Bentuk Kemuliaan Akhlak Yang Tinggi
https://parstoday.ir/id/news/iran-i44279-bentuk_kemuliaan_akhlak_yang_tinggi
Menghargai posisi Fathimah as, memuliakan, keimanan, ketakwaan, ilmu, adab, keberanian, pengorbanan, perjuangan, syahadah dan dalam satu kata adalah kemuliaan akhlak dimana ayahnya diutus untuk menyempurnakannya.
(last modified 2026-04-24T16:42:03+00:00 )
Sep 14, 2017 15:58 Asia/Jakarta
  • Rahbar Ayatullah Al-Uzhma Sayid Ali Khamenei
    Rahbar Ayatullah Al-Uzhma Sayid Ali Khamenei

Menghargai posisi Fathimah as, memuliakan, keimanan, ketakwaan, ilmu, adab, keberanian, pengorbanan, perjuangan, syahadah dan dalam satu kata adalah kemuliaan akhlak dimana ayahnya diutus untuk menyempurnakannya.

Ketika Rasulullah Saw mengenalkan Fathimah as sebagai bagian dari dirinya, mengajarkan kepada penduduk dunia agar mencari bentuk kemuliaan yang tinggi manusia dan akhlak Islam dalam pribadi yang suci ini dan para ibu hendaknya mengambil pancaran dari matahari yang terang ini untuk menerangi dan menghangatkan lembaga kehidupan manusia. (dalam pesan untuk seminar Kausar di Shiraz, 20/11/1366)

Kehadiran Fathimah Zahra as Dalam Kejadia Politik Sosial

Fathimah Zahra as sendiri hadir, dalam semua kejadian umum pada masa itu, baik di masa kanak-kanak, maupun pasca hijrah Rasulullah Saw ke Madinah, di dalam Madinah. Sementara ayahnya adalah markas semua kejadian politik sosial. Ini menunjukkan peran wanita dalam pemerintahan Islam. Tentunya Fathimah Zahra as adalah puncak semua ini. Wanita-wanita hebat lainnya juga ada di masa permulaan Islam; penuh pengetahuan, berakal, berilmu, hadir di semua arena, hadir di medan perang, bahkan mereka yang memiliki tubuh yang kuat, hadir di medan pertempuran mengayunkan pedang dan menjadi pasukan. Tentunya Islam tidak mewajibkan hal ini bagi para wanita dan mencabut dari pundak mereka. Karena tidak sesuai dengan tabiat jasmani juga dengan emosional mereka. (dalam pertemuan dengan para wanita, 30/6/1379)

Kekuatan Politik-Sosial Dan Pandangan Masa Depan Seorang Wanita Muda

Wujud Sayidah Zahra dengan hikmahnya, kemahirannya dalam berbicara, kekuatan politik dan sosial, pandangan masa depan, juga kekuatannya dalam menghadapi masalah zamannya yang paling besar, menunjukkan sebuah kenyataan bahwa seorang wanita muslim di usia muda bisa mencapai posisi spiritual dan irfani yang tinggi. (dalam pertemuan dengan para wanita spesialis kedokteran dan kebidanan, 8/9/1372)

Menciptakan Kebanggaan Dalam Tiga Arena Kehadiran Wanita

Kita harus melihat Fathimah Zahra as dalam tiga arena dan peran wanita besar dan istimewa ini harus kita kenal dengan baik dan harus kita jelaskan dengan baik untuk orang lain. Pertama, di arena kehidupan sebagai seorang muslim, sebagaimana muslim-muslim lainnya, apa yang dilakukan oleh Fathimah as sebagai seorang muslim? Ibadahnya Fathimah as, Akhlaknya Fathimah as, pergaulan Fathimah as, begitu banyak dibahas dalam riwayat kita tentang ciri khasnya, ilmunya, ibadah dan makrifatnya dan tentang dirinya.

Kedua, sebagai seorang wanita di arena sosial. Apakah Fathimah Zahra as memiliki peran ataukah tidak di lingkungan sosial dan di arena perjuangan sosial, gerakan sosial dan tanggung jawab sebagai penjamin yang lainnya dalam kehidupan sosial? Pada waktu itu kita akan sampai pada jihad Fathimah as, pada perjuangan Fathimah as, pada dakwahnya Fathimah as, pada khutbahnya Fathimah yang mengagumkan, pada kesiapannya menyambut bahaya dan masalah-masalah yang ada dalam sebuah masyarakat revolusi. Apa yang dilakukan oleh seorang wanita di tengah-tengah masyarakat? Banyak orang yang beranggapan bahwa wanita menurut Islam tidak ada kerjaan dalam kancah sosial. Padahal ketika kita lihat, tidak demikian; Fathimah as ada di tengah-tengah masyarakat. Itupun, beliau hadir di bagian kancah sosial yang paling berbahaya. Ketika berbicara tentang khilafah, akan dibicarakan tentang perjuangan politik dalam Islam. Pahlawan yang berdiri di tengah-tengah dan Salman, Abu Dzar, Miqdad, Ammar, Hudzaifah dan bahkan Ali bin Abi Thalib yang mengelilinginya adalah Fathimah Zahra as.  Ilmu perjuangan. Fathimah Zahra as pasca wafatnya Rasulullah Saw melakukan perjuangan yang kontinyu, siang-malam, tidak kenal lelah untuk khilafah Ali bin Abi Thalib. Tidak seorang pun bisa mengingkari masalah ini. Siapakah yang melakukan perjuangan ini? Fathimah Zahra as sendiri dan dia adalah poros perjuangan. Dalam kancah perjuangan sosial, seorang wanita bisa hadis secara aktif seperti ini dan harus bisa. Ini adalah teladan bagi kita. Tidak bisa kita katakan, dia adalah Fathimah Zahra as, apa urusannya dengan para wanita kita? Tidak. Karena beliau adalah Fathimah Zahra as, maka para wanita kita harus mengikuti teladan itu. Bila beliau bukan putrinya Rasulullah Saw, bukan maksum, bila tidak dicintai dan disayang oleh Rasulullah Saw, bila pekerjaan dan amalnya tidak ditetapkan dengan perantara kemaksuman, dan beliau sendiri memang maksum, maka kita tidak akan mengatakan harus mengikutinya.

---

Kancah ketiga, sebagai wanita dalam kehidupan privasi. Dalam kehidupan rumah tangga yakni sebagai seorang ibu, sebagai seorang istri, sebagai seorang wanita yang bersabar dalam menghadapi segala kesulitan, sebagai seorang wanita yang hidup berumah tangga selama delapan, sembilan tahun, suaminya ikut perang lebih dari tiga puluh kali. Ikut dalam operasi dan wanita besar ini bertahan menghadapinya. Lihatlah, bila kita ingin membedah sisi ini, ini bukan hanya masalah pembangunan wanita Iran, ini adalah pesan besar kepada dunia.

---

Untungnya, kita telah memiliki kecukupan di bidang budaya. Ini bukan lagi masalah industri dan teknologi yang harus menjulurkan tangan kepada orang lain. Kita punya sendiri teladan itu dan harus kita ekspor untuk dunia. (dalam pertemuan dengan para pembaca kidung Ahlul Bait Rasulullah Saw, 10/12/1364)

Fathimah Zahra as Adalah Seorang Filosuf Yang Arif Dan Pejuang Dalam Kancah Sosial

Kehidupan beliau penuh dengan perjuangan. Seperti seorang serdadu di berbagai macam arena. Beliau hadir secara aktif dan berpengaruh. Dari masa kanak-kanak di Mekah, di sye’b Abu Thalib, dalam memberikan bantuan dan memberikan semangat kepada ayahnya, sampai membarengi Amirul Mukminin as di berbagai tahapan kehidupan yang sulit di Madinah, dalam perang, dalam keterasingan, di tengah-tengah ancaman, dalam sulitnya kehidupan materi dan berbagai tekanan yang ada. Begitu juga di masa kesedihan beliau, yakni setelah wafatnya Rasulullah Saw, baik di masjid Madinah, maupun ketika dalam kondisi sakit. Dalam semua tahapan ini, beliau tetap aktif, tetap berusaha. Beliau adalah seorang filsuf pejuang, seorang arif pejuang. (dalam pertemuan dengan para pembaca kidung Ahlul Bait Rasulullah Saw, dalam rangka hari ulang tahun kelahiran Sayidah fathimah as, 13/3/1389)(Emi Nur Hayati)

Sumber: Naghs wa Resalat-e Zan II, Olgou-ye Zan Bargerefteh az bayanat-e Ayatullah al-Uzhma Khamenei, Rahbare Moazzam-e Enghelab-e Eslami.