Iran dan Turki Tolak Unilateralisme di Hubungan Internasional
Presiden Republik Islam Iran dan Turki menegaskan penentangan mereka atas sanksi ilegal dan unilateralisme di kawasan.
Seperti dilansir pusat penerangan kepresidenan Iran, Hassan Rouhani Sabtu (15/06) saat bertemu dengan sejawatnya dari Turki, Recep Tayyib Erdogan di sela-sela KTT Konferensi Interaksi dan Konfidensi Asia ke-5 (CICA) di Dushanbe, Tajikistan seraya menekankan bahwa Tehran berminat memperluas hubungan dengan Ankara di seluruh bidang, khususnya di sektor ekonomi mengatakan, upaya untuk memperkuat kerja sama dan mencapai target 30 miliar dolar di perdagangan tahunan kedua negara harus ditingkatkan.
Rouhani juga menilai penting kerja sama regional Iran dan Turki serta mengingatkan, kerja sama bilateral dan trioka dengan Rusia di isu-isu regional termasuk dialog Astana dan rekonstruksi Suriah sangat penting serta ditujukan untuk memperkokoh perdamaian dan stabilitas kawasan.
Sementara itu, Erdogan di pertemuan ini menekankan, hubungan Iran dan Turki semakin meningkat dan sangat penting untuk memperkuat hubungan ini di sektor bilateral dan regional.
"Ankara bertekad memperluas hubungannya dengan Tehran di seluruh sektor," tambah Erdogan.
KTT Konferensi Interaksi dan Konfidensi Asia ke-5 (CICA) di Dushanbe, Tajikistan berakhir dengan penekanan para pemimpin negara anggota terkait kerja sama regional lebih besar dan penerapan keamanan di Asia.
Iran, Kazakhstan, Afghanistan, Pakistan, Korea Selatan, Cina, Rusia, India, Palestina, Mongolia, Kyrgyzstan, Uzbekistan, Tajikistan, Republik Azerbaijan dan Thailand merupakan anggota CICA. (MF)