Jawaban Tegas Iran Tanggapi Klaim Barat soal HAM
-
AS terbukti melakukan pelanggaran HAM berat di berbagai belahan dunia.
Uni Eropa dalam sebuah pernyataan intervensif, kembali mengulangi klaim tak berdasar terhadap Iran dan mengkritik negara ini atas apa yang mereka sebut pelanggaran hak asasi manusia.
Dalam pernyataan yang dirilis di Brussel, Senin (12/3/2018), Uni Eropa menyampaikan kekhawatiran atas apa yang mereka klaim gelombang penangkapan baru-baru ini di Iran, termasuk penangkapan sekelompok aktivis lingkungan dan beberapa kasus bunuh diri di penjara, dan meminta pemerintah Iran untuk menyelidiki kasus tersebut.
Mengeluarkan klaim anti-Iran telah menjadi sebuah kegiatan wajib bagi Eropa dan Barat, padahal dunia setiap hari menyaksikan pelanggaran nyata HAM – di tengah kebisuan masyarakat internasional – di berbagai belahan dunia, dan bahkan di jantung Eropa dan di Amerika Serikat, yang mengaku sebagai pahlawan HAM.
AS dan sejumlah negara Eropa, seperti Perancis dan Inggris, berada di urutan teratas daftar pelaku pelanggaran hak asasi manusia di dunia.
Amnesty International dalam sebuah laporan pada Desember 2017, menemukan peran Uni Eropa dalam mengeksploitasi para pencari suaka. Amnesty mencatat bahwa negara-negara Eropa bekerjasama dengan otoritas Libya untuk mencegah pengungsi menyeberangi Laut Mediterania dan ini telah menjadi salah satu faktor utama perbudakan di Libya.

Di Amerika, diskriminasi rasial dan perampasan hak-hak warga kulit hitam terus berlangsung, dan kondisi penjara di negara itu juga mengerikan. Beberapa negara berdaulat mengalami kehancuran total akibat gempuran militer AS.
Dalam hal ini, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengatakan, "Pelanggaran HAM oleh pemerintah AS tidak ada padanannya di dunia. Mereka tidak meyakini hak asasi manusia, tidak meyakini martabat manusia dan suara rakyat. Segala sesuatu tentang kebebasan, HAM dan sejenisnya yang disampaikan oleh pejabat AS, pada dasarnya pelecehan terhadap kebebasan dan HAM itu sendiri."
Isu HAM di Barat sebenarnya telah menjadi alat untuk mencampuri urusan negara lain dan mendukung kelompok-kelompok teroris dan penjahat, yang sejalan dengan kepentingan mereka.
Sekretaris Dewan HAM Iran, Mohammad Javad Larijani pada sidang ke-37 Dewan HAM PBB di Jenewa, mengatakan bahwa faktor yang telah mencegah sebuah dialog konstruktif tentang HAM adalah penerapan standar ganda oleh AS dan Barat.
"Mereka melihat isu HAM dari sudut pandang ras, agama, dan politik, sementara pembunuhan terhadap ribuan anak-anak, perempuan dan laki-laki di Palestina, Yaman, Suriah, dan Afghanistan, tidak dianggap sebagai pelanggaran HAM," tambahnya.
Sementara itu, seorang pengamat internasional asal Iran, Mustafa Samei menuturkan, "Barat banyak melakukan intervensi di negara-negara Muslim atas dasar Islamphobia dan melawan kaum Muslim. Mereka merekrut tentara bayaran dan teroris untuk mengadu-domba dan mengobarkan konflik antar umat Islam demi mencapai kepentingannya."
Wakil Urusan Internasional di Dewan HAM Iran, Kazem Gharibabadi mengatakan, Barat ingin mengkampanyekan bahwa Islam tidak bisa bersanding dengan hak asasi manusia dan tentu ini hanya klaim semata. HAM dalam Islam sangat berakar dan masalah ini sudah ditekankan sejak 14 abad lalu.
Menurut Javad Larijani, HAM bukanlah sebuah derma dari Amerika, Barat, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), penegakan HAM justru harus mendapat perhatian serius di AS ketimbang di tempat lain.
"Amerika Serikat dan Eropa tidak memenuhi syarat untuk berbicara mengenai hak asasi manusia, karena kejahatan yang telah mereka lakukan," tegasnya. (RM)