Peran dan Risalah Wanita; Melepas Hijab dan Kebebasan Tak Beraturan (4)
-
Hijab
Infiltrasi Fahsya; Jalan Musuh Dalam Menghadapi Revolusi Islam Gerakan anti hijab yang saat ini ditindaklajuti oleh orang-orang tertentu dengan bentuk tipu muslihat adalah sebuah gerakan politik anti Revolusi Islam. (dalam pertemuan dengan para wanita penyelenggara seminar hijab, 10/3/1363)
Sebagian sistem intelijen musuh dari negara-negara imperialis mengatakan bahwa untuk Iran dan menghadapi Revolusi Islam, kita tidak punya lebih dari dua cara; pertama adalah kita harus memasukkan fahsya [kekejian] dan kefasadan di tengah-tengah masyarakat mereka dan menyibukkan para pemuda mereka serta melalaikan para wanita dan pria mereka dari tujuan yang tinggi. Mereka harus kita sibukkan dengan kebobrokan, kefasadan, kekejian dan syahwat dan kedua, kita ciptakan perpecahan di antara mereka. (dalam khutbah Jumat, 24/8/1365)
Menyebarnya Budaya Ketelanjangan Karena Lalai Dari Kondisi Politik
Sekilas pandanglah kondisi tahun-tahun sebelum revolusi di berbagai kota, di Tehran ini sendiri, lihatlah kondisi wanita dan pria Iran. Jangan katakan hanya wanita; ketika wanita menyulut apinya, maka semuanya akan terbakar di dalamnya; karena menyebarnya budaya ketelanjangan ini, budaya cenderung telanjang, budaya pencerabutan tirai-tirai hijab dan iffah [kehormatan diri] di tengah-tengah masyarakat. Mereka ingin melalaikan sebuah bangsa yang benar-benar berada dalam tekanan, yang sumber kekayaannya dirampok, yang dizalimi, yang para pejuangnya merapuh di sudut penjara dan sekelompok dari mereka dibunuh. (dalam pertemuan dengan sebuah perkumpulan wanita negara, 21/12/1363)
17 Dey Setan dan 17 Dey Revolusi
Hari 17 Dey adalah hari dimana para setan dan tagut menetapkan hari itu sebagai permulaan bagi tujuan kezaliman dan penjajahannya. Namun Allah telah menolong dan wanita muslim dan mukmin yang komitmen bergerak dan mengubah hari itu sebagai hari pemula dan sumber sebuah gerakan besar dalam sejarah negara kita. Masalah 17 Dey merupakan satu dari mukjizat revolusi. Rezim yang lalu [Shah Pahlevi] telah menjadikan hari 17 Dey sebagai hari dimana para wanita berada di sebuah jalan yang diinginkan dan dimaukan oleh budaya Barat. Namanya waktu itu adalah kebebasan, namun makna sebenarnya adalah kebebasan dari segala aturan akhlak dan seluruh aturan yang dihormati oleh sebuah bangsa yang suci dan bertakwa.
Masalah bukan hanya ingin mengubah bentuk hijab yang mereka sebut secara berlebihan sebagai sebuah fenomena buruk. Masalahnya adalah ingin menetapkan budaya Barat, yaitu budaya konsumerisme, budaya kemewahan, budaya dandanan, budaya wanita sebagai alat pemuas para syahwat dan menyeret para pria pada tebing kefasadan dan menjadikan masalah asasi sebuah bangsa berada di bawah pengaruh daya tarik seksual. Mereka ingin merencanakan hal ini di negara kita dan sayangnya mereka cukup berhasil dalam hal ini dengan dengan usaha yang dialakukannya selama bertahun-tahun. (dalam khutbah salat Jumat, 14/10/1363)
Mukjizat Revolusi Terkait 17 Dey
Mukjizat revolusi seperti ini; ketika pemerintah yang rezimnya begitu zalim, dengan segala propagandanya mengumumkan hari itu sebagai hari dimulainya pakaian non hijab dan pada hakikatnya adalah hari permulaan kehancuran sistem Iffah [kehormatan diri] dan kesucian wanita Iran dan wanita muslim. Pada hari itu juga yakni 17 Dey pada tahun 1356 HS sejumlah wanita bergerak melakukan demonstrasi, menyuarakan slogan dan mengumumkan partisipasi wanita Iran di arena perjuangan serius dan mendalam di hadapan sistem imperialis.
Di dalam pesan Imam Khomeini juga, pada waktu itu mengisyaratkan pada gerakan para wanita ini dan saudari-saudari muslim yang memilih hari yang begitu penting itu untuk pekerjaan ini. Dalam demonstrasi hari Tasu’a dan Asyura tahun 1357, yakni sekitar satu tahun setelah peristiwa ini, ketika seseorang melihat peristiwa membludaknya para demonstran wanita ini, para wanita yang memakai cadur, memakai hijab Islam dan sebagian sambil menggendong anaknya. Ratusan ribu wanita muslim telah memenuhi jalan-jalan di semua kota dan menyuarakan slogan lebih lantang dari para pria; kita merasakan betapa besar tragedi yang telah menimpa kita selama bertahun-tahun. Mereka telah mengeluarkan wanita muslim Iran dari pusaran. Mereka ingin mengeluarkan separuh dari warga pada tahap awal dan separuh lainnya pada tahap kedua yakni para pria dari medan pemikiran dan urusan penting masyarakat. Sayang mereka [imperialis] cukup berhasil. (dalam pertemuan dengan sekelompok wanita, 21/12/1363)
Pakaian Non Hijab dan Menyebarkan Kefasadan; Akibat Keyakinan dan Kepercayaan Yang Salah
Menurut pandangan saya, saat ini yang menjadi tanggungan perkumpulan kalian dan setiap himpunan dari pada wanita yang bekerja dalam berbagai bentuk dan tujuan adalah menghilangkan kepercayaan yang salah yang telah dimasukkan ke dalam pikiran wanita Iran oleh budaya Barat dan Eropa dalam beberapa dekade terakhir. Tentunya keyakinan yang salah juga sudah ada sejak dahulu. Yakni kecenderungan pada sebagian bentuk konsumsi yang salah dan kemewahan juga sudah ada sejak dahulu. Dengan masuknya budaya Eropa, kecenderungan pada mode dan hal yang baru dalam mengkonsumsi benar-benar semakin parah. Hal ini sudah diperhitungkan dan sudah diprediksi.
Para tuan politik Barat yang mayoritas mereka adalah para zionis dan para penjajah melakukan hal ini dengan tujuan dan dengan niat. Keyakinan yang salah ini harus kalian berantas. Dan ini tidak mungkin kecuali dengan menyodorkan pembahasan dan kerja Islam. Bila pekerjaan ini telah dilakukan, maka akar masalah yang terkadang disampaikan seperti pakaian non hijab, menyebarkan kefasadan dan kekejian dan semacamnya, dengan sendirinya akan tercerabut. Semua ini kebanyakan sebagai akibat. Sebabnya adalah kepercayaan dan budaya-budaya tersebut dan harus ada kerja dalam hal ini. (dalam pertemuan bersama anggota Syura Kebudayaan-sosial para wanita, 16/10/1369)
Tangan-Tangan Mesterius Dalam Menciderai Iffah dan Hijab
Tangan-tangan misterius saat ini sedang bekerja. Ada orang-orang yang sudah diperhitungkan sedang sibuk bergerak menciderai kondisi Iffah [Kehormatan Diri], kesucian dan hijab para wanita secara bertahap dan mengembalikannya pada kondisi sebelum revolusi. (dalam pertemuan bersama para mahasiswi Marake-ze Tarbiyat Moallem, 12/2/1363)
Hijab Para Wanita Meribetkan; Sebuah Ucapan Yang Lemah Dan Tidak Berdasar
Ucapan yang mengatakan bahwa pakaian hijab para wanita meribetkan merupakan ucapan yang lemah dan tidak berdasar. Kalian melihat kebanyakan bangsa-bangsa lain di dunia dimana para pria memakai baju yang lebih meribetkan dari dari baju wanita, baju yang panjang, kemeja yang panjang, memakai surban [kerudung], dan juga di pundak dan mereka bisa melakukan semua aktivitas sosial. Tidak seorangpun mengatakan mereka tidak bisa. Mereka juga melakukan peperangan. (dalam khutbah Jumat, 9/8/1365) (Emi Nur Hayati)
Sumber: Naghs wa Resalat-e Zan I, Ifaf wa Hejab Dar Sabke Zendegi-e Irani-Eslami
Bargerefteh az bayanat-e Ayatullah al-Udhma Khamenei, Rahbare Moazzam-e Enghelab-e Eslami