Rouhani: Tidak Boleh Ada Negara yang Terancam oleh Tetangganya
-
Rouhani dan Cavusoglu
Presiden Iran Hassan Rouhani menolak segala bentuk tindakan yang akan menyebabkan perubahan dalam perbatasan geografis negara-negara, dan mengatakan bahwa tidak boleh ada negara di kawasan yang merasa terancam oleh tetangganya.
Hal itu dikemukakannya dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, di Tehran pada hari Rabu (07/2/2018).
Rouhani juga menggarisbawahi pentingnya upaya memberantas terorisme dan memperkuat stabilitas dan keamanan regional.
"Menjaga negara-negara 'independen dan perbatasan geografis akan mengacu pada peningkatan keamanan di wilayah ini, dan kita harus berupaya dan mengambil tindakan dengan cara di mana tidak ada negara yang merasa terancam oleh tetangganya," tambahnya.

"Sayangnya, saat ini beberapa pihak berusaha untuk mengubah perbatasan geografis di kawasan dan setelah kekalahan mereka di utara Irak, mereka mulai menggulirkan plot di Suriah utara," tegas Rouhani.
Pertemuan itu terjadi di tengah operasi militer Turki yang sedang berlangsung, yang dinamakan Operation Olive Branch, di wilayah Afrin, barat laut Suriah. Serangan tersebut bertujuan memberangus Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG), yang dinilai Ankara sebagai organisasi teror dan cabang dari Partai Buruh Kurdistan yang dilarang (PKK).
Iran telah mendesak Turki menghentikan serangan militer tersebut, dan mengatakan bahwa operasi itu melanggar kedaulatan Suriah serta akan memicu ketegangan di negara yang telah didera perang berkepanjangan.
Rusia juga menyuarakan keprihatinan tentang operasi militer Turki di Afrin.
Pada bagian lain pernyataannya, Presiden Iran menggarisbawahi kerja sama antara Ankara, Moskow dan Tehran untuk mengembalikan integritas Suriah, memberantas terorisme dan membangun perdamaian di negara Arab itu.(MZ)