Inilah Respon Presiden Iran terhadap Posisi Terbaru AS
-
Hassan Rouhani, Presiden RII.
Presiden Republik Islam Iran menilai pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat sebagai penghinaan dan setumpuk tuduhan palsu terhadap bangsa besar Iran.
Hassan Rouhani mengungkapkan hal itu dalam pernyataannya yang disiarkan Live oleh televisi nasional Iran pada Jumat (13/10/2017) malam untuk merespon posisi anti-Iran yang diumumkan oleh Donald Trump, Presiden AS.
"Komentar Trump tentang Republik Islam Iran tidak mengandung apa-apa, kecuali umpatan dan setumpuk tuduhan palsu terhadap bangsa negara ini," kata Rouhani.
Ia menyarankan Trump untuk memahami sejarah dan geografi dunia guna meningkatkan pemahamannya tentang kewajiban internasional, dan etik, etiket serta konvensi global.
Presiden Iran lebih jauh menyinggung sejarah permusuhan AS terhadap Iran, dan mengatakan, Trump harus mempelajari sejarah dengan lebih baik dan lebih dekat serta mengetahui apa yang telah mereka lakukan terhadap rakyat Iran selama 60 tahun terakhir dan bagaimana mereka memperlakukan bangsa negara ini selama 40 tahun terakhir setelah kemenangan Revolusi Islam pada tahun 1979.
Rouhani juga menolak permintaan Trump agar JCPOA direvisi. Ia menegaskan, kesepakatan nuklir tersebut akan tetap utuh dan tidak akan ada artikel atau paragraf yang akan ditambahkan atau dikurangi.
Ia menuturkan, JCPOA lebih kuat dari yang dipikirkan Trump di masa kampanye pemilu dan AS semakin sendirian dalam menghadapi kesepakatan ini dan konspirasinya terhadap Iran.
Menurut Rouhani, satu presiden saja tidak akan dapat membatalkan sebuah kesepakatan internasional.
"Dia (Trump) tampaknya tidak tahu bahwa ini bukan dokumen bilateral antara Republik Islam Iran dan AS sehingga dia bertindak sesuai keinginannya," ujarnya.
Rouhani menegaskan, Iran hanya akan menghormati komitmen kesepakatan nuklirnya selama hak-haknya dijaga dan kepentingannya dilayani.
Di bagian lain pernyataannya, Rouhani menekankan bahwa Iran telah bekerjasama dan akan melanjutkan kerjasama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) selama kepentingan negaranya dilindungi dan hak-haknya dipenuhi.
"Namun, jika suatu saat kepentingan kami tidak dilayani, kami tidak akan ragu sejenak pun dan akan meresponnya," tegasnya.
Rouhani menegaskan bahwa bangsa Iran belum pernah menyerah dan tunduk terhadap kekuatan apapun dan tidak akan melakukannya di masa depan.
Ia mengatakan, banyak negara telah mendukung mantan diktator Saddam, Irak selama agresi militer ke Iran pada tahun 1980-an, namun mereka gagal mengalahkan rakyat negara ini.
Presiden Iran juga menyinggung pengumuman sanksi Trump terhadap Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC/Pasdaran), dan mengatakan, "Pasukan Pasdaran adalah kekuatan yang kuat dan rakyat selalu berdiri di dekatnya."
Rouhani menegaskan bahwa pasukan Pasdaran berada di samping bangsa-bangsa regional dan berdiri melawan para teroris.
Ia menjelaskan, Iran dengan jelas bediri melawan terorisme di kawasan; yaitu teroris yang dikatakan Trump dalam kampanyenya bahwa teroris Daesh (ISIS) adalah buatan dan bentukan AS.
Di bagian akhir pernyataannya, Rouhani mempertanyakan motif AS yang mengungkapkan keprihatinan atas program rudal Iran, dan mengatakan, AS telah memberikan senjata kepada "negara-negara agresif" untuk menargetkan orang-orang yang tidak bersalah di kawasan, termasuk di Yaman.
"Rudal kami adalah untuk pertahanan kami dan kami selalu berusaha untuk memproduksi senjata kami dan mulai sekarang, kami akan melipatgandakan upaya kami itu dan terus meningkatkan kecakapan defensif kami," tegasnya.
Setelah selama beberapa pekan memunculkan kontroversi di media, akhirnya Gedung Putih pada Jumat mempublikasikan apa yang disebut sebagai strategi komprehensif dan baru Presiden AS terkait dengan Iran dan perjanjian nuklir JCPOA. Tidak lama setelah itu, Trump dalam pidatonya mengungkap kontradiksi dan kebenciannya terhadap bangsa besar Iran.
Presiden AS itu mengulang kembali tuduhannya bahwa Iran telah melanggar semangat JCPOA. Trump mengatakan, JCPOA merupakan kesepakatan terburuk dalam sejarah Amerika, dan setiap waktu diperlukan, perjanjian ini akan diakhiri. Presiden AS itu juga mengumumkan pemberlakuan sanksi baru terhadap Iran.(RA)