Peran dan Risalah Wanita; Melepas Hijab dan Kebebasan Tak Beraturan (5)
https://parstoday.ir/id/news/iran-i32047-peran_dan_risalah_wanita_melepas_hijab_dan_kebebasan_tak_beraturan_(5)
Cadur; Ciri Nasional dan Menjadi Obyek Kemarahan Penjajah
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 30, 2017 17:19 Asia/Jakarta
  • Ayatullah Sayid Ali Khamenei
    Ayatullah Sayid Ali Khamenei

Cadur; Ciri Nasional dan Menjadi Obyek Kemarahan Penjajah

Hijab para wanita tidak terbatas pada cadur saja. Namun cadur adalah model hijab terbaik dan ciri nasional kita dan tidak bertentangan sama sekali dengan aktivitas para wanita muslim di bidang politik, sosial dan budaya. Oleh karena itu cadur selalu menjadi obyek kemarahan penjajah. Para penjajah dalam satu, dua abad terakhir melakukan perlawanan terhadap cadur secara langsung dengan bantuan anasir-anasirnya.

Reza Shah atas perintah majikan-majikannya telah mengumumkan pelepasan hijab. Untuk melaksanakan perintah ini, ia melakukan berbagai kekerasan yang tak terhingga. Para petugas pemerintahan Reza Khan [Reza Shah] dengan paksa menarik cadur dari kepala para wanita. Bahkan selain pelepasan hijab, mereka memerintahkan para wanita untuk memakai topi dan kerudung, namun jangan memakai cadur. Ini adalah perintah penjajah. Karena tahu bahwa hal ini adalah langkah pertama mengosongkan wanita muslim Iran dari kepribadian Islam dan nasionalnya. Bila rencana ini sukses, maka tujuan lain yang mereka inginkan akan tercapai lebih mudah. Namun sejarah telah menunjukkan bahwa para wanita Iran dalam kondisi yang paling sulit pun tidak mau melepaskan cadurnya. (dalam pertemuan bersama anggota Syura Kebudayaan-sosial para wanita, 4/10/1370)

Keberadaan Tangan-Tangan Yang Tampak Dan Tersembunyi Dalam Melawan Cadur

Saat ini sayang sekali kita menyaksikan tangan-tangan tersembunyi yang melakukan perlawanan terhadap cadur. Terkadang dalam kedok psikologi warna; bahwa warna hitam adalah warna keputusasaan dan depresi. Terkadang dalam kedok penayangan film-film tentang para wanita yang tak berbudaya, buta huruf dan bodoh yang bercadur di hadapan para wanita pemikir, berpendidikan yang tidak bercadur dan terkadang juga dengan propaganda secara tidak langsung lainnya seperti yang tertulis dalam brosur edaran seminar nasional yang pertama tentang keluarga berencana di Mashad dimana salah satu darinya gambar seorang wanita dengan penampilan modern dan dengan pakaian mantou dan kerudung, bersama dua anaknya dan di bawahnya ditulis kata-kata “Pengetahuan Lebih Banyak, Anak Lebih Sedikit” dan brosur lainnya menunjukkan seorang wanita yang bercadur dengan anak yang lebih banyak dan di bawahnya tampak kata-kata “Pengetahuan Lebih Sedikit, Anak Lebih Banyak”.

Dengan cara ini, secara tidak langsung ingin menunjukkan bahwa cadur adalah poros buta huruf dan tidak memakainya menunjukkan melek huruf. Adalah menyebabkan kekecewaan, ternyata setelah kekalahan penjajah dalam melawan cadur baik secara langsung maupun tidak langsung di masa rezim yang lalu, sekarang kita dengan tangan sendiri menjadi perantara bagi pelaksanaan tujuan busuk penjajah ini. Benar, kita tidak menafikan hijab selain cadur, tapi cadur adalah slogan kita, indentitas Islam dan budaya kita dan bagi bangsa kita adalah suci.” (dalam pertemuan bersama anggota Syura Kebudayaan-sosial para wanita, 5/10/1370)

Merancang Perlawanan Secara Terang-Terangan Terhadap Hijab Dan Cadur Di Zaman Tagut

Pada tahun 1355 HS para petinggi bidang budaya rezim despotik [Reza Shah] berpikir untuk merancang sebuah program kompleks dan melaksanakannya. Berdasarkan rancangan itu, hijab dan penjagaan khususnya masalah cadur yakni cadur dan batasan-batasan terkait hubungan wanita dan pria jangan sampai ada lagi di tengah-tengah masyarakat Islam. Berkas ini penting karena masyarakat kita sekarang harus mengetahui bahwa apa yang mereka lihat dahulu di televisi, radio dan surat kabar serta majalah dan media rezim yang lalu bukan sebuah kebetulan. Sebagaimana yang sudah pernah saya sampaikan di khutbah-khutbah sebelumnya, ini adalah sebuah program tersusun dan kompleks dimana dengan menggunakan segala fasilitas, rezim yang ada saat itu berusaha mencerabut hijab, penjagaan dan batasan-batanas terkait hubungan wanita dan pria secara keseluruhan dan juga memusnahkan iffah [kehormatan diri] dan kesucian yang ada pada wanita dan pria. 

---

Di semua rancangan dan program rezim despotik benar-benar bertumpu pada hijab khususnya pada cadur. Sebagaimana yang sudah disebutkan, bahkan mereka menggunakan kekerasan. Dikatakan bahwa di lingkungan kerja dan kantor-kantor, para wanita yang bercadur dilarang masuk. Di sekolah dan universitas, anak-anak perempuan dan guru-gurunya dilarang memakai cadur. Di yayasan pemerintah dan koperasi-koperasi kota dan desa, wanita bercadur dan berhijab tidak boleh masuk. Bahkan di bandara-bandara negara dan di dalam pesawat-pesawat dan bahkan di dalam bus-bus kota, para wanita bercadur dan berhijab tidak boleh masuk. Sampai di sini mereka melakukan hal ini. Ini adalah rancangan yang bila usia rezim despotik berlanjut, rencananya akan diterapkan.

Di sisi lain, di sekolah-sekolah, harus dilakukan pencucian otak sedemikian rupa pada anak-anak perempuan dan lelaki sehingga ketika mereka pulang ke rumahnya melakukan penekanan terhadapa ibu-ibu mereka dan meminta agar melepaskan hijabnya. Yakni kita tanamkan ke dalam pikiran anak-anak bahwa hijab sebagai sebuah anti nilai. (dalam khutbah Jumat, 9/8/1365)

Merancang Baju-Baju Anti Hijab Untuk Melawan Hijab

Mereka ingin memanfaatkan produksi pakaian dalam negeri. Di dalam rancangan itu disebutkan bahwa kita lakukan dukungan supaya berdiri pabrik-pabrik pakaian yang menawarkan baju-baju anti hijab supaya para wanita terdorong untuk menggunakan baju-baju itu dan tidak menggunakan baju hijab dan cadur. Di sini kalian akan memahami dengan jelas makna ucapan yang pernah saya sampaikan di dalam khutbah salat Jumat bahwa pabrik-pabrik produksi pakaian dan fasilitas ekonomi yang mendorong  dan mendukung masyarakat pada pakaian non hijab dan baju-baju yang tidak pantas, memiliki akar penjajahan. (dalam khutbah Jumat, 9/8/1365)

Kesalahan Para Pengekor Budaya Barat; Mengikuti Lahiriah Barat

Di zaman pengekor budaya Barat, di negara kita terjadi kesalahan dalam melakukan sesuatu. Ketika masuk ke dalam masalah wanita dan pria, mereka menganggap bahwa jalan keluarnya adalah mengikuti sepenuhnya lahiriah yang ada dan sudah ada di Eropa. Masalah pelepasan hijab, kebebasan wanita, kenikmatan seksual secara tidak sah, melepas hijab dan penjagaan yang benar-benar halus yang ada dalam Islam antara wanita dan pria, adalah contoh dari pengekoran ini. Padahal hijab ini sama sekali bukan bermakna hijab lahiriah. Tapi sesuatu yang lain yang bisa dipahami dengan melihat dan menimbang masalah secara detil dan begitu mengandung hikmah.  

---

Bila kita ingin memandang wanita secara manusiawi dan mencegah terjadinya kezaliman terhadapnya, jalannnya bukan memperhatikan sesuatu yang bukan faktor asli dan berpengaruh. Di kalangan pengekor budaya Barat telah terjadi kesalahan dan memperhatikan masalah tersebut. (dalam pertemuan bersama para wanita anggota Majlis Syura Islami, 14/7/1380) (Emi Nur Hayati)
Sumber: Naghs wa Resalat-e Zan I, Ifaf wa Hejab Dar Sabke Zendegi-e Irani-Eslami
Bargerefteh az bayanat-e Ayatullah al-Udhma Khamenei, Rahbare Moazzam-e Enghelab-e Eslami