Ketika Komandan IRGC Menekankan Peningkatan Kredibilitas dan Kekuatan Republik Islam Iran
"Kredibilitas dan Kekuatan Republik Islam Iran sedang tumbuh dan berkembang."
Mayjen Hossein Salami, Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), pada hari Senin, 30 September, meresmikan upacara pembukaan Forum Nasional Komandan dan Pejabat Pasdaran ke-23 di Tehran menekankan masalah ini dan menambahkan, "Iran saat ini memiliki kekuatan ofensif dan kemampuan untuk melawan dan dapat menyerang musuh dalam ukuran apapun dengan intensitas dan presisi serta di area mana pun."
Pernyataan yang disampaikan Komandan IRGC itu sebenarnya merupakan respons peringatan terhadap arus regional dan trans-regional yang beranggapan dapat melanjutkan agresi mereka dengan ancaman dan membentuk koalisi, tidak akan menghadapi penentangan dan perlawanan, dimana gambaran ini benar-benar salah.
Tujuan dari strategi ofensif dan defensif Republik Islam Iran adalah untuk menjaga integritas wilayahnya, kepentingan nasional dan stabilitas regional. Pendekatan ini dapat dianalisis pada dua level regional dan trans-regional:
Di tingkat regional, doktrin pertahanan Iran disusun dengan memperhatikan kondisi regional dan ancaman luas yang tidak diprediksi.
Selain ancaman terhadap Iran yang memiliki dimensi regional juga memiliki konteks trans-regional. Republik Islam Iran selalu menekankan pendekatan pencegahan defensif untuk menghadapi ancaman-ancaman ini. Dalam hal ini, misalnya, pengumuman program pengiriman armada angkatan laut militer Iran ke Samudra Atlantik dan kehadirannya yang efektif dalam misi-misi internasional.
Abd al-Rasool Divsalar, akademisi dan analis masalah politik mengatakan, "Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa Pentagon juga percaya bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk perang dengan Iran. Karena perang akan berbiaya besar disertai dengan kerugian strategis yang tidak mampu merealisasikan tujuan politiknya. Bahkan, doktrin pertahanan Iran telah mampu membuat penilaian semacam itu di antara pasukan AS, dan dengan demikian telah menjadi pencegah agresi."
Meskipun Amerika Serikat yang menjadi ancaman berkelanjutan bagi kawasan dan Iran terus melakukan pergerakannya di berbagai bidang, tetapi perhitungan strategis militer menunjukkan bahwa selama Iran memiliki pasukan pencegah yang kuat dan siap menghadapi bahaya agresi musuh, maka konflik militer tidak akan terjadi.
Pernyataan yang dibuat oleh Mayjen Mohammad Bagheri, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, pada Forum Nasional Komandan dan Pejabat Pasdaran juga merujuk pada poin ini.
Kepala staf Angkatan Bersenjata Iran menyatakan, "Musuh telah menemukan bahwa Angkatan Bersenjata Iran memiliki kemampuan dari sisi kesiapan, kemauan dan keberanian untuk menghadapi mereka dan tidak ragu-ragu dalam membela cita-cita, tanah air dan rakyat mereka."
Terlepas dari semua kemampuan ini, Iran tidak punya keinginan bermusuhan, serakah, agresi, memicu perang dan ketidakamanan. Sebaliknya, Iran menginginkan kerja sama regional dan menyerukan keamanan "endogen" di wilayah tersebut. Republik Islam Iran tidak menganggap jaminan keamanan bergantung pada kekuatan di luar kawasan dan memiliki rencana dalam hal ini.
Dalam pidatonya baru-baru ini di Majelis Umum PBB, Presiden Iran Hassan Rouhani mempresentasikan inisiatif perdamaian regional yang disebut "Inisiatif Perdamaian Hormuz" atau "Koalisi Harapan".
Rencana tersebut menganggap keamanan di Teluk Persia bersifat endogen dan tidak mengecualikan negara mana pun dari koalisi internal karena percaya pada partisipasi kolektif semua negara di kawasan dalam membangun struktur dan ketertiban keamanan intra-regional. Iran telah berulang kali menyatakan bahwa keamanan bukanlah barang yang diimpor atau dibeli.
Sayid Abbas Mousavi, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran juga pada hari Senin, 30 September, dalam konferensi pers bersama para wartawan dalam dan luar negeri mengatakan, "Iran menginginkan perdamaian, keamanan, stabilitas dan kemajuan di kawasan dan masalah ini bukan dengan membelinya dari luar, tapi tercipta lewat kerja sama regional."