Respon Tegas Iran soal Pelanggaran JCPOA oleh AS
-
JCPOA
Menteri KeuanganAmerika Serikat dalam pernyataan yang bertentangan dengan isi kesepakatan nuklir antara Iran dan Kelompok 5+1 mengklaim bahwa pengumuman tidak diperpanjangnya penangguhan sanksi Iran oleh Presiden Donald Trump bukan berarti Amerika keluar dari perjanjian tersebut.
"Jika Trump memutuskan untuk tidak menandatangani penangguhan sanksi, itu bukan berarti bahwa kami akan keluar dari perjanjian ini. Artinya, sanksi primer dan sekunder akan kembali diberlakukan," kata Steven Mnuchin di Kongres AS.
Presiden Amerika Serikat dijadwalkan akan memutuskan soal perpanjangan penangguhan sanksi nuklir Iran pada 12 Mei nanti. Sebelumnya, di bulan Januari, ia mengancam Eropa jika mereka tidak mempedulikan tuntutan Washington soal kesepakatan nuklir dengan Iran. Trump memberikan waktu sebulan kepada Eropa, dan jika tidak ada tanda-tanda persetujuan Eropa untuk menyertai permintaan Trump, maka Trump akan menarik keluar negaranya dari kesepakatan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).
Pada poin ke-21 JCPOA disebutkan, "Amerika Serikat harus menghentikan sanksi dan melanjutkan penghentiannya sebagaimana yang ditetapkan dalam Lampiran Dua dengan efektivitas simultan dari pelaksanaan langkah-langkah yang disetujui dalam kesepakatan nuklir Iran sebagaimana ditentukan dalam Lampiran Lima, yang telah diverifikasi oleh IAEA."
Oleh karena itu, pemerintah AS secara eksplisit melarang kembalinya sanksi yang ditangguhkan terhadap Iran. Bahkan pemerintah AS telah berjanji mencegah penerapan sanksi baru terhadap kegiatan nuklir Iran di semua tingkat federal maupun negara bagian.
Pada akhir poin ke-37 JCPOA disebutkan, "Iran telah menyatakan, jika sanksi diberlakukan kembali sebagian atau seluruhnya, maka hal itu akan dianggap sebagai dasar untuk penangguhan total atau sebagian dari komitmennya."
Dengan penjelasan secara eksplisit dalam teks kesepakatan nuklir tersebut, diharapkan Republik Islam Iran akan merespon segala bentuk pelanggaran komitmen oleh AS. Dalam beberapa hari terakhir, para pejabat senior Iran secara konsisten memperingatkan soal respon Republik Islam terhadap pelanggaran JCPOA.
"Ada kemungkinan untuk memperkaya uranium 20 persen dalam empat hari, bahkan kita bisa melakukannya dalam dua hari," kata Behrouz Kamalvandi, juru bicara Organisasi Energi Atom Iran.
Republik Islam Iran telah berulang kali menegaskan akan mematuhi semua kewajiban internasionalnya, termasuk perjanjian nuklir dengan kelompok 5+1, dan tidak akan memulai pelanggaran. Namun jika presiden Amerika Serikat bermaksud melanggar kewajiban internasionalnya dengan alasan apapun, maka Gedung Putih akan menerima jawaban yang setimpal dari Iran. Responnya adalah kegiatan nuklir yang lebih besar di tingkat kuantitas dan kualitas dari sebelum kesepakatan JCPOA tercapai.(MZ)