Masa Depan Perjanjian Nuklir Iran
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dalam wawancara dengan televisi BBC pada hari Minggu (16/7/2017) mengatakan, pemerintah Amerika Serikat melanggar semangat Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).
Dia menegaskan bahwa Iran secara penuh telah melaksanakan komitmennya sesuai JCPOA dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga mengkonfirmasi hal ini. Tapi tidak demikian dengan Amerika, mereka tidak melaksanakan komitmen-komitmennya.
Perjanjian nuklir antara Iran dan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB ditambah Jerman dicapai pada Juli 2015. JCPOA sudah berumur dua tahun dan Gedung Putih terus mencari cara untuk merusaknya.
Setelah Donald Trump berkuasa di AS, upaya-upaya untuk merusak JCPOA kian gencar dilakukan oleh para pejabat Gedung Putih mulai dari peninjauan kembali kebijakan AS menyangkut perjanjian nuklir dengan Iran dan semua persoalan lain yang berhubungan dengan Tehran.
Pertanyaan penting sekarang adalah bagaimana dunia dapat menyelamatkan perjanjian tersebut?
Kajian komprehensif mengenai kondisi JCPOA menunjukkan bahwa nasib "baik" atau "buruk" perjanjian ini bergantung pada itikad baik pihak lawan dan komitmen mereka terhadap prinsip-prinsip kesepakatan. Mengabaikan komitmen yang tertuang dalam JCPOA tentu akan membahayakan kerjasama di bidang nuklir.
Barbara Slavin, seorang analis di media al-Monitor, telah menganalisa perilaku Presiden AS Donald Trump terkait perjanjian nuklir dengan Iran. Dalam hal ini, ia menulis, "… Trump selama masa kampanye pilpres AS menyebut JCPOA sebagai salah satu kesepakatan terburuk. Berbeda dengan Barack Obama, Trump terus berupaya untuk merusak JCPOA atau menyerahkan sebuah alternatif baru… Trump tampaknya kecewa setelah melihat Iran tidak mundur dari JCPOA, sementara Washington berkewajiban untuk menghapus sanksi-sanksi baru terhadap Tehran serta membuktikan komitmennya."
JCPOA diharapkan dapat menghapus citra negatif yang disematkan kepada Iran dan mencabut sanksi, namun Amerika berusaha merusak upaya ke arah sana dan memberlakukan sanksi baru dengan bermacam alasan.
Menlu Iran selama wawancaranya dengan BBC menuturkan, "… Gedung Putih baru-baru ini mengumumkan bahwa Trump memanfaatkan KTT G20 di Hamburg untuk membuat para pemimpin dunia berputus asa atas perdagangan dengan Iran. Ini tidak hanya melanggar semangat, tapi juga teks JCPOA."
Lalu, dalam situasi saat ini, apakah ada alternatif lain yang bisa memperkuat interaksi positif dalam kerangka JCPOA? Sama sekali tidak ada jaminan bahwa kesepakatan baru akan lahir di tengah iklim ketidakpercayaan.
Dalam dunia politik, interaksi adalah sesuatu yang rasional, tapi juga punya sebuah prinsip yaitu; interaksi bukan sebuah jalan satu arah dan tidak dapat ditempuh sendirian.
Republik Islam Iran sejauh ini telah mengambil langkah-langkah besar untuk membangun interaksi konstruktif dalam konteks JCPOA dan langkah-langkah ini akan menjadi kuat dengan aksi-aksi nyata pihak lawan. (RM)