Kunjungan Araghchi ke Cina; Pertemuan Konsultatif JCPOA dan Dialog Hubungan Strategis
https://parstoday.ir/id/news/iran-i76166-kunjungan_araghchi_ke_cina_pertemuan_konsultatif_jcpoa_dan_dialog_hubungan_strategis
Seyed Abbas Araghchi, Deputi Urusan Politik Menteri Luar Negeri Iran hari Sabtu, 30 November, tiba di Beijing atas undangan menteri luar negeri Cina.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Des 02, 2019 08:02 Asia/Jakarta

Seyed Abbas Araghchi, Deputi Urusan Politik Menteri Luar Negeri Iran hari Sabtu, 30 November, tiba di Beijing atas undangan menteri luar negeri Cina.

"Sejak awal negosiasi Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), telah ada pertemuan konsultatif yang terus berlangsung antara Iran, Cina dan Rusia dan kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari konsultasi ini," ungkap Araghchi menjelaskan tujuan lawatannya ke Cina.

Deputi Menlu Iran mengatakan bahwa karena kegagalan negara-negara yang tersisa untuk memenuhi komitmen mereka dalam JCPOA setelah AS menarik diri dari perjanjian ini, JCPOA tidak dalam kondisi yang baik.

"Iran tidak mendapat keuntungan dari JCPOA. Kedua negara sedang mendiskusikan dan membahas masalah ini pada pertemuan konsultatif Iran-Cina tentang JCPOA, yang diadakan hari ini [Minggu] di Beijing, dimana para pejabat dua negara melakukan dialog dan tukar pikiran," jelas Araghchi.

Pertemuan konsultatif ini diselenggarakan ketika Jumat depan dijadwalkan pertemuan komisi bersama JCPOA di tingkat wakil-wakil menteri sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi mengatakan tentang hak-hak Iran di JCPOA, "Hal legal Iran di JCPOA dan kepentingan ekonominya harus dipastikan."

Setelah satu tahun penarikan AS dari JCPOA, mengembalikan sanksi nuklir dan kegagalan janji-janji Eropa, Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran memperingatkan pihak-pihak yang ada dalam kesepakatan ini, dalam sebuah pernyataan pada bulan Mei bahwa jika mereka tidak mematuhi komitmen minyak dan perbankan mereka dalam 60 hari, sesuai dengan ketentuan JCPOA, Iran akan mengurangi kewajibannya berdasarkan kesepakatan ini.

Republik Islam Iran sejauh ini dalam empat langkahnya telah mengurangi empat komitmennya, termasuk melewati batasan 300 kilogram cadangan uranium yang diperkaya 3,67 persen, tidak menjual air berat dan surplus uranium yang telah diperkaya, meningkatkan tingkat pengayaan menjadi 4,5 persen dan mencabut pembatasan pada kegiatan penelitian dan pengembangan. Langkah keempat dalam mengurangi komitmen JCPOA Iran dimulai pada bulan November dengan menginjeksi gas ke sentrifugal-sentrifugal yang dipasang di fasilitas nuklir Fordow dan memperkaya uranium hingga 4,5 persen di fasilitas nuklir ini.

Meskipun konsultasi mengenai masalah ini adalah salah satu topik utama dari kunjungan Deputi Menlu Iran ke Beijing, namun, mengingat bahwa Iran dan Cina memiliki hubungan luas di semua bidang, masalah lain berada dalam agenda pembicaraan antara pejabat kedua negara.

Iran dan Cina, sebagai dua negara penting dan berpengaruh dalam sistem internasional, memiliki alasan dan tujuan bersama untuk memperluas kerja sama di berbagai bidang. Itulah sebabnya perjalanan ini juga akan membahas hubungan bilateral dan regional, di samping konsultasi mengenai JCPOA. Kerangka kerja makro hubungan ini digariskan oleh kunjungan Presiden Cina Xi Jinping ke Iran setelah implementasi JCPOA, dengan penyusunan dokumen strategis 25 tahun antara kedua negara.

Kepala Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri Iran, Kamal Kharazi mengenai tingkat hubungan dua negara mengatakan, "Ada kapasitas besar antara kedua negara yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Oleh karena itu, Cina dan Iran perlu meningkatkan tingkat kerja sama mereka dalam bentuk Deklarasi Kemitraan Strategis bersama yang disahkan oleh kedua presiden tahun 2016 di Tehran."

Kepala Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri Iran, Kamal Kharazi

Dari perspektif keamanan, Tehran dan Beijing juga telah mengembangkan kemitraan strategis sejalan dengan perkembangan kawasan. Dalam hal ini, Cina, sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, menekankan pentingnya peran Iran di Teluk Persia dan Selat Hormuz dalam menjaga stabilitas energi dan keamanan.

Indikator-indikator ini menunjukkan bahwa Iran dan Cina dalam hubungannya memiliki tujuan bersama di berbagai bidang. Dari perspektif ini, negosiasi Wakil Menteri Luar Negeri Iran di Beijing harus dievaluasi dalam kerangka hubungan strategis komprehensif kedua negara.