Iran Aktualita, 25 April 2020
-
Persiapan peluncuran satelit Noor
Dinamika Iran selama beberapa terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai diplomasi dan konsultasi Iran untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas di kawasan, ketika kawasan dan dunia sedang memerangi penyebaran virus Corona.
Isu lainnya mengenai keberhasilan Iran mengirim satelit militer pertama ke orbit.
Diplomasi dan Konsultasi Iran untuk Menciptakan Perdamaian dan Stabilitas di Kawasan
Krisis Suriah
Diplomasi dan konsultasi Iran untuk membawa perdamaian dan stabilitas di kawasan tidak berhenti sekalipun kawasan dan dunia berjuang dengan penyebaran virus corona.
Dalam hal ini, para menteri luar negeri dari negara-negara penjamin proses Astana (Iran, Turki dan Rusia) pada hari Rabu pekan lalu membahas perkembangan terbaru di Suriah dan kawasan.
Selama pertemuan, yang diadakan lewat telekonferensi, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Covusoglu dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov melakukan penjajakan dan pertukaran informasi tentang perkembangan terbaru, termasuk situasi terkini di Idlib, Komite Konstitusi dan menyerukan pencabutan sanksi sepihak, khususnya, terutama mengingat penyebaran coronavirus, situasi kemanusiaan dan kembalinya pengungsi.
Pencapaian paling penting dari proses perundingan Astana adalah lokalisasi solusi krisis Suriah. Dalam konteks ini, tiga pendekatan penting sedang diupayakan:
Pertama, mempertahankan regionalisme berdasarkan langkah-langkah politik dan keamanan bersama.
Kedua, menjaga integritas teritorial Suriah.
Ketiga, Keputusan tersebut didasarkan pada pendapat dan suara rakyat Suriah.
Pembahasan sekarang dipusatkan pada penyelesaian politik krisis Suriah dan pemisahan teroris dari oposisi, dan kelanjutan dari perang melawan terorisme, yang telah disepakati dan ditekankan oleh ketiga negara.
Dalam konteks ini, menjaga independensi, kedaulatan nasional dan integritas wilayah Suriah serta kebutuhan untuk memperluas kedaulatan pemerintah Suriah atas integritas wilayah negara ini adalah prinsip yang tidak dapat diganggu gugat. Menekankan bahwa dalam dialog tripartit ini, merujuk pada perkembangan baru-baru ini di Idlib, Menteri Luar Negeri Iran menekankan perlunya memperluas kedaulatan pemerintah Suriah atas integritas teritorial negara itu dan kelanjutan dari perang melawan terorisme.
Sekarang setelah proses Astana berlanjut, Suriah telah memasuki fase politik untuk menyelesaikan krisis dari tahap perang dan konflik keamanan yang meluas, dan bergerak ke arah yang akan mengarah pada kondisi yang lebih baik. Poin penting dalam situasi sensitif saat ini adalah kelanjutan dari pembicaraan ini sebagai peluang penting untuk memperkuat keamanan di kawasan. Oleh karena itu, kementerian luar negeri ketiga negara menekankan perlunya konsultasi dan koordinasi lanjutan di tingkat tertinggi antara ketiga negara, menjamin proses Astana sebagai proses yang paling penting dan efektif untuk menyelesaikan krisis Suriah.
Krisis Afghanistan
Kementerian Luar Negeri Iran juga mengadakan putaran baru perundingan dan pembicaraan dengan para pejabat Afghanistan pekan lalu dalam upaya untuk membantu pembentukan pemerintahan yang inklusif di Afghanistan.
Seyed Rasoul Mousavi, Asisten Menteri dan Direktur Jendral Asia Barat Kementerian Luar Negeri Iran melakukan kunjungan ke Kabul, ibukota Afghanistan disertai Mohammad Ebrahim Taherian, Asisten dan Wakil Khusus Menteri Luar Negeri Iran untuk Afghanistan.
Mohammad Ebrahim Taherian, Wakil Khusus Menteri Luar Negeri Iran untuk Afghanistan, selama kunjungannya ke Kabul melakukan pertemuan dan pembicaraan dengan Mohammad Ashraf Ghani, Abdullah Abdullah, Hamid Karzai, mantan Presiden Afghanistan, Mohammad Hanif Atmar, Pejabat Menteri Luar Negeri Afghanistan dan Hamdollah Moheb, Penasihat Keamanan Nasional Afghanistan.
Taherian juga bertemu dengan Ingrid Hayden, Wakil Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Afghanistan (UNAMA), dan membahas situasi saat ini di Afghanistan serta menekankan perlunya memperkuat peran PBB di Afghanistan.
Afghanistan sekarang dalam situasi yang sulit dan rumit. Di satu sisi, negosiasi AS dengan Taliban telah membayangi perkembangan politik negara itu, dan di sisi lain, konsekuensi dari pemilihan presiden Afghanistan telah menjadi tantangan politik di negara itu.
Perang yang berkelanjutan, meningkatnya pengungsi, rasa tidak aman, kelaparan dan ketidakstabilan politik di Afghanistan adalah beberapa masalah yang telah membayangi Afghanistan, dan prospek untuk mencapai perdamaian abadi di Afghanistan tampaknya akan menghadapi lebih banyak tantangan.
International Crisis Group mengatakan dalam laporan terbarunya bahwa Afghanistan adalah di antara 10 negara tempat perang akan berlanjut pada 2020.
Dalam situasi seperti itu, jika upaya politik di dalam negeri gagal menyelesaikan perbedaan-perbedaan ini, akan ada alasan untuk campur tangan asing dan penyebaran rasa tidak aman di Afghanistan, dan gelombang migrasi baru akan dimulai.
Asia Barat telah menjadi tempat intervensi AS selama lebih dari satu dekade. Amerika Serikat telah mencoba untuk mengubah konstelasi politik dan keamanan di kawasan dengan menciptakan disain dan rencana separatis di wilayah tersebut, dengan menciptakan kelompok-kelompok teroris seperti al-Qaeda, dan dengan mendukung Daesh (ISIS) dan kelompok-kelompok teroris lainnya. Dengan demikian, Amerika Serikat dapat memaksakan dan menancapkan dominasinya di negara-negara di kawasan itu.
Republik Islam Iran berharap bahwa pembentukan pemerintah yang inklusif dengan partisipasi semua faksi dan kelompok politik di Afghanistan akan membuka jalan bagi dimulainya pembicaraan antar-Afghanistan dengan partisipasi semua kelompok politik di Afghanistan.
Kementerian Luar Negeri Iran mempertimbangkan solusi akhir untuk mencapai perdamaian berkelanjutan dalam pendekatan untuk membangun kepercayaan internal antara kelompok-kelompok Afghanistan dan dukungan PBB untuk upaya dan negosiasi dalam konteks ini, dan percaya bahwa PBB memiliki kapasitas untuk memfasilitasi negosiasi antar-Afghanistan, serta mengawasi dan memastikan implementasi dari perjanjian tersebut tercapai.
IRGC Sukses Meluncurkan Satelit Noor dengan Roket Qased
Satelit Noor diluncurkan pada Rabu pagi, 22 April 2020 dengan menggunakan roket peluncur tiga tahap Qased dari Gurun Markazi di Iran dan sukses mengorbit bumi pada ketinggian 425 kilometer.
Ini adalah sebuah kesuksesan yang sangat penting bagi Angkatan Udara IRGC di bidang antariksa dan menunjukkan bahwa berbagai sektor untuk pengembangan kekuatan dapat dicapai dengan berpijak pada kemampuan dalam negeri.
Kesuksesan IRGC di bidang militer-antariksa pada hari ulang tahunnya dan itu pun di tengah sanksi sepihak Amerika Serikat, kembali membuktikan bahwa tidak ada rintangan yang dapat menghalangi gerakan menuju puncak kemajuan.
Komandan IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Salami mengatakan peluncuran sukses satelit Noor telah meningkatkan aspek baru dari kekuatan pertahanan Republik Islam. Brigjen Salami menekankan bahwa semua komponen yang berbeda dari teknologi peluncuran satelit ini, termasuk peluncur dan satelit, bergantung pada pengetahuan lokal dan tanpa bergantung pada pihak asing. Menurutnya, sanksi bukan saja tidak menjadi penghalang dalam kemajuan Iran, justru berhasil membakar motor pendorong teknologi baru untuk menjadi kekuatan besar di tingkat regional dan cakrawala dekat untuk tingkat global.
Penempatan satelit multiguna ini di ruang angkasa, baik di bidang IT dan pertempuran intelijen, dapat menghasilkan nilai tambah strategis bagi Iran, serta di bidang perang intelijendapat menciptakan sarana penguat.
Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh, Komandan Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam, juga mengatakan bahwa satelit berbahan bakar padat adalah salah satu teknologi terbaru di dunia. Menurutnya, "Kemampuan ini adalah keunggulan Republik Islam Iran dalam beberapa tahun terakhir dan dalam waktu dekat, ia akan mengambil langkah selanjutnya dengan cepat.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memainkan peran utama dalam doktrin pertahanan berdasarkan pada kekuatan pencegahan dan respons keras terhadap para penyerang. Lembaga ini juga telah membuktikan peran strategisnya dalam menghadapi ancaman keamanan dan militer di luar geografi Iran.
Peran terpuji Sepah Pasdarandalam ujian besar pelayanan dalam perang melawan virus Corona dan bantuannya yang setia kepada orang-orang dan korban dari situasi saat ini, bersama dengan lembaga-lembaga lain, telah menunjukkan manifestasi tanggung jawab lain pada saat-saat kritis.
Lembaga ini sekarang sebagai organisasi yang kuat di bidang perang darat, laut, dan udara, sekarang memiliki kekuatan rudal canggih dan menggunakan teknik khusus dan pengetahuan militer yang paling canggih. Lembaga ini termasuk kekuatan strategis dalam melindungi keamanan, stabilitas, dan menolak para penjahat dan penyerang. IRGC juga telah berkali-kali membuktikan kemampuannya di medan perang baik perang keras maupun lunak.
Penggunaan teknologi antariksa untuk tujuan damai adalah bagian dari program pertahanan serta pengembangan ilmiah Republik Islam Iran dan tidak melanggar perjanjian internasional Iran untuk mengakses dan mengembangkan teknologi ini, yang didukung oleh upaya para ahli dan elit Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran Sayid Abbas Mousavi pada pekan lalu mengatakan, tidak ada resolusi yang melawan Iran meluncurkan satelit ke luar angkasa, dan klaim AS bahwa peluncuran ini melanggar Resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB tidak benar.
Program nuklir Iran juga sejalan dengan fatwa Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei bahwa produksi senjata nuklir adalah (hukumnya) haram, dan senjata nuklir tidak memiliki tempat dalam doktrin pertahanan Iran.
Resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB, yang memberikan dukungan hukum dan politik untuk perjanjian nuklir JCPOA (Rencana Aksi Bersama Komprehensif) juga tidak melarang Iran untuk mengejar aktivitas damai rudal.