Sejarah Sanksi AS terhadap Iran
-
Sanksi pertama AS terhadap Iran dijatuhkan pada 22 Mei 1980.
Amerika Serikat terus bekerja untuk mencegah kemajuan Republik Islam Iran dengan bermacam cara selama 40 tahun terakhir. Sanksi adalah salah satu instrumen untuk mencapai tujuan itu.
Menurut data resmi, sanksi pertama AS terhadap Iran dijatuhkan pada 22 Mei 1980. Pada tanggal itu, Washington memberlakukan sanksi ekonomi besar-besaran terhadap Republik Islam sebagai tanggapan atas pendudukan Kedutaan AS (sarang spionase) di Tehran dan secara resmi mengumumkan dimulainya embargo ekonomi.
Sanksi ini adalah awal dari kisah panjang tindakan AS dalam menghukum Iran. Pada tahun 1995, Presiden Bill Clinton mengumumkan sanksi lebih lanjut yang melarang perusahaan-perusahaan minyak AS melakukan investasi di proyek minyak dan gas Iran.
Hubungan perdagangan dengan Iran dihentikan berdasarkan undang-undang D'Amato dan ILSA Act (The Iran-Libya Sanctions Act). Sejak tahun 2001, tren ini terus berkembang dan muncul dua fenomena baru dalam kebijakan sanksi AS terhadap Iran. Pertama, pengumuman dan penerapan sanksi ekonomi terhadap individu dan lembaga non-pemerintah, dan kedua, perluasan sanksi secara otomatis.
Menurut klaim AS, rangkaian sanksi itu mengejar berbagai tujuan termasuk, mencegah pelanggaran hak asasi manusia, memberantas terorisme, mencegah non-proliferasi nuklir, melestarikan lingkungan hidup, dan meredam penyebaran konflik dan ancaman regional.
Padahal, AS sendiri adalah terdakwa utama dalam semua kasus tersebut seperti, pelanggaran terhadap Perjanjian Iklim Paris, tidak mematuhi Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), mendukung terorisme, dan melanggar HAM. Mereka harus bertanggung jawab atas tindakan anti-kemanusiaan ini.
Dengan tekanan dan propaganda AS, Dewan Keamanan PBB meloloskan banyak resolusi terhadap program nuklir Iran dalam bentuk paket sanksi baru. Tren ini berakhir pada 20 Juli 2015 ketika Iran dan enam kekuatan dunia mencapai kesepakatan nuklir, yang diperkuat dengan resolusi 2231 Dewan Keamanan.
Namun, Presiden AS Donald Trump menyebut JCPOA sebagai kesepakatan buruk dan memutuskan keluar dari perjanjian internasional itu dengan klaim ancaman kemampuan rudal Iran dan kekhawatiran terhadap pengaruh regional Tehran. Dengan demikian, AS menemukan alasan baru untuk mengembalikan sanksi-sanksi terhadap Iran.
AS berusaha keras untuk melemahkan dan memaksa Iran menyerah dengan menerapkan sanksi-sanksi yang disebut melumpuhkan. Akan tetapi, mimpi ini tidak pernah menjadi kenyataan dan ia tidak akan pernah berhasil.
Analis terkemuka Amerika, Noam Chomsky dalam wawancara baru-baru ini mengatakan, "Trump bergerak ke arah yang merugikan kekuatan AS... saya tidak tahu apakah itu disengaja atau di luar kehendaknya, tetapi ia selalu menyita perhatian orang-orang dan media. Agar tidak kehilangan perhatian media, seseorang harus melakukan hal-hal gila dan untuk itu, Trump membuat pekerjaan gila setiap hari."
Trump dengan tingkah konyolnya menunjukkan bahwa dia tidak punya pemahaman yang realistis tentang rakyat Iran. Ketika Barack Obama menyembunyikan kepalan tangan besi di sarung tangan beludru dan menjanjikan perubahan, rakyat Iran juga tidak tersihir dengan slogan itu sehingga sekarang harus takut dengan ancaman dan retorika Trump. (RM)