Klaim Anti Iran dalam Laporan HAM AS
-
AS dan sejumlah negara Eropa, seperti Perancis dan Inggris, berada di urutan teratas daftar pelaku pelanggaran hak asasi manusia di dunia.
Departemen Luar Negeri AS dalam laporan terbaru tentang situasi hak asasi manusia, menuding Republik Islam Iran melanggar HAM di dalam dan luar negeri.
Laporan itu menyoroti beberapa kasus seperti, isu kebebasan berekspresi, berkumpul, dan berserikat di Iran, pelaksanaan eksekusi mati, hak-hak perempuan, hak-hak minoritas, penangkapan tanpa proses hukum, dan penyiksaan. AS mengklaim bahwa semua kasus pelanggaran ini terjadi di Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram Qasemi mengecam tudingan tak berdasar dan tak dapat diterima yang dibuat oleh Washington.
"Akan lebih baik bagi Amerika, daripada mencampuri urusan internal negara-negara lain ... untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesegera mungkin guna mendukung hak asasi manusia di dalam Amerika sendiri, serta menunjukkan reaksi terhadap pelanggaran HAM luas yang dilakukan oleh sekutu asingnya," tegas Qasemi.
Dia menegaskan bahwa Iran menganggap laporan tahunan Departemen Luar Negeri AS terutama tentang isu HAM, benar-benar bias dan politis.
Pemerintah AS memandang isu HAM sebagai instrumen politik. Rapor HAM AS dipenuhi dengan berbagai pelanggaran berat seperti, penumpasan demonstrasi damai Occupy Wall Street dan gerakan-gerakan anti-rasis, pembunuhan warga kulit hitam oleh polisi, dukungan kepada Israel untuk menindas rakyat Palestina, dan dukungan kepada Arab Saudi untuk membunuh rakyat Yaman.
Namun, bagi Amerika, Inggris, dan Perancis, memeras para raja Arab dan menjual senjata kepada mereka lebih utama daripada mengurusi masalah pelanggaran HAM.
Seorang aktivis HAM, Robert Fantina mengatakan hak asasi manusia Amerika berhubungan langsung dengan pendapatan minyak dan kepentingan finansial. Jadi, setiap kali kepentingan finansial AS terpenuhi, maka di sini HAM akan menemukan makna lain.
AS selalu menampilkan dirinya sebagai pahlawan HAM, padahal mereka selama lebih dari setengah abad melakukan berbagai tindakan yang memalukan terhadap bangsa Iran.
Di antara tindakan memalukan itu adalah kudeta Agustus 1953, dukungan kepada kelompok teroris munafikin (MKO), dukungan mutlak kepada Saddam Hussein untuk menyerang Iran selama delapan tahun, dan penyerahan senjata kimia ke Irak.
AS juga menembak jatuh pesawat penumpang Iran pada Juli 1988, di mana 290 penumpang termasuk 66 anak meninggal dunia dalam penerbangan Iran Air Flight 655.
Dengan rapor seperti itu, maka laporan HAM yang diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri AS terhadap negara lain benar-benar memalukan.
Dalam hal ini, analis dan pakar sejarah asal Amerika, Stephen Lendman menuturkan, "Tidak ada negara manapun dalam sejarah dunia yang telah menyengsarakan masyarakat seperti yang dilakukan AS. Negara ini menjalankan demokrasi ilusif, yang hanya menyandang nama demokrasi."
Dengan kata lain, Amerika mengaku sebagai pembela HAM ketika semua perilaku mereka justru bertentangan dengan nilai-nilai luhur HAM. (RM)