Daras Akhlak Ayatullah Sayid Ali Khamenei: Mengapa Mencari Harta dan Jabatan Dunia?
https://parstoday.ir/id/news/iran-i27790-daras_akhlak_ayatullah_sayid_ali_khamenei_mengapa_mencari_harta_dan_jabatan_dunia
Ayatullah Sayid Ali Khamenei sebagaimana ulama lainnya dalam kuliah Fiqih dan Ushul Fiqihnya dalam sepekan mengkhususkan sehari untuk menyampaikan syarah atas hadis-hadis akhlak yang berkaitan dengan masyarakat. Sumber hadis berasal dari buku as-Syafi fi al-'Aqaid, al-Akhlaq wa al-Ahkam dan al-Amali. Kali ini beliau berbicara tentang Mengapa Mencari Harta dan Jabatan Dunia?
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Des 09, 2016 09:04 Asia/Jakarta
  • Ayatullah Sayid Ali Khamenei
    Ayatullah Sayid Ali Khamenei

Ayatullah Sayid Ali Khamenei sebagaimana ulama lainnya dalam kuliah Fiqih dan Ushul Fiqihnya dalam sepekan mengkhususkan sehari untuk menyampaikan syarah atas hadis-hadis akhlak yang berkaitan dengan masyarakat. Sumber hadis berasal dari buku as-Syafi fi al-'Aqaid, al-Akhlaq wa al-Ahkam dan al-Amali. Kali ini beliau berbicara tentang Mengapa Mencari Harta dan Jabatan Dunia?

Ayatullah Sayid Ali Khamenei

Pada Hari Kiamat, dua orang mukmin ahli surga berdiri di hadapan Allah untuk diperhitungkan amal perbuatannya. Seorang dari mereka melewati kehidupannya dengan kemiskinan, sementara yang lain adalah orang kaya dan ahli surga.

Orang miskin berkata kepada Allah Swt, "Mengapa Engkau menahanku? Bukankah Engkau tidak memberiku jabatan, sehingga aku dapat berbuat adil atau zalim. Tidak juga harta Engkau berikan kepadaku, sehingga aku harus ditanya apakah aku telah menunaikan hak harta tersebut atau tidak. Saya tidak punya apa-apa."

Allah berfirman, "Benar apa yang kau katakan. Biarkan ia lewat."

Tiba bagian orang kedua. Orang kaya dan ahli surga. Asumsinya orang ini adalah ahli surga. Ia harus berdiri lama untuk diperhitungkan semua amal perbuatannya. Keringat mengalir dari kepala hingga kaki! Setelah melewati waktu lama, ia akhirnya dipersilahkan memasuki surga.

Saudara yang miskin bertanya kepada yang kaya, "Mengapa engkau begitu lama sekali baru masuk surga?"

Dijawab oleh orang kaya, "Semua itu dikarenakan panjangnya urusan perhitungan. Segalanya dipertanyakan. Dari mana engkau dapatkan harta ini dan bagaimana engkau mengeluarkannya? Dari mana engkau mendapat jabatan itu dan bagaimana engkau berlaku dengan jabatan itu? Aku harus menjawab semuanya. Satu persatu dipertanyakan kepadaku. Setelah itu Allah dengan rahmat-Nya mengampuniku."

Mengapa kita mencari harta dan jabatan dunia, bahkan berusaha keras menjadi anggota sebuah organisasi?

Apakah itu kita lakukan untuk membuat perhitungan amal perbuatan kita di Hari Kiamat lebih berat dan sulit?

Suatu waktu kita diwajibkan untuk melakukan pekerjaan sebagai kewajiban syariat. Sebagai kewajiban syariat, kita harus melakukannya. Kewajiban itu juga punya perhitungan dan kesulitan tersendiri.

Tapi dalam kondisi dimana itu bukan merupakan satu kewajiban syariat. Kita lalu mencari harta dan jabatan. Kemudian mendapat tanggjung jawab politik, ekonomi dan lainnya dengan memaksa diri. Bila itu terjadi, maka di sana kita harus berdiri dan menjawab semuanya. Bila jawaban kita tidak memuaskan, maka akan semakin sulit bagi kita. Padahal, sekalipun kita punya jawaban yang memuaskan, tetap saja kita harus berdiri dan menjawab semuanya.