Peran dan Risalah Wanita; Melepas Hijab dan Kebebasan Tak Beraturan (1)
https://parstoday.ir/id/news/iran-i30337-peran_dan_risalah_wanita_melepas_hijab_dan_kebebasan_tak_beraturan_(1)
Logika Lemah Jahiliyah Tentang Wanita
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 08, 2017 11:48 Asia/Jakarta
  • Ayatullah Sayid Ali Khamenei
    Ayatullah Sayid Ali Khamenei

Logika Lemah Jahiliyah Tentang Wanita

Mereka yang berusaha sepanjang sejarah -baik dalam jahiliyah kuno maupun jahiliyah abad 20 – untuk menghinakan dan meremehkan wanita, mengenalkan wanita sebagai makhluk yang bergantung pada gemerlapan dan hiasan lahiriyah dan terikat pada mode, pakaian, dandanan, emas dan perhiasan, dan menjadikan semua itu sebagai alat kesenangan hidup, dan secara praktis melangkah di jalan ini, logika mereka bak salju dan es yang akan mencair dan punah di hadapan panasnya matahari posisi spiritual Fathimah Zahra as. (dalam pertemuan besar bersama para wanita, 26/10/68)

Kebebasan Tak Beraturan; Sebuah Masalah Asing dan Mendahulukan Melepas Hijab

Untungnya, masalah perhatian pada moral yang bejat dan kebebasan seksual yang merupakan oleh-oleh Barat dan merupakan salah satu pengaruh buruk imperialis Barat, tidak menjadi obyek perhatian masyarakat. Harus saya sampaikan bahwa ini adalah salah satu fenomena asing yang sengaja dibawa oleh Barat untuk bangsa kita. Hanya saja, karena bangsa kita sebagai orang muslim dan komitmen pada iffah [menjaga kehormatan diri] dan kesucian dirinya serta hijab Islam, masalah ini tidak terjadi dengan cepat dan mudah. Bila kita kembali pada masa lalu, di awal-awal abad ini, penyusupan mukadimah kebebasan seksual sudah dimulai di negara kita. Bahkan sebelum pelepasan hijab. Ketika masyarakat kita masih memakai hijab, dan para wanita memakai pakaian yang sempurna tampil di gang-gang dan jalan-jalan, film-film yang menyeret pada kefasadan dan kekejian sudah masuk ke Tehran. Mereka yang pergi ke bioskob-bioskop, mereka melihat tayangan-tayangan film yang sama sekali sebelumnya tidak ada. Para wanita dan pria tanpa hijab dan gerakan yang tidak pantas dan lain-lainnya yang tidak pernah terpikirkan oleh pria dan wanita bahwa hal ini bisa dilakukan di depan umum, ternyata film-film ini ditayangkan untuk umum. Kefasadan dan kekejian yang hanya khusus ada di kalangan para bangsawan dan hanya di bawah ikhtiar orang-orang kerajaan, pemerintah dan penguasa, secara bertahap telah diseret ke dalam kalangan masyarakat menengah sampai akhirnya pada tahun 1314 HS, telah dilakukan pelepasan hijab dan terjadilan pukulan telak dari politik penjajahan terhadap Iran. Di bawah naungan pemerintahan Rezakhan [Reza Shah] bioskop, surat kabar, dan iklan dan semua fasilitas propaganda mengabdi untuk menyebarkan kekjian dan kefasadan. Sampai pada bulan Shahrivar 1320 Hs, setelah Rezakhan disingkirkan dari Iran, karena sistem pemerintahan dan politik tidak lagi memiliki kekuatan, proses kefasadan dan kebebasan seksual berhenti dan masyarakat kembali memakai hijabnya. (dalam khutbah salat Jumat, 1/6/1365)

Pelepasan Hijab Adalah Oleh-Oleh Rezakhan Dari Barat

Rezakhan [Reza Shah] ketika ingin membawa oleh-oleh dari Barat untuk kita, yang pertama dia bawa adalah baju dan melepas hijab; itupun dengan pemaksaan ujung tombak, itulah pemaksaannya. Baju tidak boleh panjang. Harus pendek. Topi harus demikian. Kemudian topi itu sendiri akhirnya diganti. Topi harus model bowler. Bila ada seseorang berani memaki topi selain topi yang ditentukan oleh Raja Pahlevi, atau memakai baju selain baju pendek, maka ia harus dipukul dan disingkirkan. Semua ini diambil dari Barat. Para wanita tidak berhak menjaga hijabnya. Tidak hanya cadur [hijab Iran]. Cadur sudah tidak diperbolehkan lagi. Bila seseorang memaki kerudung pun dan sedikit menutupi dagunya, maka mereka harus dipukul! Mengapa? Karena di Barat, para wanita keluar rumah dengan kepala telanjang. Semua ini dia bawa dari Barat. Dia tidak membawa apa yang diperlukan oleh bangsa ini. Tidak datang ilmu, tidak datang pengalaman, tidak datang kesungguhan dan kerja keras, tidak datang sikap menerima resiko. Setiap bangsa pasti punya ciri khas kebaikan, tapi dia [Rezakhan] tidak mendatangkannya. Apa yang dia bawa juga diterima dengan rasa tidak suka. Dia mendatangkan pemikiran, tapi menerima dengan tanpa menganalisa. Dia mengatakan, karena model Barat, maka harus diterima. Model baju, makanan, gaya bicara dan gaya jalan, karena model Barat maka harus diterima. Tidak ada istilah pergi dan kembalilah! Untuk sebuah negara, ini adalah racun pemusnah. Ini tidak baik. (dalam pertemuan dengan para pemuda dan budayawan di musholla Rasht, 12/2/1380)

Tidak Adanya Penentangan Para Pengklaim HAM atas Pemaksaan Pelepasan Hijab

Kalian melihat, di negara kita ini, suatu masa telah dilakukan pemaksaan pelepasan hijab. Namun tidak ada seorangpun yang memrotesnya, mengapa pelepasan hijab kalian paksakan! Di negara tetangga kita, Turki telah dipaksakan untuk melepas hijab. Bahkan sampai saat ini, sebagian pemerintahan Turki melanjutkan pemaksaan ini dan contohnya pada tahun-tahun terakhir ini. Namun tidak ada seorangpun di dunia yang protes.

Yang lebih parah dari ini adalah di negara-negara Eropa yang menganggap dirinya sebagai negara maju dan dalam klaim, propaganda, masalah HAM, bagi mereka penting. Yakni Perancis dan Inggris tidak mengizinkan beberapa wanita atau anak perempuan muslim keluar masuk ke sekolah dengan memakai hijab. Pemaksaan ini mereka anggap boleh dan tidak ada masalah di dalamnya. Namun Republik Islam Iran yang mewajibkan hijab di tengah-tengah masyarakat, mereka protes semuanya. Bila pemaksaan yang dilakukan terhadap wanita pada bentuk baju dan perhiasan ada buruknya, keburukannya lebih besar dari kewajiban menjaga hijab. Karena ini lebih mendekati pada keselamatan. Paling tidak dua masalah ini dilihat dari satu pandangan. Tapi Barat tidak melakukan hal ini. Barat telah mengritik Republik Islam Iran sebagai sebuah negara yang mewajibkan pakaian pada para wanita. Namun, negara-negara yang mewajibkan ketelanjangan dan tidak adanya hijab antara wanita dan pria tidak dikritik! Ini untuk apa? Karena ini bertentangan dengan budaya yang sudah diterima oleh Barat. Mereka benar-benar sensitif pada masalah ini. (dalam khutbah salat Jumat, 10/1/1369)

18 Dey; Ulang Tahun Penyebaran Kebebasan Tak Beraturan di Masa Rezim Despotik

Salah satu aktivitas mengerikan adalah peristiwa 18 Dey yang terjadi pada masa Reza Shah. Berdasarkan rencana musuh Islam dan Iran, dengan bantuan para intelektual pengekor Barat yang terikat pada pemerintahan Pahlevi, mereka memutuskan untuk mengeluarkan wanita Iran dari lingkaran iffah [kehormatan diri] dan hijab dan memusnahkan kekuatan besar keimanan ini yang dengan berkah kehormatan diri wanita, senantiasa ada di semua masyarakat muslim. Salah satu kejahatan besar rezim despotik [Shah Pahlevi] adalah masalah 18 Dey. Pelepasan Hijab, memusnahkan penghalang antara dua jenis kelamin yang telah ditetapkan dalam Islam dimana hal ini adalah untuk keselamatan wanita dan keselamatan pria; untuk keselamatan masyarakat – dengan tujuan mendatangkan musibah terhadap wanita muslim Iran sebagai musibah yang telah menimpa wanita di tengah-tengah masyarakat Barat. Langkah ini dilakukan dengan pentungan; Rezakhan di dalam negeri. (dalam pertemuan bersama seluruh lapisan masyarakat di Qom, 19/10/1386) (Emi Nur Hayati)

Sumber: Naghs wa Resalat-e Zan I, Ifaf wa Hejab Dar Sabke Zendegi-e Irani-Eslami

Bargerefteh az bayanat-e Ayatullah al-Udhma Khamenei, Rahbare Moazzam-e Enghelab-e Eslami