JCPOA, sepak terjang Iran dalam perimbangan regional menjadi lebih dominan dan perubahan ini mendorong AS untuk mengintensifkan pendekatan bermusuhan terhadap Republik Islam di bidang-bidang lain. AS mencoba mengesankan Iran sebagai ancaman bagi keamanan regional. Tudingan Iran mendukung terorisme juga termasuk di antara propaganda Washington untuk menekan Tehran.

Sejalan dengan kebijakan tersebut, AS juga menyeret negara-negara di kawasan dalam konflik etnis dan sektarian serta mencegah terciptanya konvergensi di tengah mereka.

AS tidak dapat menerima semangat revolusioner bangsa Iran, sikap independen Republik Islam, dan penolakan mereka terhadap hegemoni Paman Sam. Tidak diragukan lagi bahwa satu-satunya jalan melawan konspirasi dan arogansi sistem hegemoni adalah perlawanan revolusioner yang berlandaskan pada kearifan. (RM)