Pesan Menlu Iran kepada Joe Biden
https://parstoday.ir/id/news/iran-i89866-pesan_menlu_iran_kepada_joe_biden
Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, melakukan kesalahan perhitungan terbesar dalam kebijakan luar negeri AS selama empat tahun terakhir.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Jan 23, 2021 18:01 Asia/Jakarta
  • Presiden Joe Biden (kiri) dan para pembantunya.
    Presiden Joe Biden (kiri) dan para pembantunya.

Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, melakukan kesalahan perhitungan terbesar dalam kebijakan luar negeri AS selama empat tahun terakhir.

Sejak memimpin Gedung Putih, Trump telah menjalankan kebijakan konfrontatif di kancah internasional termasuk terhadap Republik Islam Iran, mulai dari pengetatan sanksi hingga penerapan tekanan maksimum untuk mamaksa rakyat Iran angkat tangan, tetapi ia gagal mencapai tujuannya.

Upaya maksimal untuk menghancurkan perjanjian nuklir, penerapan tekanan ekonomi melalui sanksi, usaha menciptakan konsensus global dan mengembalikan sanksi Dewan Keamanan PBB terhadap Iran, termasuk di antara kebijakan AS yang gagal selama pemerintahan Trump. Dia tidak pernah mengira bahwa Iran mampu menahan tekanan AS dan sebenarnya ia telah membuat kesalahan perhitungan.

Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif dalam sebuah tweet pada Jumat (22/1/2021), menulis bahwa pemerintahan baru AS menghadapi sebuah pilihan besar. Pemerintahan Biden dapat melanjutkan kebijakan yang gagal di masa lalu dan terus melecehkan kerjasama dan hukum internasional, atau dapat menolak hipotesis yang gagal serta mengejar perdamaian.

Keputusan prematur dan kesalahan besar Trump dalam empat tahun terakhir, tidak hanya menuai kritik di tingkat global, tetapi juga sangat mencoreng citra Amerika Serikat di mata dunia.

Mohammad Javad Zarif.

Wakil Kepala Akademi Ilmu Pengetahuan Republik Tatarstan Rusia, Vadim Khomenko percaya bahwa keluarnya AS dari perjanjian nuklir Iran merupakan kesalahan strategis lain yang dilakukan Trump, di mana merugikan Amerika dan mendiskreditkan negaranya.

Keputusan Iran mengurangi komitmennya di bawah perjanjian nuklir, menunjukkan sebuah fakta kepada Washington bahwa Tehran tidak tinggal diam dalam menghadapi arogansi para petinggi Gedung Putih.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pidatonya pada 8 Januari lalu, mengatakan Republik Islam tidak akan tergesa-gesa mengembalikan AS ke perjanjian nuklir JCPOA, sebab pemulihan hak bangsa yang dirampas dan pencabutan sanksi adalah kewajiban AS dan Eropa. Jika sanksi dicabut, itu berarti AS akan kembali ke JCPOA.

“Negara-negara Barat harus segera mencabut sanksi terhadap bangsa Iran. Ketika pihak lain gagal untuk menghormati semua komitmennya, tidak ada alasan bagi Iran untuk menghormati semua komitmennya sendirian,” tegasnya.

Pada dasarnya, AS memusuhi Republik Islam karena negara ini tidak mau menerima dikte-dikte Paman Sam. Jadi, satu-satunya cara untuk mengakhiri permusuhan ini adalah dengan membuat musuh putus asa. Di sini, Iran dituntut kuat dalam melawan sikap arogan AS dan memperkuat daya tawar di hadapan negara tersebut.

“Pemerintahan Biden masih dapat menyelamatkan perjanjian nuklir, tetapi dengan catatan bahwa ia harus mencabut semua sanksi yang dijatuhkan, diterapkan kembali, atau diberi label baru oleh Trump selama ia berkuasa,” tegas menlu Iran dalam artikelnya di majalah Foreign Affairs, yang terbit pada Jumat kemarin. (RM)