Kunjungan Zarif ke Eropa dan Peluang Dialog Multi
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif di safarinya ke sejumlah negara Eropa, setelah berkunjung ke Italia tiba di Perancis.
Safari Zarif ini dimulai dari Jerman. Menlu Iran saat berada di Jerman menggelar lobi dengan petinggi Berlin terkait perluasan hubungan bilateral, transformasi kawasan Timur Tengah dan transformasi terbaru Eropa.
Sementara itu, di Paris, Zarif memiliki agenda membahas hubungan bilateral, regional dan internasional.
Selama di Roma, Zarif Selasa (28/6) bertemu dengan Laura Boldrini, ketua parlemen dan Perdana Menteri Paolo Gentiloni serta Menlu Italia Angelino Alfano membahas perluasan hubungan bilateral, implementasi Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dan isu-isu penting regional serta internasional.
Tak diragukan lagi ada kepentingan bersama terkait hubungan Iran dan negara-negara Eropa termasuk sektor ekonomi. Dalam hal ini, Jerman, Italia dan Perancis merupakan mitra dagang dan ekonomi utama Iran.
Tony Corradini, wakil bidang pengembangan perdagangan di kedubes Italia di Tehran terkait level hubungan kedua negara mengatakan, “Iran memiliki kapasitas dan potensi besar budaya dan ekonomi. Dan dari sisi politik, telah diambil langkah-langkah besar antara Iran dan Italia serta kedua negara di bidang ini telah menandatangani sejumlah nota kesepahaman (MoU).”
Koran La Repubblica cetakan Italia di edisi terbarunya seraya mengkritik langkah Amerika pasca JCPOA dan sabotase di implementasi kontrak ekonomi Iran dengan negara-negara Eropa menulis, “Amerika dengan aksinya telah merugikan perusahaan Eropa dan kontrak Iran-Italia juga terancam.”
Di bidang interaksi politik, peluang kerjasama juga diperkuat. Namun perealisasian total tujuan ini membutuhkan kerjasama dan interaksi lebih kuat. Di kondisi seperti ini, sejumlah arus yang menjegal proses ini tidak boleh dilupakan.
Amerika setelah kegagalan proyek menebar klaim anti nuklir Iran dan penandatanganan JCPOA, terus melanjutkan aksi konfrontatif dengan Iran dan berusaha memaksa Eropa mengiringi kebijakannya tersebut. Deklarasi HAM terbaru anti Iran oleh sejumlah anggota parlemen Eropa yang dirilis bersamaan dengan safari Zarif ke Eropa mengindikasikan bagian dari pergerakan ini.
Hal ini telah membangkitkan reaksi juru bicara menlu Iran. Bahram Qassemi, jubir Deplu Iran hari Rabu (28/6) seraya menepis statemen ini mengatakan, sejumlah kecil anggota parlemen Eropa yang terkenal memiliki hubungan dengan sejumlah kelompok teroris munafikin dan anti Iran, berusaha menyalahgunakan posisinya dengan mengumbar klaim tak berdasar terkait kondisi hak asasi manusia di Republik Islam.
Qassemi menjelaskan, Iran selain mengutuk metode perang syaraf dan propaganda seperti ini meyakini interaksi konstruktif dan bertumpu pada saling menghormati dengan Uni Eropa di segala bidang yang diminati kedua pihak termasuk perang melawan narkotika, kontra terorisme, penyelundupan manusia dan kejahatan terorganisir serta isu-isu lainnya.
Pengalaman kerjasama ini mengindikasikan bahwa Iran dan sejumlah negara Eropa termasuk Jerman, Italia dan Perancis sama seperti ketika bekerjasama demi perdamaian dan stabiltias di Afghanistan, kini juga mampu melanjutkan kerjasama tersebut untuk membantu memajukan perdamaian dan stabilitas di kawasan.
Dialog ini sangat penting dan strategis khususnya di isu Suriah, Irak dan Palestina. Dari sudut pandang diplomasi Iran dan negara-negara independen Eropa, ketika pemerintah Amerika merusak seluruh nilai-nilai konvensional dunia, mereka mampu semakin efektif dengan melewati era tersebut. Namun begitu, interaksi ini membutuhkan gerakan dua arah. (MF)