Jaksa Agung Iran Jelaskan Dalang Kerusuhan Terbaru di Negaranya
https://parstoday.ir/id/news/iran-i49269-jaksa_agung_iran_jelaskan_dalang_kerusuhan_terbaru_di_negaranya
Jaksa Agung Republik Islam Iran dalam pernyataan terbaru menyinggung rincian kamar operasi kerusuhan terbaru di negara ini.
(last modified 2026-04-12T10:02:39+00:00 )
Jan 05, 2018 00:56 Asia/Jakarta
  • Hujjatul Islam wal Muslimin Mohammad Ja\\\'far Montazeri, Jaksa Agung RII.
    Hujjatul Islam wal Muslimin Mohammad Ja\\\'far Montazeri, Jaksa Agung RII.

Jaksa Agung Republik Islam Iran dalam pernyataan terbaru menyinggung rincian kamar operasi kerusuhan terbaru di negara ini.

Hujjatul Islam wal Muslimin Mohammad Ja'far Montazeri mengatakan, proyek yang terdiri dari tiga sisi: Amerika Serikat, rezim Zionis Israel dan Arab Saudi ini telah dirancang sejak empat tahun lalu untuk menciptakan ketidakamanan di Iran.

"Perancang utama kerusuhan baru-baru ini di Republik Islam Iran adalah Michael D'Andrea, mantan pejabat kontra-terorisme Badan Intelijen Pusat AS (CIA)," kata Montazeri dalam pernyataannya di Qom, selatan Tehran, Kamis (4/1/2018).

Menurutnya, proyek tersebut bernama "Doktrin Konvergensi Efektif " dan telah disiapkan dan didalangi sekitar empat tahun lalu melalui kerjasama erat dengan negara-negara tersebut.

Montazeri menuturkan, Andrea bersama dengan seorang perwira yang berafiliasi dengan agen mata-mata rezim Zionis, Mossad bertugas mendalangi plot tersebut sementara Arab Saudi membayar semua biayanya.

Ia menjelaskan, plot ini dirancang berdasarkan data yang dikumpulkan sepanjang tahun dan mereka melakukan berbagai skenario seperti memprotes mahalnya biaya hidup, tagihan yang tinggi dan tuntutan finansial dari para pensiunan.

Menurut Jaksa Agung Iran, kelompok-kelompok yang dilarang lainnya seperti MKO, pengikut rezim monarki dan beberapa kelompok yang berafiliasi dengan komunis terlibat dalam plot tersebut.

Mereka, lanjut Montazeri, telah menawarkan dua model bernama Tunisia dan Libya dan akhirnya memilih yang terakhir yaitu menciptakan gelombang kerusuhan dari luar ke pusat.

Ia menuturkan, beberapa analis percaya bahwa mereka telah menyiapkan rencana tersebut untuk tahun 2018 namun karena keadaan khusus negara, mereka melancarkannya lebih awal dari jadwal.

Mereka, lanjut Montazeri, berasumsi akan dapat mengakhiri Revolusi Islam melalui konspirasi semacam itu, namun sia-sia.

Ia mengatakan, segera setelah kerusuhan tersebut, presiden bodoh AS mendukung langkah tersebut di twitternya yang diikuti oleh dukungan dari Inggris, rezim Zionis dan sejumlah negara Eropa.

"Kewaspadaan bangsa Republik Islam Iran dan wawasan mereka merupakan rintangan besar bagi keinginan buruk musuh," ujarnya.

Ia menegaskan, musuh Republik Islam telah hampir 40 tahun menerapkan berbagai konspirasi anti-Iran, namun konspirasi ini berhasil digagalkan berkat kecintaan rakyat negara ini kepada pemerintah dan Rahbar.

Unjuk rasa warga RII mengecam para perusuh.

Sejak 28 Desember 2017, warga Iran di beberapa kota di negara ini turun ke jalan-jalan untuk memprotes kenaikan sejumlah harga barang dan lemahnya pengawasan pemerintah, namun sejumlah pihak memanfaatkan situasi itu untuk menciptakan kekacauan dengan merusak sarana publik dan membuat keonaran di bawah bayangan dukungan asing. (RA)