Zarif: Iran Tidak akan Negosiasi Ulang JCPOA
-
Menlu RII Mohammad Javad Zarif
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif mengatakan, terkait dengan perjanjian nuklir JCPOA (Rencana Aksi Bersama Komprehensif), Iran tidak akan menegosiasikan ulang dan juga tidak akan menambahkan isinya.
"Untuk kesepakatan nuklir, hanya ada satu jalan ke depan, yaitu kepatuhan penuh Amerika Serikat terhadap kewajiban-kewajibannya dalam perjanjian ini," kata Zarif dalam sebuah rekaman video yang dirilis pada hari Kamis (3/5/2018).
Menlu Iran lebih lanjut menyinggung pelanggaran terus-menerus Amerika Serikat terhadap JCPOA.
"Jika AS melanjutkan pelanggarannya terhadap JCPOA atau keluar dari perjanjian ini, Republik Islam Iran akan menggunakan haknya untuk merespon," tegasnya.
Zarif menambahkan, pernyataan kontroversial atau ancaman tidak akan membawa kesepakatan baru bagi AS, terutama selama negara ini tidak menghormati kesepakatan yang telah dicapai saat ini.
Di bagian lain pernyatannya, menlu Iran menyinggung semakin dekatnya tenggat waktu keputusan AS untuk memperpanjang penangguhan sanksi terhadap Iran dan melaksanakan kewajibannya dalam JCPOA.
"Republik Islam Iran berdiri teguh melawan berbagai upaya intimidasi yang sia-sia," tegasnya.
JCPOA, lanjut Zarif, adalah perjanjian yang telah disetujui di Dewan Keamanan PBB dan mengikat bagi semua yang terlibat di dalamnya.
"IAEA (Badan Energi Atom Internasional) hingga sekarang telah berulang kali menegaskan kepatuhan Republik Islam Iran terhadap JCPOA," tuturnya.
Di bagian akhir pernyataannya, Zarif menyinggung upaya sejumlah negara Eropa untuk meyakinkan Presiden AS Donald Trump agar tidak keluar dari JCPOA dengan menjanjikan pemberian konsesi lebih dari Iran.
"Saya mengumumkan sekali lagi untuk selamanya bahwa Republik Islam Iran tidak akan melemahkan keamanannya dan juga tidak akan merundingkan kembali sebuah kesepakatan yang telah diraih dengan itikad baik," pungkasnya.
Setelah menjabat sebagai Presiden AS, Trump mengklaim bahwa perjanjian nuklir JCPOA hanya menjamin kepentingan Iran dan dia menuntut pengubahan isi dari perjanjian tersebut demi kepentingan Washington.
Pada tanggal 12 Januari, Trump memperpanjang penangguhan sanksi nuklir terhadap Iran, namun dia mengumumkan bahwa pengubahan sejumlah isi JCPOA, akses ke situs-situs militer Iran dan sanksi rudal terhadap negara ini sebagai syarat agar AS tetap berada di dalam perjanjian tersebut. (RA)