Iran: Tudingan Kuwait Jauh dari Perilaku Bijak
-
Hossein Amir-Abdollahian, Asisten Khusus Ketua Parlemen RII untuk Urusan Internasional
Asisten Khusus Ketua Parlemen Republik Islam Iran untuk Urusan Internasional mengungkapkan bahwa tuduhan tidak berdasar Kuwait terhadap Tehran dan pengurangan jumlah diplomat Iran di Kuwait jauh dari perilaku bijaksana.
Hossein Amir-Abdollahian mengungkapkan hal itu di akun Twitter pada Jumat (21/7/2017) ketika mereaksi tuduhan terbaru pemerintah Kuwait terhadap Iran.
Kementerian Luar Negeri Kuwait pada Kamis memerintahkan untuk mengurangi staf diplomatik Iran dengan dalih sebuah kasus yang dikenal dengan "Abdali Cell" yang diklaim sebagai sebuah kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Iran.
Kementerian Luar Negeri Iran kemudian menyampaikan protes keras kepada Kuwait dengan memanggil Falah al-Hajraf, Kuasa Usaha Kuwait untuk Tehran.
Bahram Ghasemi, Juru Bicara Kemlu Iran pada Kamis mengatakan, amat disayangkan bahwa para pejabat Kuwait dalam kondisi sensitif regional alih-alih berupaya untuk mengurangi ketegangan yang tidak produktif dan menahan diri dalam menghadapi tekanan serta gerakan pihak-pihak yang sedang berpetualang di kawasan, namun justru menjadikan Iran sebagai target tuduhan-tuduhan palsu.
Ia menegaskan, Iran tidak pernah memiliki hubungan dengan kasus Abdali Cell dan di awal penanganan kasus ini juga telah disampaikan kepada para pejabat Kuwait.
Apa yang disebut sebagai kasuk Abdali Cell dibuka sejak tahun 2015 di Kuwait. Selama proses pengadilan kelompok ini, para pejabat Kuwait mendakwa kelompok Abdali Cell melakukan spionase dan teror, namun kemudian mengklaim bahwa kelompok tersebut berafiliasi dengan Iran.
Menurut Ghasemi, dengan dimulainya penyelidikan kasus yang disebut sebagai Abdali Cell itu, pemerintah Kuwait telah diberitahu kembali bahwa kelompok ini tidak ada hubungannya dengan Iran.
Pada Agustus 2015, Kuwait mengabarkan telah menghancurkan kelompok Abdali Cell yang beranggotakan 26 orang dan menyita senjata, amunisi, dan bahan peledak dari mereka.
Pengadilan Kuwait menghukum para anggota Abdali Cell yang diklaim bekerja untuk Iran dan Hizbullah Lebanon itu. Mereka juga didakwa memiliki senjata, bahan peledak, dan merencanakan "tindakan bermusuhan" di dalam Kuwait.
Mereka dihukum beberapa tahun penjara hingga dalam satu kasus, divonis hukuman mati, namun hukuman terakhir kemudian dikurangi menjadi penjara seumur hidup.
Para terdakwa kemudian dibebaskan karena mengajukan banding, namun pengadilan tertinggi Kuwait membatalkan pembebasan mereka dan menjatuhkan hukuman penjara antara 5-15 tahun di penjara.
Surat kabar Kuwait al-Seyassah baru-baru ini mengklaim bahwa 14 dari 26 anggota Abdali Cell telah melarikan diri ke Iran melalui laut. Kementerian Dalam Negeri Kuwait juga memastikan bahwa ke-14 orang tersebut dalam pelarian. (RA)