Kunjungan Menlu Iran ke Cina
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran yang memimpin sebuah delegasi tinggi politik dan ekonomi tiba di Cina pada Senin, 5 Desember 2016. Setibanya di Beijing, Mohammad Javad Zarif langsung bertemu dan berdialog dengan Wang Yi, mitranya dari Cina.
Zarif dan Wang Yi menekankan bahwa semua pihak yang terlibat dalam perundingan nuklir dengan Iran harus sepenuhnya menjaga komitmennya dalam JCPOA (Rencana Aksi Bersama Komprehensif). Mereka mengatakan bahwa Iran dan Cina memiliki pendekatan umum terkait isu-isu regional dan internasional.
Hubungan Iran dan Cina –sebagai dua negara penting Asia yang terletak di Jalur Sutra– semakin erat dan meningkat di bidang ekonomi, politik, budaya, keamanan dan pertahanan dalam konteks perkembangan regional. Kunjungan Menlu Iran ke Cina dilakukan dalam kerangka tersebut.
Dari sudut pandang keamanan, jalinan erat kerjasama dengan Cina di semua sektor termasuk pertahanan adalah penting. Jenderal Chang Wanquan, Menteri Pertahanan Nasional dan Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Cina dalam kunjungan terbaru ke Tehran telah bertemu dengan para pejabat senior Iran untuk membahas kerjasama keamanan dan pertahanan.
Hassan Rouhani, Presiden Iran dalam pertemuan dengan Menhan Nasional Cina menyebut terorisme dan intervensi ilegal sejumlah negara terhadap urusan internal negara-negara lain sebagai dua ancaman besar. Ia menegaskan bahwa hubungan Iran dan Cina akan berlanjut berdasarkan sikap saling menghormati dan demi kepentingan bersama.
Kerjasama antara Iran dan Cina pasca JCPOA –di mana perjanjian ini menciptakan suasana yang tepat untuk menjalin kerjasama lebih di sektor energi, pertahanan, ekonomi, nuklir dan di bidang-bidang lainnya– akan meningkat. Oleh karena itu, tema pertama yang menarik dalam kunjungan Menlu Iran ke Beijing bagi kalangan politik adalah hubungan strategis antara Iran dan Cina.
Hal tersebut dapat dipahami mengingat adanya ancaman di sekitar Iran dan Cina dan pandangan selaras antara Tehran dan Beijing untuk mempertahankan stabilitas dan keamanan regional serta pemberantasan terorisme.
Jelas bahwa untuk menjamin keamanan diperlukan kerjasama kolektif. Peningkatan kerjasama di antara negara-negara yang berpengaruh dan yang sejalan atas transformasi regional dan internasional dapat menciptakan dasar bagi kerjasama multilateral yang pada akhirnya bisa memperkuat stabilitas dan keamanan bersama.
Ancaman teroris dan peningkatan kehadiran Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan AS di Asia Tengah dan Asia Barat berubah menjadi masalah penting di kawasan dan dunia. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa perluasan kerjasama Iran dengan negara-negara seperti Cina dan Rusia didasarkan pada pemahaman bersama tentang ancaman tersebut. Hal ini juga sesuai dengan keselarasan hubungan mendalam di antara negara-negara itu.
Ekonomi Cina dan Iran saling melengkapi. Selain itu, Cina sebagai salah satu anggota Dewan Keamanan PBB dan salah satu pihak yang terlibat dalam JCPOA menilai peningkatan kerjasamaa dengan Iran di semua bidang sebagai penting.
Menlu Iran dan Cina –dalam kerangka kerjasama ekonomi dan perbankan–mengevaluasi penyediaan finansial untuk berbagai proyek. Zarif menegaskan, Iran dan Cina memiliki kepentingan bersama dan tidak ada hambatan bagi kedua negara untuk memperluas kerjasama.
Setahun lalu, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam pertemuan dengan Xi Jinping, Presiden Cina di Tehran juga menyingung sejarah panjang hubungan perdagangan dan budaya antara bangsa Iran dan Cina. Rahbar menegaskan, pemerintah dan bangsa Iran selalu mengejar perluasan hubungan dengan negara-negara independen dan dapat dipercaya seperti Cina.
Faktanya adalah kebijakan hegemonik sejumlah negara terutama AS dan kerjasama tidak jujur mereka dengan negara-negara lain telah menyebabkan negara-negara independen saling mengejar kerjasama lebih di antara mereka.
Dunia barat tidak pernah mampu menarik kepercapayaan bangsa Iran. Kebijakan AS terhadap Iran lebih buruk dan lebih bermusuhan ketimbang dengan negara-negara Barat lainya.
Contoh terbarunya adalah inkonsistensi AS dalam menjalankan kewajibannya di JCPOA, di mana perpanjangan sanksi sepihak terhadap Iran di Kongres AS telah melanggar perjanjian tersebut. Kebijakan permusuhan tersebut telah menyebabkan rakyat dan pejabat Iran memperluas hubungan dengan negara-negara independen.
Presiden Cina dalam kunjungan ke Iran juga menyinggung bahwa sejumlah kekuatan dunia mengejar dominasi, monopoli dan kebijakan "bersama kami atau menjadi musuh kami." Oleh karena itu, Iran dan Cina mengejar hubungan independen dan bebas dari tujuan monopoli. Pendekatan ini dapat menciptakan suasana untuk mengimplementasikan ide dan kebijakan pemerintah-pemerintah independen. (RA)