Standar Ganda AS dan Eropa dalam isu JCPOA
https://parstoday.ir/id/news/iran-i75436-standar_ganda_as_dan_eropa_dalam_isu_jcpoa
Keluarnya AS dari JCPOA pada Mei 2018, yang disusul pengenaan sanksi sepihak terhadap Iran, dan kelambanan pihak Eropa anggota Kelompok 4+1 dalam memenuhi kewajibannya terhadap JCPOA, memicu reaksi pengurangan bertahap dari Iran. Hingga kini, AS dan Eropa terus mengadopsi standar ganda dalam menanggapi langkah keempat Iran.
(last modified 2026-01-11T09:54:06+00:00 )
Nov 09, 2019 13:03 Asia/Jakarta
  • Langkah keempat pengurangan komitmen Ira terhadap JCPOA
    Langkah keempat pengurangan komitmen Ira terhadap JCPOA

Keluarnya AS dari JCPOA pada Mei 2018, yang disusul pengenaan sanksi sepihak terhadap Iran, dan kelambanan pihak Eropa anggota Kelompok 4+1 dalam memenuhi kewajibannya terhadap JCPOA, memicu reaksi pengurangan bertahap dari Iran. Hingga kini, AS dan Eropa terus mengadopsi standar ganda dalam menanggapi langkah keempat Iran.

Dalam hal ini, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyerukan peningkatan tekanan terhadap Iran pada hari Kamis, 7 November, sebagai tanggapan terhadap perkembangan nuklir terbaru di Iran, termasuk penerapan langkah keempat dalam mengurangi kewajiban nuklirnya dan penolakan kedatangan seorang inspektur IAEA.

Langkah keempat pengurangan komitmen Iran terhadap JCPOA dimulai Rabu pagi dengan pemasangan sentrifugal di fasilitas Fordow dan dimulainya pengayaan uranium  4,5 persen.

"Anggota komunitas internasional ... harus membayangkan apa yang akan dilakukan Iran setelah berhasil meraih senjata nuklir, dan Amerika Serikat tidak akan pernah membiarkannya terjadi, " ujar Pompeo.

Tuduhan tak berdasar tersebut muncul ketika Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sejauh ini telah mengkonfirmasi dalam 16 laporannya mengenai kepatuhan penuh Iran terhadap Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir. Bahkan anggota lain  kelompok 4 + 1 mementang  klaim AS dan rezim Zionis terhadap Iran tersebut.

 

Sementara itu, kebijakan AS tentang tekanan maksimum terhadap Iran hampir tidak berpengaruh bagi perubahan kebijakan nuklir, rudal, dan regional Iran. Menteri Luar Negeri AS mengklaim bahwa Iran mengejar proliferasi nuklir cepat melalui langkah-langkah sensitif, dengan mengatakan: "Sudah waktunya bagi semua negara untuk menentang pemerasan nuklir yang dilakukan Iran dan mengambil langkah-langkah serius untuk meningkatkan tekanannya." Meskipun langkah ini tidak efektif, tapi pemerintahan Trump terus memprovokasi negara-negara lain untuk bergabung dengan kebijakan "tekanan maksimum" yang gagal.

Sementara anggota kelompok 4+1, terutama Rusia dan Cina, telah berulang kali menekankan kegagalan kebijakan ini dan menyerukan supaya AS meninjau ulang pendekatannya tersebut.

Sementara Uni Eropa, dalam menanggapi langkah keempat pengurangan komitmen Iran, telah menyerukan penghentian proses tersebut dan mengajak Iran kembali mematuhi secara penuh kewajibannya. Uni Eropa menyerukan kebijakan negosiasi maksimum dengan Iran, bukan kebijakan tekanan maksimum yang dikibarkan  Washington.

Koran Financial Times dalam laporannya mengungkapkan bahwa para pejabat Eropa masih percaya tentang adanya peluang untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir dengan melanjutkan prakarsa Presiden Prancis Emmanuel Macron. Seorang pejabat senior Uni Eropa mengatakan kepada surat kabar itu bahwa Uni Eropa sedang mengejar strategi "diplomasi maksimum, bukan tekanan maksimum" terhadap Iran.

Terlepas dari peran konstruktif JCPOA yang tidak dapat disangkal dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional oleh kelompok 4 + 1, tapi anggota-anggota Eropa, Troika Eropa dan Uni Eropa, secara praktis tidak mengambil langkah-langkah efektif untuk memenuhi kewajibannya terhadap implementasi JCPOA .

Ketergantungan yang kuat dari pihak Eropa terhadap Amerika Serikat, telah menyebabkan beberapa upayanya, seperti penciptaan mekanisme khusus untuk interaksi keuangan dan bisnis dengan Iran, yang disebut INSTEX tidak bisa dijalankan.

Ironisnya, pihak Eropa terus menyampaikan tuntutan yang tidak masuk akal terhadap Tehran dan telah berulang kali menekankan perlunya Iran untuk terus memenuhi kewajiban terhadap JCPOA. Mereka tampaknya tidak bertanya kepada diri sendiri, mengapa tidak mengambil tindakan apapun dari pihak mereka untuk mengurangi dampak negatif dari sanksi AS terhadap Tehran, dari pada mendesak Iran untuk mematuhi kewajibannya secara sepihak.

Kini JCPOA berada  risiko yang lebih besar dari sebelumnya. Pasalnya, pihak Eropa gagal memenuhi kewajiban mereka, sementara Iran juga telah mengurangi komitmennya terhadap JCPOA dalam empat tahap karena kegagalan Eropa untuk melakukannya. Jika Eropa benar-benar ingin mempertahankan JCPOA, alih-alih berbicara, Eropa harus mengambil langkah-langkah efektif untuk mempertahankannya.(PH)