Permusuhan Saudi dan Persahabatan Iran, Oman, Kuwait dan Qatar
https://parstoday.ir/id/news/iran-i38466-permusuhan_saudi_dan_persahabatan_iran_oman_kuwait_dan_qatar
Setelah sekitar 10 hari pasca pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab-Amerika di Riyadh yang bertujuan untuk menciptakan koalisi buatan anti-Republik Islam Iran, beberapa negara Arab justru menekankan peningkatan hubungan yang baik dengan Tehran.
(last modified 2026-02-17T10:03:26+00:00 )
May 29, 2017 16:07 Asia/Jakarta

Setelah sekitar 10 hari pasca pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab-Amerika di Riyadh yang bertujuan untuk menciptakan koalisi buatan anti-Republik Islam Iran, beberapa negara Arab justru menekankan peningkatan hubungan yang baik dengan Tehran.

Menteri Luar Negeri Oman baru-baru ini mengungkapkan pernyataan yang menilai hubungan antara Muscat dan Tehran sebagai hubungan yang didasarkan pada kejujuran dan persahabatan. Ia juga menegaskan bahwa sejumlah peristiwa regional tidak bisa mempengaruhi hubungan antara Oman dan Republik Islam.

Yousuf bin Alawi, Menlu Oman dalam wawancara dengan jaringan televisi BBC berbahasa Arab pada Minggu, 28 Mei 2017 mengatakan, sejak dimulainya Revolusi Islam hingga sekarang, Oman memiliki kesepakatan pandangan dengan Iran.

Pernyataan Menlu Oman tersebut dan statemen terbaru yang berkaitan dengan Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Emir Qatar serta percakapan teleponnya dengan Hassan Rouhani, Presiden Iran pasca KTT Arab-Amerika menunjukkan bahwa upaya Arab Saudi di kawasan adalah murni politik dan permusuhan. Oleh karena itu, upaya Riyadh untuk melibatkan negara-negara Arab lainnya agar memusuhi Iran tidak diamini oleh semua negara Arab regional.

Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dalam percakapan telepon dengan Rouhani mengatakan, Qatar meyakini bahwa tidak ada penghambat yang menghalangi penguatan hubungan antara Doha dan Tehran.

Pendekatan logis Oman dan Qatar bersamaan dengan pandangan positif Kuwait tentang hubungan persahabatan dengan Iran menunjukkan rasionalitas para pemain regional ini, di mana mereka menilai kerjasama konstruktif dan konvergensi sebagai satu-satunya solusi atas persoalan di kawasan dan cara untuk menghapus sejumlah kesalahpahaman.

Republik Islam telah berulang kali mengumumkan bahwa kelanjutan kerjasama konstruktif dengan negara-negara pesisir Teluk Persia merupakan prinsip kebijakan luar negerinya. Hal ini tentunya dengan memperhatikan prinsip saling menghormati dan bertentangga yang baik, di mana Emir Qatar dan Presiden Iran dalam percakapan telepon terbaru mereka juga menegaskan masalah tersebut.

Iran menilai kerjasama kolektif dan menjauhi sektarianisme sebagai landasan kerjasama dengan Arab, di mana kerjasama seperti ini akan menjadi penjamin kepentingan bersama dan keamanan yang stabil di kawasan.

Upaya sejumlah negara agar Iran dianggap sebagai musuh bagi kawasan dan menjustifikasi gerakannya di bawah kebijakan Iranophobia tidak menguntungkan kondisi Timur Tengah yang sensitif, dan kelanjutan kebijakan seperti ini ini hanya akan menciptakan perpecahan di antara negara-negara regional, di mana tentunya musuh-musuh dunia Islam akan memanfaatkan kondisi tersebut.

Konferensi Arab-Amerika pada 21 mei 2017 yang mempertemukan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat dengan sejumlah pemimpin negara-negara Arab memiliki tujuan untuk memperluas proyek Iranophobia. Melalui penyebaran Iranophobia, AS dan sekutunya bisa menjual senjata ke negara-negara Arab dan meraup keuntungan besar dari proyek tersebut.

Dalam konferensi Arab-Amerika, Presiden AS menuding Republik Islam sebagai pendukung terorisme. Tudingan ini dilontarkan Trump ketika Iran berada di garis terdepan dalam memberantas teroris Takfiri di kawasan.

Pertemuan di Riyadh digelar untuk meraih tujuan-tujuan politik dan setelah itu untuk mencapai kepentingan-kepentingan ekonomi. Penandatanganan kontrak militer antara AS dan Arab Saudi senilai 110 miliar dolar dianggap sebagai hasil yang menguntungkan bagi Washington dari pertemuan tersebut, di mana di bawah bayang-bayang proyek Iranophobia, Trump mengeruk uang Arab Saudi untuk menggerakkan roda-roda pabrik senjatanya dan menciptakan ribuan lapangan kerja baru di Amerika.

Yang pasti, kebijakan anti-Iran itu tidak menguntungkan negara-negara regional, dan hanya musuh-musuh Arab dan Iran terutama AS yang memperoleh keuntungan. AS mengusung proyek Iranophobia di kawasan untuk mencapai tujuan-tujuannya, dan ternyata Arab Saudi berhasil dibujuk, bahkan rela menandatangani kontrak-kontrak yang menguntungkan Negeri Paman Sam itu.

Pandangan logis dan realistis terhadap transformasi regional merupakan tuntutan negara-negara berpengaruh seperti Iran, Oman, Kuwait dan Qatar. Di bawah pandangan ini, kerjasama kolektif dan upaya untuk menyelesaikan krisis di kawasan akan sangat masuk akal, sehingga akan tercipta perdamaian dan keamanan yang stabil dan hidup berdampingan dengan baik di kawasan. (RA)