OPEC dan Keraguan atas Motif Investasi
https://parstoday.ir/id/news/iran-i35452-opec_dan_keraguan_atas_motif_investasi
Anjloknya harga minyak dunia berpengaruh pada investasi internasional. Sekjen Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), Muhammad Barkindo Ahad (2/4) di sidang “Energi Irak di tahun 2017” seraya menjelaskan hal ini menambahkan, harga minyak dunia sejak Juni 2014 hingga Januari 2016 turun 80 persen dan mempengaruhi investasi internasional.
(last modified 2026-04-05T23:44:38+00:00 )
Apr 03, 2017 11:56 Asia/Jakarta
  • Sekjen OPEC, Muhammad Barkindo
    Sekjen OPEC, Muhammad Barkindo

Anjloknya harga minyak dunia berpengaruh pada investasi internasional. Sekjen Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), Muhammad Barkindo Ahad (2/4) di sidang “Energi Irak di tahun 2017” seraya menjelaskan hal ini menambahkan, harga minyak dunia sejak Juni 2014 hingga Januari 2016 turun 80 persen dan mempengaruhi investasi internasional.

Sidang ini dihadiri Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi dan mengkaji penciptaan peluang sehingga kendala yang dihadapi anggota OPEC serta masa depan pasar minyak dapat diselesaikan.

Perdana menteri Irak di bagian pidatonya di pertemuan tersebut mengatakan, pendapatan Irak di banding dengan tahun 2013 turun 30 persen akibat anjloknya harga minyak dunia. Kendala ini yang juga dihadapi seluruh anggota OPEC lainnya dan upaya untuk melewatinya tergantung pada komitmen seluruh anggota.

Anggota OPEC pada 28 Desember 2016 di sidang ke 171 di Wina sepakat mengurangi produksinya sebesar 1,2 juta barel. Di pertemuan tersebut batas produksi OPEC ditentukan sebesar 32,5 hingga 33 juta barel perhari. Ini merupakan keputusan luar biasa yang berhasil disepakati OPEC untuk mengendalikan pasar. OPEC sejatinya berada di bawah dua pengaruh untuk mencapai kesepakatan.

Pengaruh pertama adalah menerima realita bahwa OPEC membutuhkan solidaritas untuk memainkan peran di pasar minyak. Di proses ini, bahkan Arab Saudi yang menolak pengurangan produksi, akhirnya setuju dengan pengurangan produksinya di sidang Wina dari 10,7 juta barel perhari menjadi 10,2 juta barel. Riyadh dalam hal ini mengalami defisit anggaran selama dua tahun berturut-turut akibat anjloknya harga minyak dan laju ekonominya juga turun secara drastis dan hanya berkisar satu persen.

Pengaruh kedua adalah dibutuhkan interaksi seluruh produsen minyak dalam keputusan OPEC untuk menjaga stabilitas pasar dan investasi. Ini merupakan poin yang ditekankan sekjen baru OPEC di sidang Irak. Tujuan utama OPEC yang disebutkan di anggaran dasar organisasi ini adalah koordinasi dan kesatuan kebijakan minyak negara-negara anggota.

Namun muncul pertanyaan, apakah OPEC akan mampu mempertahankan peran konstruktifnya di pasar? Kendala yang ada saat ini adalah dampak dari anjloknya harga minyak terhadap sektor produksi. Penurunan harga minyak mendorong investasi di sektor produksi di negara-negara asal minyak secara praktis terhenti.

Sementara itu, menteri perminyakan OPEC rencananya menggelar sidang bulan Mei untuk mengambil keputusan apakah pembatasan produksi minyak bakal diperpanjang atau tidak. Di kondisi saat ini, fokus utama adalah menciptakan keseimbangan produksi. Statemen sekjen OPEC di sidang Baghdad sepertinya memberikan angin segar dari sisi komitmen anggota terkait saham masing-masing.

Meski demikian kekhawaritan masih belum sepenuhnya terhapus, karena tidak ada jaminan bahwa kondisi ini akan tetap langgeng. OPEC selama beberapa tahun lalu gagal menstabilkan pasar dan tidak beraktivitas secara baik akibat sabotese Arab Saudi. Kini harus dilihat seberapa jauh Arab Saudi komitmen terhadap strategi pengurangan produksi OPEC untuk menjaga stabilitas pasar. Riyadh sedikitnya selama dua tahun terakhir dengan alasan politik mengumbar minyak murah di pasar dunia. (MF)