JCPOA; Badai Yang Menghanyutkan Trump
https://parstoday.ir/id/news/iran-i45957-jcpoa_badai_yang_menghanyutkan_trump
Pidato anti Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan intervensi aneh di isu militer dan pertahanan Republik Islam Iran telah menimbulkan badai. Tapi badai ini membuat Trump tercengang ketimbang yang lain, karena tak lama setelah pidatonya tersebut, masyarakat internasional menunjukkan reaksi keras.
(last modified 2026-05-10T18:00:53+00:00 )
Okt 15, 2017 11:05 Asia/Jakarta
  • Presiden Iran Hassan Rouhani
    Presiden Iran Hassan Rouhani

Pidato anti Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan intervensi aneh di isu militer dan pertahanan Republik Islam Iran telah menimbulkan badai. Tapi badai ini membuat Trump tercengang ketimbang yang lain, karena tak lama setelah pidatonya tersebut, masyarakat internasional menunjukkan reaksi keras.

Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani juga langsung memberi jawaban tegas tak lama setelah pidato Trump. Mantan menteri luar negeri Amerika, Madeleine Albright saat mereaksi pidato Trump mengatakan, "Pelemahan kesepakatan nuklir akan membahayakan keamanan kita dan juga mengucilkan kami di mata para sekutu."

Pidato Trump penuh dengan kemarahan dan sangat berbahaya. Di sisi lain, Jill Stein, pemimpin partai Hijau Amerika seraya mengisyaratkan pidato anti kesepakatan nuklir Trump memberikan analisa. "Dinas Intelijen AS (CIA) telah menumbangkan demokrasi Iran di tahun 1953 dan mengangkat diktator berbahaya. Iran dan seluru bangsa tidak menghendaki perang, mereka hanya ingin Amerika menghentikan ulahnya," papar Stein.

Setelah pidato ini, #IRGC dan #Rouhani dan JCPOA termasuk 10 tren di Twitter. Dianne Feinstein, senator AS dari kubu Demokrat saat memberikan reaksi kerasnya menyebut orientasi JCPOA Trump akan menimbulkan kesulitan terhadap Amerika. "Sikap dan keputusan Trump terkait JCPOA serta perundingan kembali dan tidak mengakui komitmen Iran terhadap kesepakatan nuklir, harus mempertimbangkan keamanan Amerika. Karena pidato dan keputusan seperti ini selain meningkatkan ancaman nuklir Korea Utara, juga negara mana yang bersedia berunding dengan kami ketika kita tidak komitmen terhadap perjanjian internasional," papar Dianne Feinstein.

Di sisi lain, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini saat menyikapi pidato Trump dan pengumuman bahwa AS tidak mengakui komitmen Iran terhadap JCPOA mengatakan, "JCPOA sebuah kesepakatan multi dan pada prinsipnya masalah ini bukan tanggung jawab AS untuk merusaknya."

Pengumuman strategi dan sikap presiden Amerika terhadap JCPOA dan pengambilan kebijakan yang dinilai tidak seimbang dan non diplomatis juga memicu reaksi pejabat dan elit politik serta sosial di Inggris, Perancis, Jerman dan seluruh negara Eropa. Kantor perdana menteri Inggris di statemennya menyatakan, perdana menteri Inggris bersama pemimpin Perancis dan Jerman di statemen bersamanya menyatakan komitmen mereka terhadap JCPOA dan janjinya untuk melaksanakan kesepakatan nuklir ini.

Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson saat mereaksi pendekatan presiden Amerika terkait JCPOA menandaskan, "JCPOA membuat dunia lebih aman."

Lindsey German, direktur koalisi anti perang di Inggris mengatakan, Trump tidak seharusnya menjadi presiden, ia seorang rasis dan membawa kekerasan bagi dunia. Statemen anti kesepakatan sejumlah negara dengan Iran mengindikasikan bahwa ia tidak dapat berdamai dengan siapapun. Trump melanjutkan kebijakan anti perempuan, anti minoritas, mengancam akan mengirim pasukan Amerika ke perbatasan selatan dengan Mexico, mengancam Amerika. Ia sosok berbahaya yang menyeret dunia pada kekacauan.

Kebijakan Trump memicu instabilitas dan merebaknya instabilitas di dunia. Pengamat politik mengatakan, tidak ada yang dapat memprediksikan pada akhirnya Trump akan membawa ke mana kebijakan luar negeri Amerika. Pastinya Trump adalah sosok yang tidak dapat diprediksi dan pendekatannya meningkatkan kerusakan di dunia. Tak diragukan lagi ia memperparah instabilitas bahkan bagi rakyat Inggris, Perancis, Belgia dan Amerika sendiri.

Meski sepertinya pidato dan politik Donald Trump berbeda dengan presiden sebelumnya, namun para pengamat menilai hal ini sebagai kebijakan kekal Amerika. Riad Taher, aktivis HAM dan anti perang terkait hal ini mengatakan, "Di antara strategi Amerika dan sekutunya adalah menghancurkan pemerintahan anti kebijakan Washington dengan berbagai alasan. Penentangan dan konspirasi anti Iran juga dilakukan dengan alasan serupa. Kebijakan AS pasca perang dunia kedua tidak berubah. Islamphobia, Daesh, perang Sunni-Syiah, selurunya diciptakan oleh Barat, karena mereka ingin melemahkan kekuatan bangsa kawasan dan menghancurkan pemerintahan regional serta kemudian mereka dapat menguasai penuh Timur Tengah."

Saat ini berbagai julukan seperti rasis, haus perang, tidak dapat dipercaya, tidak bermoral, raksasa, termasuk titel yang diberikan berbagai media Eropa kepada presiden Amerika dan ini juga mulai merebak di dunia maya. (MF)