Pembatasan Akses Vaksin Corona untuk Iran
-
ilustrasi: vaksin
Berlanjutnya sanksi menindas yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Iran menyebabkan negara ini dan negara-negara korban sanksi Amerika yang lain, kesulitan menyediakan vaksin Corona. Hal itu membuat organisasi hak asasi manusia dunia cemas.
Aliansi kelompok pembela HAM di Amerika menegaskan bahwa pemerintah Presiden Donald Trump harus menjamin supaya proses pembayaran Iran untuk membeli vaksin Corona tidak sampai ditutup.
Mereka mengumumkan, pembatasan yang diterapkan Amerika, memposisikan Iran dalam kondisi yang tidak setara dengan negara-negara lain dalam akses vaksin Corona.
Pandemi global Covid-19 membuat perhatian masyarakat dunia dan Organisasi Kesehatan Dunia, WHO terpusat pada kepastian ketersediaan akses obat, peralatan medis dan vaksin oleh seluruh negara.
Pada saat yang sama, Sekjen PBB Antonio Guterres menegaskan, pembuatan vaksin untuk masing-masing negara dan melupakan negara lain, adalah tindakan yang tidak bisa diterima, negara-negara maju harus berkerja lebih keras untuk mendukung negara lain.
Meskipun demikian, pemerintah Amerika justru meningkatkan sanksi terhadap sejumlah negara termasuk Iran, sehingga akses mereka ke peralatan medis dan vaksin menjadi sangat terbatas.
Presiden Dewan Ekonomi dan Sosial PBB, Munir Akram mengkhawatirkan langkah sepihak Amerika terhadap Iran dan beberapa negara lain, serta upaya Washington mempersulit mereka untuk mendapatkan vaksin Corona. Ia mengatakan, vaksin ini harus diperoleh oleh seluruh masyarakat dunia.
Hal ini terjadi padahal pemerintah Amerika selalu mengklaim bahwa obat-obatan dikecualikan dari paket sanksi Iran, tapi kenyataannya dengan adanya sanksi perbankan, Iran kesulitan membayarkan uang pembelian vaksin Corona karena berhadapan dengan pembatasan valuta asing, dan ketakutan perusahaan-perusahaan dunia untuk bertransaksi dengan Tehran.
Kondisi tersebut menyebabkan impor obat-obatan penyakit khusus dan vaksin influenza oleh Iran menghadapi masalah serius.
Sekretaris Komite Ilmiah Badan Nasional Penanggulangan Corona Iran, Dr. Mostafa Qanei mengatakan, sanksi-sanksi terhadap Iran dikendalikan dari Departemen Keuangan Amerika, dan menargetkan rakyat.
Ia menambahkan, misalnya dalam kasus vaksin influenza, kami menyaksikan targetnya adalah manusia, meski transaksi pembelian sudah dilakukan, dan kami sudah membayar, namun Amerika menghalangi vaksin tersebut sampai ke tangan rakyat Iran.
Para pejabat pemerintah Amerika selalu berusaha mengingkari kebijakan anti-kemanusiaannya yang dilakukan melalui sanksi berat dan tekanan demi meraih ambisinya di negara-negara dunia.
Akan tetapi kebijakan-kebijakan semacam ini, di bidang obat-obatan dan vaksin terutama di tengah wabah Virus Corona yang mengancam nyawa jutaan orang, membangkitkan protes masyarakat internasional, dan organisasi-organisasi HAM dunia.
Bahkan sejumlah anggota Kongres Amerika sendiri memprotes kebijakan Gedung Putih ini. Walaupun demikian, sepertinya pemerintah Amerika tidak akan berhenti melakukan kebijakan anti-kemanusiaan dengan menghalangi orang-orang sakit untuk mendapatkan obat dan peralatan medis, kecuali masyarakat dunia bangkit dan bersatu untuk melawan kebijakan ini. (HS)