Iran Aktualita, 22 Februari 2020
-
Pemilu di Iran
Dinamika Iran selama beberapa terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya penyelenggaraan pemilu parlemen ke-11 dan Dewan Ahli Kepemimpinan ke-5 yang berlangsung hari Jumat,21 Februari 2020 dan penghitungan suara yang mulai dilakukan hari ini.
Isu lainnya mengenai peran Iran dalam pemberantasan narkoba di dunia, Iran menyebut keputusan FATF sebagai langkah politis, dan jumlah korban meninggal virus corona di Iran bertambah.
Rakyat Iran Antusias Datangi TPS Hari Jumat
Jutaan warga Republik Islam Iran yang memiliki hak untuk memilih berbondong-bondong datang ke Tempat-tempat Pemungutan Suara (TPS) di berbagai lokasi untuk memberikan suara mereka dalam pemilu parlemen ke-11 dan pemilu Dewan Ahli Kepemimpinan yang berlangsung pada hari Jumat, 21 Februari 2020.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei memberikan suaranya dalam kotak suara nomor 110 pada jam-jam awal pemungutan suara di TPS di Huseiniyah Imam Khomeini ra di Tehran.
Ketua Parlemen Republik Islam Iran Ali Larijani juga telah memberikan suaranya dalam pemilu parlemen yang dimulai pukul 08.00 waktu setempat itu.
Presiden Republik Islam Iran Hassan Rouhani memberikan suaranya dalam pemilu parlemen ke-11 ini di TPS yang berada di Kementerian Dalam Negeri.
TPS di 207 daerah pemilu di Iran telah dibuka pada pukul 08.00 waktu setempat. Setelah pemungutan suara selesai, penghitungan suara segera dimulai.
Rakyat Iran akan memilih anggota parlemen untuk empat tahun ke depan. Tugas utama parlemen yang juga dikenal sebagai Majelis Syura Islami ini meliputi memperkenalkan dan mengadopsi undang-undang dan mengawasi urusan negara.
Sekitar 58 juta orang memenuhi syarat untuk memilih, di mana tiga juta di antaranya menjadi pemilih pertama kali. Dari mereka yang memenuhi syarat untuk memberikan suara dalam pemilu ini, 50,13% adalah pria dan 49,87% adalah wanita.
Sebanyak 7.148 kandidat, termasuk puluhan warga Iran dari agama minoritas, mencalonkan diri dalam pemilu parlemen untuk memperebutkan 290 kursi.
Selain menyelenggarakan pemilu parlemen ke-11, Iran juga menggelar pemilu Dewan Ahli Kepemimpinan pada waktu yang sama.
Iran Mulai Proses Penghitungan Suara Pemilu
Proses pemungutan suara pemilu parlemen Iran dan pemilu sela Dewan Ahli Kepemimpinan (Majles-e Khobragan Rahbari) berakhir pada Jumat malam pukul 24.00 waktu Tehran dan langsung dilakukan penghitungan suara.
Seperti dilansir IRNA, pemilu parlemen Iran periode ke-11 dan pemilu sela Dewan Ahli Kepemimpinan periode ke-5 dimulai dari pukul 08.00 pagi hari Jumat (21/2/2020) di seluruh penjuru Iran.
Sebanyak 7.148 kandidat, termasuk puluhan warga Iran dari agama minoritas, mencalonkan diri dalam pemilu parlemen untuk memperebutkan 290 kursi. Pemilu sela Khobragan dilakukan di lima daerah pemilihan (Provinsi Tehran, Qom, Fars, Khorasan Utara, dan Khorasan Razavi) untuk memilih tujuh anggota.
Pemilu ini dijadwalkan berakhir pada pukul 18.00 waktu setempat, tapi harus diperpanjang sampai empat kali karena banyaknya jumlah pemilih
Iran, Benteng Kuat Cegah Peredaran Narkotika ke Eropa
Kepala Bidang Pemberantasan Narkotika di Kepolisian Iran, Brigadir Jenderal Massoud Zahedian mengatakan kami telah meningkatkan upaya pemberantasan narkotika dan Iran adalah benteng yang kokoh untuk mencegah peredaran narkotika ke benua Eropa.
Dia menyampaikan hal itu kepada wartawan di sela-sela pertemuan koordinasi divisi polisi untuk pemberantasan narkotika dari 57 negara dunia di Roma, Italia, Jumat (21/2/2020).
"Produksi narkotika di Afghanistan naik 35 persen setelah negara itu diduduki oleh pasukan Barat dan Amerika Serikat. Tingkat produksi narkotika di Afghanistan dari 185 ton naik menjadi lebih dari 6.400 ton," ungkap Brigjen Zahedian.
"Republik Islam Iran sebagai negara terdepan dalam memerangi narkotika di dunia, telah mempersembahkan hampir 4.000 syahid dan lebih dari 12.500 terluka dalam perang ini," ujarnya.
Brigjen Zahedian menjelaskan bahwa kerja sama negara-negara Barat dengan Iran telah berkurang akibat dampak sanksi dan embargo AS membuat Iran tidak bisa membeli peralatan yang dibutuhkan di bidang ini.
Menurutnya, sanksi Washington terhadap Tehran secara praktis telah membantu kelompok-kelompok teroris dan menghambat penumpasan mereka.
"Pengawasan parbatasan Iran yang panjang membutuhkan peralatan modern, tapi negara-negara Barat dan AS mencegah pengiriman peralatan itu ke Iran," tambahnya.
Dia berharap kebutuhan akan peralatan tersebut segera teratasi dengan mengandalkan kemampuan ilmiah dan teknologi di Republik Islam Iran.
Iran Sebut Keputusan FATF, Politis
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, menyebut keputusan memasukkan Iran dalam daftar Gugus Tugas Aksi Keuangan (FATF) sebagai langkah politis dan mengatakan, label pencucian uang dan pendanaan terorisme tidak pernah melekat dengan Republik Islam.
Seperti dikutip IRNA, Sayid Abbas Mousavi menuturkan Iran sudah lebih dari dua tahun melaksanakan semua aturan dan norma-norma yang berhubungan dengan pencucian uang dan pendanaan terorisme.
Gugus Tugas Aksi Keuangan (FATF) pada Jumat (21/2/2020) memasukkan Iran dalam daftar hitam dengan alasan yang disebut "tidak mematuhi norma-norma internasional melawan pendanaan terorisme."
Mousavi menyayangkan tindakan destruktif Amerika Serikat, Arab Saudi, dan rezim Zionis yang mencampuri aturan kerja lembaga-lembaga internasional.
"Mereka mencoba melakukan politisasi dengan menggunakan pengaruhnya dalam mekanisme internasional," ungkapnya.
Jubir Kemenlu Iran menjelaskan bahwa Tehran menjalin kerja sama maksimal dengan FATF untuk melawan pendanaan terorisme dan memiliki transparansi yang luar biasa.
"Arab Saudi sebagai bank sentral terorisme dan Israel sebagai pendukung utama organisasi-organisasi teroris di seluruh dunia, tidak pernah dilawan aksi destruktif mereka," ujarnya.
Sebelumnya, Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnasser Hemmati menyebut keputusan FATF sebagai aksi politis dan tidak teknis.
"Langkah seperti ini tidak akan menciptakan masalah bagi perdagangan internasional Iran," tegasnya.
Jumlah Korban Tewas di Iran Akibat Corona Bertambah Jadi 4 Orang
Jumlah total orang yang terinfeksi COVID (Korona Baru) di Iran mencapai 18 orang, dimana empat orang diantaranya meninggal.
Menurut laporan IRNA, Kianoush Jahanpour, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Iran menyatakan, menurut hasil tes terbaru, 13 kasus baru COVID-19 (virus corona) telah dikonfirmasi hingga saat ini (Jumat, 21/02/2020).
"Dua pasien baru juga meninggal karena virus," tambah Jahanpour.
Menurut Kementerian Kesehatan Iran Kamis kemarin, lima orang dipastikan memiliki virus corona baru, di mana dua meninggal karena usia tua dan kekurangan kekebalan tubuh.
Virus corona, yang menyebar dari Wuhan, Cina, kini telah menyebar ke lebih dari 25 negara lain, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Australia, Thailand, Korea Selatan, Jepang, Kanada, Perancis, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Menurut statistik terbaru, lebih dari 76.000 orang telah terinfeksi virus di Cina dan setidaknya 2.000 orang telah meninggal.
Komisi Kesehatan Nasional Cina mengatakan lebih dari 18.000 orang telah dirawat sejauh ini.(PH)