Giliran CIA Rilis Klaim Anti Iran
https://parstoday.ir/id/news/iran-i50771-giliran_cia_rilis_klaim_anti_iran
Petinggi Gedung Putih baru-baru ini melancarkan gelombang baru gerakan anti Republik Islam Iran dalam rangka menebar Iranphobia.
(last modified 2026-04-12T10:02:39+00:00 )
Jan 31, 2018 16:02 Asia/Jakarta

Petinggi Gedung Putih baru-baru ini melancarkan gelombang baru gerakan anti Republik Islam Iran dalam rangka menebar Iranphobia.

Pergerakan ini diawali dengan sandiwara Duta besar AS untuk PBB, Nikki Haley dengan mengundang para wakil negara anggota Dewan Keamanan ke jamuan makan siang Trump dan presentasi sisa-sisa rudal yang diklaim milik Republik Islam Iran yang diserahkan kepada Gerakan Ansarullah Yaman.

Nikki Hale dan Selongsong Rudal

Menyempurnakan proyek ini, Direktur Central Intelligence Agency (CIA) Michael Pompeo dalam wawancara eksklusifnya dengan BBC seraya menisbatkan rudal Ansarullah Yaman ke Iran, menyebut penembakan rudal tersebut ke Arab Saudi tidak dapat diterima dan sama halnya dengan aksi perang.

Seraya mengulang tudingan AS, ia mengklaim bahwa aktivitas regional Iran bukan untuk kepentingan Tehran. Kebijakan pemerintah Amerika senantiasa dibumbui dengan Iranphobia dan ancaman terhadap Tehran. Presiden AS Donald Trump Selasa malam di pidato tahunannya di Kongres mengisyaratkan instabilitas terbaru di sejumlah kota Iran dan mengatakan, "...Ketika terjadi kerusuhan di Iran, Saya tidak tinggal diam. Amerika berdiri di samping perjuangan heroik rakyat Iran untuk meraih kebebasan."

Michael Pompeo, Direktur CIA

Apa jenis argumentasi ini ketika Amerika mengusung dalih membela kebebasan dan mengamankan kawasan saat melakukan intervensi dan mengobarkan instabilitas di Iran, kawasan dan pendudukannya seperti kondisi di Afghanistan dan Irak?

Realitanya adalah petinggi Amerika dalam bentuk kebijakan membela kepentingan nasional, melalui statemen proyektifnya dengan menuding Iran mengobarkan instabilitas di kawasan dan apa yang diklaim Washington dukungan Tehran terhadap terorisme, berusaha mencitrakan peran positif Amerika di kawasan dan dunia. Padahal esensi sejati peran Amerika adalah pengobar perang dan pemicu instabilitas, terorisme dan al-Qaeda serta Daesh.

Amerika satu-satunya negara yang menggunakan senjata nuklir dan saat ini termasuk negara yang memiliki arsenal nuklir terbesar di dunia. AS juga membantu Israel untuk memiliki senjata nuklir, namun negara ini senantiasa mengklaim bahwa Tehran ingin mengejar senjata atom dan rudal balistik Iran dirancang untuk membawa hulu ledak nuklir.

Menuding Iran mensponsori terorisme juga rencana lain Amerika untuk mengintervensi kawasan. Arus ini sejatinya program bersama Amerika, Israel dan Arab Saudi untuk menghapus Iran dari konstelasi regional dan bagian dari rencana Washington mengubah peta Timur Tengah.

Asisten khusus dan penasehat Rahbar, Yahya Rahim Safavi saat menganalisa perilaku Amerika mengatakan,"...Realitanya adalah pemimpin Amerika saat ini atau sebelumnya memahami dengan baik di mana sumber radikalisme di kawasan, namun kebijakan dan motifasi finansial mendorong perubahan orientasi sikap dan ucapan presiden AS saat ini. Dan sejatinya keuntungan besar Amerika Serikat terletak dalam pengobaran instabilitas dan tensi di negara-negara Islam."

Esensi sejati Amerika telah terbukti oleh bangsa Iran. Lebih dari enam abad permusuhan Amerika merupakan bukti dalam hal ini.

Ayatullah Khamenei

Ayatullah Khamenei bulan April tahun lalu dalam pidatonya bertepatan dengan hari angkatan bersenjata Iran seraya mengisyaratkan beragam konspirasi sejak awal kemenangan Revolusi Islam Iran hingga kini mengisyaratkan, "Jika Republik Islam dan bangsa Iran harus takut kekuatan besar dan mundur dalam melawan mereka, maka saat ini tidak akan ada bekas dari Iran dan indikasi keberadaan bangsa ini." (MF)