Laporan Khusus Pemilu Parlemen Iran (10)
-
Pemilu parlemen Iran periode ke-11
Dalam pemilihan Iran, ketika menyangkut peran arus politik, biasanya dua arus "Eslahat" dan "Usulgara" menjadi poros pembahasan pemilu.
Tetapi atas dasar dan prinsip apa pembagian-pembagian ini, dan apa perspektif mereka yang dikenal sebagai arus 'Usulgara dan Eslahat'?
Dalam beberapa tahun terakhir, kata 'Eslahat' (اصلاحات) telah menjadi salah satu istilah yang paling banyak dipakai dan digunakan oleh banyak orang yang berbeda dengan pandangan politik yang berbeda di berbagai tempat. Istilah yang setara dengan kata "Reformis" yang berarti seperangkat metode dan taktik yang diambil oleh pemerintah atau ideologi untuk mempertahankan struktur sistem sambil mereformasi kondisi pemerintah yang berlaku atas masyarakat dengan cara yang paling sedikit kerusakan dapat merealisasikan reformasi.
Jadi reformisme bukanlah fenomena baru yang dibuat oleh pikiran beberapa orang.
Sejatinya, setiap struktur pemerintahan dan sistem politik, setelah melewati beberapa periode kehidupannya, mungkin perlu direformasi dengan beberapa cara sambil mempertahankan totalitas struktur atau sistem itu, menghilangkan beberapa kelemahan dan ketidakefisienannya. Tentu saja, Republik Islam Iran tidak terkecuali.
Sebaliknya, ada arus yang dikenal dengan 'Usulgara' yang juga memiliki sudut pandangnya sendiri.
Kubu Usulgara yang juga dikenal dengan Konservatif dalam literatur politik dan pemilu Iran lebih mewakili pandangan yang meyakini pada serangkaian cita-cita dan keyakinan yang berakar pada kepercayaan rasional dan logis.
Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran tentang 'Usulgara' pada 2003 saat melakukan pertemuan dengan anggota Pen Society (Anjoman Ghalam) menjelaskan, "Sayangnya, beberapa orang salah dengan memandang Usulgara dengan kejumudan dan menganggap seorang Usulgara sebagai orang yang jumud! Padahal Usulgara tidak berarti kejumudan. Usulgara berarti menerima prinsip-prinsip rasional dan logis, berkomitmen padanya dan menerapkan perilakunya sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut, bagaikan parameter yang menuntun manusia di jalan.
Pemimpin Besar Revolusi Islam juga dalam pidatonya pada tanggal 9 Mei 2005 dalam menjelaskan pengertian dan substansi dua arus "Eslahtalab dan Usulgara" mengatakan:
"Saya menilai dua pembagian ini salah. Lawan dari Usulgara bukan Islahtalab, begitu juga lawan dari Islahtalab bukan Usulgara.
Kebalikan dari Usulgara adalah manusia yang tidak punya prinsip dan tidak peduli. Orang yang tidak percaya akan prinsip apapun. Orang yang mengikuti pemikiran apapun. Suatu hari kepentingannya atau opini publik perlu bergerak kuat melawan investasi dan kapitalisme, dan suatu hari kepentingannya atau ruang menuntut agar ia menjadi pendukung kuat kapitalisme, bahkan dalam bentuk ketergantungan dan bobrok!
Kebalikan dari Islahtalab bukan ifsad atau kerusakan.
Saya percaya pada Usulgara yang Reformis. Prinsip-prinsip kuat dan tegas yang muncul dari dasar epistemik Islam, dengan memodifikasi metode setiap hari dan dengan cara baru. Kita perlu memperbaiki metode. Ada kesalahan dan kekurangan dalam metode. Terkadang kita telah mencapai tahap, yang hari ini tidak lagi berhasil dan kita harus memulai tahapan yang lain. Mempertahankan prinsip dan memodifikasi metode adalah arti dari Islahtalab. Bagi Amerika, tentu saja, reformasi berarti anti terhadap Republik Islam.
Reza Khan datang dan melakukan reformasi. Mohammad Reza juga begitu, datang dan melakukan reformasi. Itulah yang saya katakan tentang reformasi Amerika. Reformasi seperti ini hanya bermanfaat bagi mereka sendirii. Bangsa Iran melakukan reformasi sesuai dengan prinsip-prinsipnya."
Dalam proses pemilu presiden periode kesebelas pada tahun 2013, istilah dan konsep baru ditambahkan ke dua arus ini, yang kemudian dikenal sebagai "Etedalgara" (Arus Moderat/Tengah) dan bahwa gerakan Etedalgara menjadi populer dalam literatur politik Iran.
Arus Moderat/Tengah adalah arus sosial-politik dengan strategi jelas pembangunan yang berada bersama Reformis dan Konservatif. Tren ini menjadi populer di masyarakat politik Iran setelah pemilihan Rouhani dengan slogan "Moderat".
Ayatullah Akbar Hashesmi Rafsanjani mengungkapkan pandangannya tentang garis Moderat:
"Tujuan moderat adalah realisme Islam. Dalam realisme Islam, baik Islam maupun cita-cita tidak dilupakan. Di jalur realisme Islam, aspirasi kami menjadi lebih Islami dan lebih realistis. Masyarakat Iran akan bergerak ke arah moderat seiring waktu. Garis keras akan selalu tetap di kedua sisi spektrum politik, tetapi jumlah mereka secara bertahap akan berkurang dari waktu ke waktu, sehingga sedikit orang yang melihat diri mereka hanya sendiri."
Sementara dalam wacana dan lingkungan politik Republik Islam Iran, Etedalgara dapat didefinisikan dan dijelaskan berdasarkan hubungan rasionalnya dengan dua diskursus Konservatif dan Reformis. Etedalgara adalah jalan tengah Reformis dan Konservatif.
Sekalipun demikian, setelah beberapa tahun "Arus Tengah" di arena politik Iran dan peran kubu Moderat dalam panggung pemilu, masih ada beberapa ketidakpastian tentang makna, konsep, konten, dan isi Etedalgara sebagai wacana politik, sehingga sebagian peneliti politik berbicara tentang kurangnya wacana independen sebagai Etedalgara.
Oleh karena itu, arus Etedalgara memiliki pendukung, penentang, dan pengritik di dua kubu mainstream politik Iran; Konservatif dan Reformis.