Iran Aktualita, 9 November 2019
-
Pawai memperingati Hari Nasional Melawan Arogansi Global
Perkembangan Iran selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya peringatan Hari Nasional Melawan Arogansi Global.
Isu lainnya adalah langkah keempat Iran dalam mengurangi komitmen JCPOA dan kemampuan rudal Iran.
Peringatan Hari Nasional Melawan Arogansi Global
Tanggal 13 Aban (4 November) di Iran diperingati sebagai Hari Nasional Melawan Arogansi Global.
Para peserta pawai hari 13 Aban mengekspresikan kemarahan dengan meneriakkan slogan-slogan "Mampus Amerika" dan "Mampus Israel", mengungkapkan kemarahan mereka atas arogansi dunia.
Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Ahad pekan lalu menjelang 13 Aban, Hari Nasional Perlawanan anti Arogansi Global, saat bertemu dengan ribuan pelajar dan mahasiswa Iran menjelaskan akan permusuhan Amerika terhadap Iran.
Pemimpin Besar Revolusi Islam dalam pidatonya menyinggung upaya AS yang berupaya mendistorsi sejarah, yang menghubungkan permusuhan Amerika dengan Iran dari pendudukan kedutaan AS di Tehran sebagai pemicunya. Rahbar mengatakan, "Amerika sejak awal ingin menunjukkan diri tampak ramah terhadap Iran, tapi di dalamnya memusuhi bangsa Iran. Permusuhan tersebut semakin nyata dengan kudeta 28 Mordad. Inilah awal permusuhan Amerika Serikat terhadap Iran."
Ayatullah Khamenei dalam pidatonya mengungkapkan sepak terjang Amerika selama empat puluh satu tahun lalu, termasuk ancaman, kudeta, sanksi, hasutan etnis, separatisme, kekacauan, blokade ekonomi, intervensi, dan berbagai metode lainnya seraya menekankan, "Selama ini, mereka menempuh segala cara untuk melawan institusi yang muncul dari revolusi, terutama prinsip Republik Islam."
Permusuhan Amerika dengan bangsa dan negara Iran yang lahir dari suara dan keinginan rakyat memiliki akar yang sangat dalam. Ayatullah Khamenei menegaskan sebuah fakta bahwa perilaku AS terhadap Iran tidak pernah berubah sejak dahulu hingga kini. Rahbar mengatakan, "Kejahatan yang sama, sifat serigala yang sama, upaya yang sama untuk menciptakan kediktatoran internasional dan dominasi ekstrem yang sama, masih ada di Amerika saat ini. Tentu saja lebih kejam dan tragis."
Ayatullah Khamenei menyebut "membendung jalan bagi infiltrasi politik Amerika dan dominasi Amerika di Iran" sebagai balasan paling penting Republik Islam Iran dalam menghadapi segala bentuk konspirasi para penguasa Washington dan pennentangan Republik Islam dengan Amerika Serikat memiliki logika yang kuat. Rahbar menambahkan, "Metode yang rasional ini akan menutup jalan bagi infiltrasi AS, sekaligus menunjukkan kebesaran sejati dan kewibawaan kepada dunia, dan sebaliknya meruntuhkan kebesaran rekaan pihak lawan kepada dunia."
Tidak diragukan lagi bahwa arogansi dunia dan di puncaknya adalah Amerika Serikat ingin menunjukkan kebencian, permusuhan dan kekalahannya lewat segala cara yang mungkin dan dengan ilusinya berusaha mengembalikan Iran ke kondisi sebelum revolusi, tetapi mereka tidak akan pernah mencapai tujuannya ini.
Sebagaimana ditegaskan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam, "Revolusi Islam lebih kuat dari semua ini, dan tekad baja Republik Islam tidak akan pernah mengizinkan AS kembali ke Iran dengan plot semacam itu."
The Washington Post menulis dalam sebuah analisisnya menyinggung kebijakan keliru pemerintah AS yang salah arah sejak kudeta 28 Mordad 1332 (Agustus 1953) dengan menulis,"... para pejabat tinggi Amerika kembali menunjukkan diri sebagai pelupa sejarah dan kini sedang memainkan game berbahaya yang bisa menyebabkan kekalahannya sendiri."
Langkah Keempat Iran dalam Mengurangi Komitmen JCPOA
Badan Energi Atom Iran (AEOI) hari Rabu pekan lalu mengambil langkah keempat dalam mengurangi komitmen JCPOA sebagai implementasi perintah Presiden Iran dan Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran.
Hassan Rouhani, Presiden Republik Islam Iran dengan mengumumkan pelaksanaan langkah keempat pengurangan komitmen JCPOA Iran mengatakan, "Semua pihak yang terlibat dalam JCPOA harus tahu bahwa Iran tidak bisa memegang komitmen kesepakatan nuklir ini secara sepihak."
Rouhani menekankan bahwa langkah keempat Iran juga sama dengan tiga langkah sebelumnya yang dapat dikembalikan pada kondisi semula dan ketika semua pihak JCPOA kembali pada komitmen mereka, Republik Islam Iran juga akan melaksanakan komitmennya.
Pengurangan komitmen Iran hingga sebelum pelaksanaan langkah keempat mencakup peningkatan pengayaan uranium dari 3,67 persen, penambahan cadangan uranium yang telah diperkaya dan penghentian segala komitmennya di bidang riset dan pengembangan di JCPOA.
Dalam langkah keempat, tankgi2.800 kg yang berisi sekitar 2.000 kg gas heksafluorida UF6 akan dipindahkan dari kompleks pengayaan Natanz ke kompleks pengayaan Fordow di bawah pengawasan inspektur IAEA.
Iran secara bertahap telah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi komitmennya dalam perjanjian JCPOA setiap dua bulan sejak Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan internasional ini pada 8 Mei 2018 dan juga setelah negara-negara Eropa yang telibat dalam perjanjian tersebut gagal memenuhi kepentingan Iran.
Mengacu pada butir 26 dan 36 dari perjanjian JCPOA, Iran telah mulai mengurangi komitmennya dan telah mengambil tiga langkah sejauh ini.
Behrouz Kamalvandi, Juru Bicara Badan Energi Atom Iran dalam hal ini mengumumkan bahwa sejak hari Sabtu, 9 November, Iran akan mencapai tahapan, dimana akan memperkaya uranium sekitar 4,5 persen.
Seyed Abbas Araghchi, Deputi Urusan Politik Menteri Luar Negeri Iran berbicara di Moskow pada hari Jumat, 8 November, di sela-sela Konferensi Internasional ke-5 tentang Non-Proliferasi Nuklir "Energi-Nuklir dan Pelucutan Senjata dan Non-Proliferasi" dalam sebuah wawancara dengan Kantor Berita Sputnik dalam menanggapi sebuah pertanyaan bila pihak Eropa tidak melaksanakan komitmen JCPOA, apa langkah Iran selanjutnya dalam pengayaan uranium, menjawab, "Republik Islam Iran akan membuat keputusan yang diperlukan pada waktunya."
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, yang menghadiri pertemuan ke 24 Dewan Ekonomi Menteri-menteri Luar Negeri ECO di Turki, saat tiba di Turki pada hari Jumat, 8 November, soal langkah keempat pengurangan komitmen JCPOA Republik Islam Iran mengatakan, "Tehran terus bernegosiasi sambil mengambil langkah-langkah dalam kerangka JCPOA serta dalam menanggapi pelanggaran komitmen oleh AS dan pelanggaran Eropa soal JCPOA."
Langkah keempat pengurangan JCPOA Republik Islam Iran telah diinformasikan lewat surat kepada Badan Energi Atom Internasional.
Kemampuan Rudal Republik Islam Iran
Laksamana Hossein Khanzadi Ahad (03/11) saat meninjau kampus jurusan teknik Shahid Abbaspour Universitas Shahid Beheshti Tehran seraya mengisyatkan prestasi angkatan ini mengatakan, dewasa ini di angkatan laut Iran, penembakan rudal dilakukan dari bawah permukaan dan di bawah laut menyebut teknologi pelontar rudal kapal selam akan diproduksi massal.
Seraya menjelaskan bahwa Iran memiliki armada terbesar di laut Kaspia setelah Rusia dan armada logistik terbesar di Timur Tengah, Khanzadi menambahkan, untuk memiliki kekuatan maritim diperlukan peradaban laut dan peradaban maritim Iran adalah rakyat yang tinggal di pinggir pantai.
Komandan AL Iran juga mengisyaratkan kedatangan delegasi angkatan laut Rusia dan Cina di Iran dan mengatakan, delegasi angkatan laut Rusia dan Cina berada di Tehran dan rencananya mereka akan membahas manuver bersama yang menjadi simbol kekuatan Republik Islam Iran.
Brigjen Amir Ali Hajizadeh,Komandan Angkatan Udara, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tentang kemampuan rudal Iran, mengatakan: "Hari ini, kami telah berhasil memproduksi rudal balistik pantai ke laut dan rudal buatan Iran dengan jarak jangkauan dari 200 km hingga 2000 km semua dengan presisi dan rudal produksi masa lalu semuanya dalam proses diubah menjadi rudal presisi."
Kemampuan ini dikembangkan pada tingkat strategis di bidang kedirgantaraan dan maritim, dan Republik Islam Iran memiliki kemampuan pencegahan dan agresi untuk menghadapi ancaman.
Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam, dalam pidatonya menjelang peringatan Hari Nasional Melawan Arogansi Global, merujuk pada upaya Amerika yang gagal untuk menghilangkan atau membatasi kemampuan pertahanan rudal Iran mengatakan, "Hari ini dengan pertolongan ilahi dan upaya kaum muda tanah air, kita memiliki rudal presisi dengan jangkauan 2.000 kilometer yang dapat mengenai target apa pun dengan kesalahan hanya satu meter."
Sebelumnya, Pemimpin Besar Revolusi Islam telah menyatakan dalam sambutannya bahwa tujuan kebijakan "kekuatan pencegah" Republik Islam adalah untuk mencegah gagasan serangan terhadap Iran oleh kekuatan arogan internasional. Rahbar menegaskan, "Musuh tahu bahwa jika mereka berpikir untuk menyerang Iran, akan menghadapi reaksi keras dan tegas. Karena mereka mungkin yang memulai, tetapi akhirnya tidak akan berada di tangan mereka."